Informasi

Masuk
Hikmah

APA YANG TERJADI PADA TUBUH SAAT BERPUASA?

ANTARA PERINTAH ILAHI, ADAPTASI BIOLOGIS, DAN TEMUAN SAINS MODERN

Ahmad Munir Al Mubarak · 17 Feb 2026 · Paradigma Profetik Edukasi

Pengantar

Setiap kali Ramadhan tiba, jutaan Muslim di seluruh dunia menahan makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam. Secara lahiriah, puasa tampak sebagai praktik sederhana: tidak makan, tidak minum, dan menahan diri. Namun di balik kesederhanaan itu, tubuh manusia menjalani serangkaian proses biologis yang teratur, sementara jiwa dilatih untuk mengelola dorongan dan emosi.
Puasa bukan sekadar ibadah spiritual yang berdiri terpisah dari realitas jasmani. Ia berlangsung di dalam tubuh manusia yang nyata dengan sistem metabolisme, hormon, dan ritme biologis yang terus bekerja. Karena itu, para ulama tidak pernah memandang puasa hanya sebagai “menahan lapar”, tetapi sebagai latihan menyeluruh bagi manusia.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa."
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah takwa—kesadaran yang membuat manusia mampu mengendalikan dirinya. Takwa tidak berhenti pada niat batin, tetapi tercermin dalam kemampuan mengatur kebiasaan, dorongan, dan respons terhadap kebutuhan jasmani.
Imam Ibnu Katsir R.A menjelaskan:
أَيْ: لِتَتَّقُوا اللَّهَ فِي أَدَاءِ فَرَائِضِهِ وَتَرْكِ مَحَارِمِهِ
Artinya: "Yakni: agar kalian bertakwa kepada Allah dalam menjalankan kewajiban-Nya dan meninggalkan larangan-Nya."
Oleh karena itu, puasa merupakan sarana pembinaan takwa yang berlangsung melalui pengalaman jasmani manusia, bukan ibadah yang terlepas dari realitas tubuhnya.”

Adaptasi Energi: Dari Glukosa ke Lemak

Ketika seseorang mulai berpuasa, tubuh tidak langsung mengalami kekurangan energi. Pada fase awal, tubuh menggunakan cadangan glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen. Setelah cadangan ini menipis, metabolisme beralih ke sumber energi lain, yaitu lemak, melalui proses lipolisis.
Pada tubuh yang sehat, mekanisme ini berlangsung aman dan terkontrol. Bahkan, peralihan sumber energi ini sering kali berkaitan dengan penurunan berat badan dan lemak tubuh. Tubuh seolah “diatur ulang” agar tidak bergantung pada asupan yang terus-menerus.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah R.A berkata:
وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ أَدْوَاءِ الرُّوحِ وَالْقَلْبِ وَالْبَدَنِ
Artinya: "Puasa adalah pelindung dari penyakit ruh, hati, dan badan."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa para ulama telah lama memahami puasa sebagai ibadah yang berdampak pada keseluruhan sistem manusia, termasuk tubuh fisik.
Temuan ini sejalan dengan kajian Maulida, Pratiwi, dan Qolbi (2023) yang menunjukkan bahwa puasa, baik ditinjau dari perspektif Islam maupun sains, berkontribusi terhadap penurunan berat badan dan perbaikan metabolisme pada individu dengan obesitas dan diabetes.

PENGARUH PUASA TERHADAP GULA DARAH DAN INSULIN

Selain memengaruhi sumber energi, puasa juga berdampak pada pengaturan gula darah. Dengan berkurangnya frekuensi dan jumlah asupan makanan, sensitivitas insulin pada sebagian orang dapat meningkat. Hal ini membantu menjaga kestabilan kadar glukosa dan menurunkan risiko gangguan metabolik.
Tinjauan literatur oleh Fatimah Azzahra dan Haq (2024) menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat memberikan manfaat metabolik pada penderita diabetes, terutama dalam membantu pengendalian kadar gula darah, selama dilakukan dengan pengaturan yang tepat.
Allah SWT berfirman pada QS. Al-A'raf [7]: 31:
وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ...
Artinya: "Dan makanlah dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."
Larangan berlebih-lebihan dalam ayat ini adalah prinsip dasar kesehatan dalam Islam. Puasa melatih manusia untuk keluar dari pola konsumsi berlebihan yang sering kali menjadi sumber kerusakan jasmani.
Imam Al-Qurthubi R.A dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menyebut puasa sebagai:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ وَسِتْرٌ مِنَ النَّار
Artinya: "Puasa adalah perisai dan penutup dari api neraka."
Perisai ini bekerja pada dua sisi: melindungi dari dosa dan melindungi manusia dari pola hidup yang merusak dirinya sendiri.

DETOKSIFIKASI ALAMI DAN AUTOFAGI

Ketika asupan makanan dibatasi dalam jangka waktu tertentu, tubuh mengaktifkan mekanisme pembersihan internal. Salah satu mekanisme penting adalah autofagi, yaitu proses daur ulang bagian sel yang rusak atau tidak lagi optimal.
Penelitian eksperimental oleh Dastghaib dkk. (2025) menunjukkan bahwa puasa Ramadhan selama 30 hari berkaitan dengan peningkatan aktivitas jalur autofagi serta perbaikan indikator kesehatan metabolik pada individu sehat. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa jeda makan berperan dalam proses peremajaan sel dan keseimbangan metabolisme.
Walaupun istilah autofagi adalah istilah modern, prinsipnya telah lama dipahami dalam hikmah syariat: memberi jeda agar terjadi perbaikan. Tubuh, seperti jiwa, memerlukan waktu hening untuk memulihkan diri.
Rasulullah SAW sendiri bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
Artinya: "Puasa adalah perisai." (H.R Bukhari & Muslim)
Makna utama hadis ini adalah perlindungan dari dosa. Namun secara reflektif, konsep perisai juga sejalan dengan fungsi protektif tubuh terhadap stres biologis dan peradangan.

PUASA DAN PENGENDALIAN DIRI: ASPEK PSIKOLOGIS

Puasa tidak hanya membentuk ketahanan fisik, tetapi juga melatih pengendalian diri. Menahan dorongan makan, emosi, dan reaksi spontan merupakan bentuk latihan selfregulation yang penting dalam kesehatan mental.
Imam Al-Ghazali R.A menjelaskan dalam Ihya’ Ulum ad-Din:
اعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ، وَصَوْمُ الْخُصُوصِ، وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ
Artinya: "Ketahuilah bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa orang kebanyakan (menahan makan dan minum), puasa orang khusus (menahan anggota tubuh dari dosa), dan puasa yang lebih khusus lagi (menahan hati dari selain Allah)."
Di sinilah puasa menjadi latihan menyeluruh: fisik, jiwa, dan kesadaran batin.
Menariknya, ketika seseorang menahan makan dan minum, tubuh tidak berhenti bekerja. Ia justru beradaptasi. Pada jam-jam awal, tubuh menggunakan cadangan gula yang tersimpan. Setelah itu, ia mulai beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi. Mekanisme ini adalah bagian dari sistem alami yang Allah ciptakan dalam tubuh manusia.
Kajian literatur oleh Isdianto dkk. (2025) menunjukkan bahwa puasa Ramadhan berkaitan dengan penurunan stres, kecemasan, serta peningkatan kesejahteraan psikologis ketika dijalani dengan kesadaran spiritual.

RITME TUBUH DAN HIKMAH SAHUR

Pengaturan waktu makan selama Ramadhan, terutama sahur, berkaitan erat dengan ritme biologis tubuh. Pola makan terbatas waktu membantu menyelaraskan metabolisme dengan siklus harian.
Rasulullah SAW bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur terdapat keberkahan." (H.R Bukhari & Muslim)
Sahur membantu menjaga kestabilan energi sepanjang hari. Tubuh manusia bekerja mengikuti pola harian yang teratur. Mengatur waktu makan sebelum fajar membantu menjaga keseimbangan selama berpuasa. Penelitian oleh Nurbaya dkk. (2025) menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dengan pengaturan waktu makan yang baik berkaitan dengan perbaikan parameter kesehatan pada kelompok dewasa aktif, termasuk tenaga pendidik.

PENUTUP

Jika disimpulkan, puasa adalah pembatasan yang menghadirkan penataan ulang. Tubuh menyesuaikan diri, memperbaiki keseimbangan energi, dan mengaktifkan mekanisme perlindungan alami. Jiwa dilatih untuk sabar, tenang, dan terkendali.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari R.A dalam Sabilal Muhtadin menjelaskan bahwa tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menghadirkan kesadaran dan adab kepada Allah. Puasa bukan hanya sah secara hukum, tetapi harus hidup dalam maknanya.
Ilmu pengetahuan modern mungkin baru menjelaskan sebagian dari hikmah tersebut. Namun bagi seorang mukmin, puasa telah cukup mulia karena ia adalah perintah Allah. Dan ketika hikmahnya mulai tampak dalam tubuh dan jiwa, semakin jelas bahwa syariat tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia ia justru menyempurnakannya.

Kutipan / Dalil

QURAN Q.S. Al-Baqarah [2]: 183
HADITH Al-Bukhari, M. bin I. (2001). Shahih al-Bukhari: Kitab ash-shaum, bab fadhl ashshaum (M. Z. bin Nashir al-Nashir, Ed.; Vol. 3, No. Hadis 1894). Dar Thauq alNajah.
HADITH Muslim, I. al-H. (2006). Shahih Muslim: Kitab ash-shaum, bab fadhlu al-shiyam (M. F. Abdul Baqi, Ed.; No. Hadis 1151). Dar Ihya al-Turath al-Arabi.
KITAB Al-Banjari, M. A. (1979). Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-Din. Percetakan Bina Usaha.
KITAB Al-Ghazali, I. (2011). Ihya’ Ulum ad-Din (S. A. al-Idrus, Ed.; Vol. 1). Dar alMinhaj.
KITAB Al-Qurthubi, S. (2006). Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an: Tafsir al-Qurthubi (A. alTurki, Ed.; Vol. 2). Muassasah al-Risalah.
KITAB Ibnu Katsir, I. (1999). Tafsir al-Qur’an al-Adzim (S. al-Salamah, Ed.; Vol. 1). Dar Tayyibah.
KITAB Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, M. (1998). Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad (S. alArna’uth & Q. al-Arna’uth, Eds.; Vol. 2). Muassasah al-Risalah.

Daftar Pustaka

  • Dastghaib, S., Siri, M., Rahmani-Kukia, N., Heydari, S. T., Pasalar, M., Zamani, M., Mokaram, P., & Bagheri-Lankarani, K. (2025). Effect of 30-day Ramadan fasting on autophagy pathway and metabolic health outcome in healthy individuals. Molecular Biology Research Communications, 14(2), 115–127. https://doi.org/10.22099/mbrc.2024.50105.1978
  • Fatimah Azzahra, & Haq, N. L. (2024). Manfaat puasa terhadap orang yang mengidap diabetes: Tinjauan literatur sistematis. Jurnal Religion and Health, 2(1), 12–25.
  • Isdianto, A., et al. (2025). Dampak psikospiritual puasa Ramadan terhadap stres, kecemasan, suasana hati, dan kesejahteraan psikologis: Kajian literatur tematik-naratif. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS), 3(1), 1–20. https://doi.org/10.62567/ijis.v1i2.944.
  • Maulida, K. L., Pratiwi, M. C., & Qolbi, N. S. (2023). Pengaruh puasa menurut perspektif Islam dan sains dalam menurunkan berat badan pada pasien obesitas dan diabetes. Journal of Creative Student Research (JCSR), 1(6), 53–61. https://doi.org/10.55606/jcsrpolitama.v1i6.2878
  • Nurbaya, S., et al. (2025). The impact of Ramadan fasting on health parameters among elementary school teachers in Medan. Endocrinologia, Metabolismo y Nutricion (EJKI), 5(2), 45–56. https://doi.org/10.23886/ejki.13.1001.27.

Dokumen Terkait

Download Artikel (PDF)

* Anda harus login untuk mengunduh file ini.