Manaqib Ulama
Manaqib K.H. Ahmad Hudhori (Guru Hudari): Pendidik yang Teguh di Jalan DakwahKelahiran dan Nasab MuliaK.H. Ahmad Hudhori, atau yang akrab disapa Guru Hudari, dilahirkan di Martapura pada 8 April 1937. Beliau merupakan putra dari pasangan Ali Tuah dan Husnah.Dari garis ibunda, Guru Hudari memiliki silsilah yang sangat mulia sebagai keturunan ke-6 dari ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan). Garis nasab beliau adalah:Husnah binti Syekh Abdullah Khatib bin Syekh Muhammad Shaleh bin Syekh Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.Masa Pendidikan: Memilih Jalan PesantrenDi masa kecilnya, Guru Hudari sempat mengenyam pendidikan di sekolah bentukan Belanda, yaitu Volksschool, selama tiga tahun. Seharusnya, beliau melanjutkan pendidikan formal ke sekolah Benteng.Namun, ketertarikan beliau pada ilmu agama lebih besar. Beliau memutuskan untuk meninggalkan jalur formal Belanda dan memilih masuk ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Pada saat itu, pesantren tersebut berada di bawah kepemimpinan ulama besar K.H. Kasyful Anwar Al-Banjari.Khidmat di Pondok Pesantren DarussalamSetelah menempuh pendidikan sebagai santri selama kurang lebih 10 tahun, Guru Hudari lulus pada tahun 1959. Berkat kecerdasan dan ketekunannya, beliau langsung dipercaya untuk mengabdi sebagai pengajar di almamaternya sendiri pada tingkat Tahdiri.Selama kurang lebih 18 tahun mengabdi di Darussalam, beliau juga memberikan andil besar dalam dunia dakwah di Martapura dan sekitarnya. Beliau rutin menggelar majelis taklim di kediaman pribadinya serta memimpin majelis di Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Kalampayan).Sifat Mulia dan Kedekatan dengan Abah Guru SekumpulGuru Hudhori dikenal sebagai ulama kharismatik Martapura yang memiliki hubungan sangat erat dengan Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani). Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat tawadu dan murah senyum kepada siapa saja.Kemanisan wajah dan keramahtamahan beliau meninggalkan kesan mendalam. Saking manisnya, Abah Guru Sekumpul memberikan julukan unik kepada beliau, yakni "Senyuman Seksi". Julukan ini menjadi bukti keakraban dan rasa cinta Guru Sekumpul kepada kepribadian beliau yang selalu menyejukkan hati.Lebih dari sekadar murid, Guru Hudhori adalah salah satu orang kepercayaan. Beliau mendapatkan izin langsung dari Abah Guru Sekumpul untuk menyusun naskah manaqib Guru Sekumpul—sebuah kehormatan besar yang beliau terima setelah Tuan Guru Irsyad Zein (Abu Daudi).WafatSetelah masa pengabdian yang panjang bagi umat, K.H. Ahmad Hudhori berpulang ke rahmatullah pada 23 Agustus 2014 (27 Syawal 1435 H). Beliau mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Kampung Melayu, Martapura. Beliau dimakamkan di Kubah Syekh Abdullah Khatib Tungkaran, Martapura.
Selengkapnya →
Manaqib Tuan Guru Abdurrasyid: Perintis Pembaruan Pendidikan Islam di Tanah BanjarKelahiran dan Masa MudaTuan Guru Abdurrasyid lahir pada tahun 1884/1885 M di Desa Pekapuran, Amuntai. Meskipun merupakan anak tunggal, beliau tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, rajin, dan cerdas—jauh dari kesan manja.Ketekunan beliau terlihat sejak dini; tanpa sepengetahuan ayahnya, beliau rajin belajar membaca Al-Qur'an dan berhasil mengkhatamkannya pada usia tujuh tahun. Hal ini menjadi kejutan sekaligus kebanggaan besar bagi sang ayah.Di masa mudanya, beliau menimba ilmu kepada sejumlah ulama di berbagai pengajian langgar dan rumah-rumah guru di Amuntai. Guru-guru beliau di antaranya adalah:Tuan Guru Umar Awang Padang (Kelua)Tuan Guru Ahmad (Sungai Banar)Tuan Guru Jaferi bin Umar (Teluk Betung, Alabio)Tuan Guru Abdurrahman (Pasungkan, Nagara)Beliau merupakan output dari sistem pengajian langgar Nagara yang sangat populer kala itu.Rihlah Ilmiah ke Mesir (1912)Pengaruh Tuan Guru Jaferi bin Umar sangat membekas dalam pemikiran beliau, termasuk dorongan untuk melanjutkan studi ke Mesir. Pada tahun 1912, di usia sekitar 28 tahun, Tuan Guru Abdurrasyid memutuskan berangkat ke Universitas Al-Azhar, Kairo.Keputusan ini tergolong berani dan tidak lazim pada masanya. Saat mayoritas pelajar Banjar memilih Haramayn (Mekkah dan Madinah) sebagai tempat belajar, beliau justru memilih Mesir yang sedang marak dengan ide-ide pembaruan dan gerakan modernisme. Demi cita-cita luhur tersebut, beliau rela meninggalkan istri dan anak di tanah air.Perjuangan di Mesir tidaklah mudah. Beliau berangkat bersama sahabatnya, H. Mansyur dari Johor. Karena saat itu belum ada komunitas pelajar asal Banjar di Mesir, mereka harus berjuang tanpa relasi sedaerah—berbeda dengan kondisi pelajar di Mekkah yang sudah terkoneksi dengan baik. Beliau menempuh studi selama 10 tahun dan berhasil memperoleh ijazah al-Syahadah al-‘Alamiyah li al-Ghuraba pada akhir tahun 1922 M.Kepulangan dan Kiprah PendidikanSetelah menunaikan ibadah haji, beliau kembali ke Amuntai dan mulai berdakwah. Perjalanan pengabdian beliau dimulai sebagai berikut:13 Oktober 1922: Membuka halaqah atau pengajian di rumah mertuanya di Pekapuran.Tahun 1924: Membangun langgar barangkap dengan meniru model pendidikan langgar Nagara.Pengembangan Modern: Sukses dengan model tradisional, beliau mulai merintis sekolah Islam modern yang dilengkapi meja, kursi, dan papan tulis.Arabische School: Karena minat masyarakat yang besar, beliau membangun gedung baru berbentuk huruf U dengan enam lokal kelas. Lembaga inilah yang kemudian dikenal sebagai Arabische School (cikal bakal Pesantren Rakha), dengan jenjang pendidikan dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah.Dalam mengelola sekolah ini, beliau dibantu oleh deretan ulama terkemuka, di antaranya:H. Nasir, H. Basri, H. Usman, H. Muslim, H. Saberan Malisi, H. Abdul Qadir Malisi, H. Tukacil, H. Ahmad Adenan (H. Awang), H.M. Subeli Kaderi, H. M. Arsyad Tangga Ulin, H. Ahmad Mansyur, H. Asya’ari Sulaiman, H. Amir, dan Tuan Guru H. Muh. Rawi.Tuan Guru Abdurrasyid sendiri bertindak sebagai Muallim Wahid (Guru Utama).Karya Tulis KitabParukunan Besar Melayu (masalah fiqih, ketauhidan dan ihsan/akhlak)Sirajul Wahhaj (kisah Isra' Mi'raj yang ditulis dalam bahasa Arab)Masa Akhir dan Warisan KeilmuanPada 22 Agustus 1931, kepemimpinan sekolah diserahkan kepada Tuan Guru Juhri Sulaiman. Beliau kemudian berpindah ke Kandangan untuk memimpin al-Madrasah al-Wathaniah, lalu ke Barabai untuk menghidupkan kembali Madrasah Diniyah Islamiyyah.Setelah tiga tahun berkelana di luar daerah, beliau kembali ke Amuntai dalam kondisi kesehatan yang menurun. Tuan Guru Abdurrasyid wafat pada 4 Februari 1934 dalam usia sekitar 50 tahun.Jejaring dan Pengaruh:Jaringan Horizontal: Beliau berhasil merangkul para ulama sezamannya untuk bersama-sama membangun institusi pendidikan.Jaringan Vertikal (Murid-Murid): Beliau mencetak ulama berpengaruh seperti Tuan Guru Abdul Wahab Sya’rani, Tuan Guru Ahmad Hasan, Tuan Guru Muhammad As’ad, hingga Tuan Guru Abdul Qadir Noor.Tuan Guru Abdurrasyid bukan sekadar alumni pertama Al-Azhar dari kalangan urang Banjar, melainkan seorang motivator ulung yang menginspirasi murid-muridnya untuk menimba ilmu hingga ke Mesir dan menjadi pelopor pembaruan di daerah masing-masing.
Selengkapnya →
Manaqib Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datuk Kalampayan)Kelahiran dan Nasab MuliaMaulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari Kamis dini hari, 15 Safar 1122 H, bertepatan dengan 19 Maret 1710 M. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah, keluarga muslim yang sangat taat.Dalam kitab Syajaratul Arsyadiyah karya Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari (Mufti Kerajaan Indragiri), disebutkan bahwa beliau memiliki garis keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.Nasab beliau: Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Sagaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama'ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja'far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu'minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.Masa Kecil dan Bakat di IstanaSejak kecil, Allah SWT telah menampakkan kelebihan pada diri beliau. Muhammad Arsyad kecil dikenal sangat patuh dan takzim kepada orang tua, serta jujur dalam pergaulan. Beliau juga dianugerahi kecerdasan luar biasa dan bakat seni, khususnya di bidang lukis dan khat (kaligrafi).Bakat inilah yang mempertemukannya dengan Sultan Tahmidullah. Saat berkunjung ke Lok Gabang, Sultan terpesona melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang saat itu baru berusia sekitar 7 tahun. Sultan kemudian meminta izin kepada orang tua beliau untuk mengasuh dan mendidik Muhammad Arsyad di istana seperti anak kandung sendiri.Kehidupan Pernikahan dan Rihlah IlmiahSetelah dewasa, beliau menikah dengan seorang perempuan salehah bernama Tuan Bajut. Ketika istrinya mengandung anak pertama (Fatimah), keinginan beliau untuk menuntut ilmu ke Tanah Suci Mekkah memuncak. Dengan keikhlasan luar biasa, Tuan Bajut merestui keberangkatan suaminya demi cita-cita mulia.Di Tanah Suci, beliau belajar selama kurang lebih 35 tahun kepada ulama-ulama besar, di antaranya:Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi (Fikih)Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani (Tasawuf/Thariqah)Syekh 'Athaillah bin Ahmad al-MishryBeliau menjalin persahabatan erat dengan Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis. Mereka berempat dikenal sebagai "Empat Serangkai dari Tanah Jawi".Kepulangan dan Peristiwa di BetawiSebelum kembali ke Banjar pada tahun 1186 H (1772 M), beliau sempat singgah di Betawi (Jakarta). Di sana, beliau melakukan pencapaian fenomenal dengan membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang, dan Masjid Pekojan. Sebagai tanda sejarah, di Masjid Jembatan Lima terukir prasasti bahwa arah kiblat masjid tersebut telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh beliau pada 4 Safar 1186 H.Dakwah dan Metode PengajaranSetibanya di Martapura, beliau disambut hangat oleh Sultan Tahmidullah II. Beliau dijuluki sebagai "Matahari Agama". Dalam berdakwah, beliau menggunakan tiga metode utama:Bil-Hal: Memberikan keteladanan melalui tingkah laku sehari-hari.Bil-Lisan: Mengadakan pengajian yang dapat diikuti oleh semua kalangan.Bil-Kitabah: Menulis kitab-kitab sebagai panduan umat.Karya-Karya MonumentalBuah tangan beliau yang paling masyhur adalah Kitab Sabilal Muhtadin, yang menjadi rujukan fikih hingga ke Malaysia, Brunei, dan Thailand Selatan. Karya lainnya meliputi:Kitab Ushuluddin (Tauhid)Tuhfatul Raghibin (Aqidah)Kitab Luqtatul Ajlan (Hukum Wanita)Kitab Fara'idh (Warisan)Kitab an-Nikah, dan lain-lain.Akhir HayatSetelah sekitar 40 tahun mengabdi di Kerajaan Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari wafat pada Selasa, 6 Syawal 1227 H (1812 M) di usia 105 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Kalampayan, sehingga hingga kini beliau masyhur disebut sebagai Datuk Kalampayan.
Selengkapnya →
Manaqib K.H. Muhammad Hanafie Gobit: Ulama Falak dan Pejuang Pendidikan KalimantanLatar Belakang dan SilsilahK.H. Muhammad Hanafie Gobit adalah ulama kharismatik asal Banjarmasin yang dikenal sebagai ahli falak, birokrat, dan tokoh pendidikan. Beliau lahir dari pasangan H. Abdurrahim Gobit (seorang guru di Kampung Bugis) dan Intan.Nama "Gobit" diambil dari nama kakek beliau dari pihak ayah yang berasal dari Suku Banjar asli. Keluarga besar beliau dikenal sebagai keluarga yang sangat mementingkan pendidikan dan ketaatan beragama.Masa Pendidikan: Sang Jenius dari BanjarKecerdasan beliau sudah nampak sejak kecil. Beliau menempuh pendidikan dasar di Inlandche School (sekolah Belanda) di Balikpapan. Selanjutnya, beliau kembali ke Banjarmasin untuk belajar di Madrasah Al-Ashriyyah. Menariknya, pendidikan yang seharusnya ditempuh dalam 5 tahun, berhasil beliau selesaikan hanya dalam waktu 2 tahun (1925-1927).Sembari sekolah formal, beliau juga menekuni "kaji duduk" kepada Tuan Guru Haji Said Midad di Kampung Sungai Jingah. Pada tahun 1931, di usia muda, beliau sudah aktif mendirikan organisasi pelajar Musyawaratuth Thalibin.Studi di Madrasah Ash-Sholatiyah, Mekkah:Pada tahun 1933, atas saran para gurunya, beliau berangkat ke Mekkah. Di Madrasah Ash-Sholatiyah, beliau kembali menunjukkan kejeniusannya:Menyelesaikan pendidikan 10 tahun hanya dalam waktu 6,5 tahun.Memperoleh nilai maksimal (10) untuk semua mata pelajaran (12 mata pelajaran dengan total nilai 120).Lulus dengan predikat Jayyid Mumtaz dan menduduki peringkat pertama pada jenjang Al-Qismul 'Ali.Kehidupan KeluargaSetibanya dari Mekkah pada tahun 1941, beliau dinikahkan dengan Hj. Asiah pada 9 Oktober 1942. Pasangan ini dikaruniai 12 orang putra dan putri yang meneruskan jejak pengabdian beliau di berbagai bidang.Pionir Pendidikan di Kalimantan SelatanPeran K.H. Muhammad Hanafie Gobit dalam dunia pendidikan sangatlah luas, melintasi zaman kolonial hingga kemerdekaan:Sekolah Menengah Tinggi (SMT): Pada 1946, beliau bersama tokoh lain mendirikan SMT, sekolah umum tingkat atas pertama di Kalsel.SMIP 1946: Beliau mempelopori berdirinya Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) yang memadukan 50% ilmu umum dan 50% ilmu agama.Al-Ma'had al-Islami (1952): Lembaga untuk meningkatkan kualitas metode mengajar bagi para guru di Banjarmasin.Pendidikan Tinggi: Beliau adalah tokoh kunci dalam "Badan Persiapan Sekolah Tinggi Islam Kalimantan" (1948) yang nantinya menjadi cikal bakal Fakultas Islamologi ULM dan kemudian bertransformasi menjadi IAIN Antasari (sekarang UIN Antasari). Beliau aktif mengajar sebagai dosen di lembaga tersebut.Kiprah Birokrasi dan OrganisasiBeliau adalah sosok ulama yang juga cakap dalam administrasi negara:Qadhi Besar: Menjabat sejak zaman Jepang hingga awal kemerdekaan (1942-1950).Departemen Agama: Beliau menerima mandat langsung dari pusat untuk menyusun kelengkapan Kantor Departemen Agama di Kalimantan dan menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kalimantan (1951-1963).MUI & DDII: Beliau merupakan Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat di era Buya Hamka dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kalsel yang pertama.Kontribusi Keagamaan dan Ilmu FalakDi masyarakat, beliau sangat dikenal melalui peran-peran berikut:Pemindahan Masjid Jami: Beliau adalah aktor utama pemindahan Masjid Jami Banjarmasin dari daerah Panglima Batur ke lokasinya yang sekarang di Surgi Mufti (1955) untuk menghindari ancaman longsor.Ahli Falak: Beliau adalah rujukan utama dalam ilmu falak (astronomi Islam) di Banjarmasin. Karya tulis beliau di bidang ini mencapai 84 halaman disertai 24 halaman tabel perhitungan.Modernisasi Dakwah: Beliau mengubah pembacaan ma'asyiral (saat salat Jumat) dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia agar jamaah paham, serta memelopori kuliah subuh di Masjid Noor.Wafatnya Sang UlamaSetelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan umat, K.H. Muhammad Hanafie Gobit berpulang ke rahmatullah pada 16 Ramadhan 1410 H (12 April 1990 M) pukul 05.20 WITA. Beliau dimakamkan di Alkah keluarga, di belakang Pesantren Hunafa, Banjarmasin.
Selengkapnya →
Manaqib Syekh Muhammad Kasyful Anwar: Sang Arsitek Pendidikan Darussalam MartapuraKelahiran dan Akar PendidikanSyekh Muhammad Kasyful Anwar dilahirkan di Kampung Melayu, Martapura, pada 4 Rajab 1304 H pukul 22.00 malam. Beliau merupakan putra dari pasangan Haji Ismail dan Hajjah Maryam, pasangan yang dikenal serasi dan bertakwa.Pendidikan awal beliau dimulai di lingkungan keluarga. Karena saat itu sekolah formal atau madrasah belum tersedia, beliau menimba ilmu kepada para ulama di kampung halaman, di antaranya:K.H. Ismail bin H. Ibrahim (Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari).Syekh Abdullah Khotib bin H. Muhammad Sholeh.Rihlah Ilmiah Pertama ke Tanah Suci (1313 H)Melihat kecerdasan sang cucu, kakek beliau (H. Muhammad Arsyad) dan nenek beliau (Hj. Siti Aisyah) tergerak untuk membawa seluruh keluarga ke Mekkah pada tahun 1313 H demi meneruskan pendidikan beliau.Di Mekkah, beliau sangat rajin menuntut ilmu. Namun, ujian berat datang berturut-turut:Tahun 1315 H: Ayahanda beliau, H. Ismail, wafat saat usia Syekh Kasyful Anwar baru 11 tahun.Tahun 1317 H: Ibunda beliau menyusul wafat dua tahun kemudian. Keduanya dimakamkan di Ma’la.Meski menjadi yatim piatu di usia muda, semangat beliau tidak surut. Beliau berguru kepada ulama-ulama besar di Masjidil Haram, seperti:Syekh Umar Hamdan Al-Mahrus (Muhaddist Al-Haramain)Syekh Sayyid Ahmad bin Abu Bakar Syatha (Putra penulis kitab I’anatuth Thalibin)Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki (Dijuluki "Sibawayhi" pada zamannya)Syekh Sayyid Muhammad Amin Al KutbiSyekh Muhammad Yahya Al YamaniSyekh Said bin Muhammad Al YamaniSyekh Sayyid Ahmad bin Hasan Al Atthas (penulis kitab Tadzikurnnas)Syekh Umar ba Junaid (Mufti Syafi'iyah)Syekh Muhammad Sholeh bin Muhammad ba fadhalSyekh Muhammad Ahyad Al BughuriKepulangan dan Kepemimpinan di DarussalamSetelah 17 tahun belajar, beliau kembali ke tanah air pada Rabiul Awwal 1330 H. Di usia 26 tahun, beliau menikah dengan Halimah binti Ja'far.Kiprah monumental beliau dimulai ketika memimpin Madrasah Darussalam periode ketiga (dimulai tahun 1922 M). Di tangan beliaulah sistem pendidikan Darussalam mengalami revolusi:Memperkenalkan sistem klasikal (jenjang kelas).Menyusun kurikulum yang terstruktur.Menyusun kitab-kitab pelajaran sendiri karena minimnya buku teks saat itu.Karya Tulis Beliau:Risalah Tauhid (Ilmu Ushuluddin)Risalah Fiqhiyyah (Masalah Fikih)Risalah Tajwidil Qur'anDurusut TashrifSirah Sayyidil Mursalin (Sejarah Nabi)Mendidik Kader UlamaPada tahun 1930 M, beliau sempat kembali ke Mekkah selama 3 tahun untuk mengajar sekaligus mendidik dua keponakan beliau yang kelak menjadi ulama besar, yaitu Syekh Anang Sya'rani Arif dan Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Tuan Guru Bangil).Kesuksesan beliau juga terlihat dari kader-kader yang meneruskan kepemimpinan Darussalam, seperti K.H. Abdul Qodir Hasan, K.H. Salim Ma'ruf, hingga K.H. Badruddin.Kepribadian dan Keteladanan HidupSecara fisik, Syekh Kasyful Anwar berperawakan sedang (sekitar 155 cm), berkulit sawo matang, dan memiliki suara yang berwibawa. Meski secara ekonomi beliau tergolong berkecukupan dari hasil berdagang emas dan intan serta hasil perkebunan karet, beliau memilih hidup sangat sederhana.Beliau memegang prinsip bahwa harta tidak boleh memperbudak manusia, melainkan harus menjadi alat untuk beramal di jalan Allah. Sikap qana'ah (merasa cukup) dan ikhlas selalu terpancar dalam keseharian beliau.WafatSyekh Muhammad Kasyful Anwar berpulang ke rahmatullah pada malam Senin, 18 Syawal 1359 H pukul 21.45, dalam usia 55 tahun. Beliau dimakamkan di Kampung Melayu, Martapura. Uniknya, tanggal wafat beliau sama dengan tanggal wafat Datuk Kalampayan, yakni pada bulan Syawal.
Selengkapnya →
Manaqib Habib Abu Bakar Alhabsy: Sang Wali Mastur Guru Para Ulama BanjarSosok Guru Besar yang TersembunyiHabib Abu Bakar Alhabsy dikenal sebagai seorang Wali Allah yang Mastur (tersembunyi). Meski beliau tidak suka menonjolkan diri, kemuliaan ilmu beliau terpancar dari deretan muridnya yang merupakan ulama-ulama besar di Kalimantan Selatan. Di antaranya adalah:K.H. Zaini Bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul)K.H. Badaruddin (Guru Ibad Martapura)K.H. Samman Mulia dan K.H. Samman Djalil (Martapura)Habib Umar (Guru Umar Janggut, Bati-Bati)K.H. Jahri (Muallim Haji Jahri, Haur Gading)K.H. Syukur (Muallim Syukur, Banjarmasin)Oleh para muridnya, beliau akrab dipanggil dengan sebutan Abah Habib Abu Bakar.Nasab dan Rihlah KeilmuanBeliau adalah putra dari Habib Salim Alhabsy, seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, yang nasabnya bersambung mulia hingga ke Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.Semasa muda, Habib Abu Bakar menimba ilmu di Pulau Jawa. Beliau belajar di Pondok Pesantren Al-Khairiyah, Surabaya, serta beberapa pondok pesantren lainnya. Guru-guru beliau yang masyhur di antaranya adalah Habib Abu Bakar Bilfagih (Darul Hadits Malang) dan Habib Muhammad Ba’bud (Lawang).Kiprah di Banjarmasin: Sang "Habib Dahlia"Sekitar tahun 1978, beliau kembali ke Kalimantan Selatan. Beliau pertama kali menetap di Jalan Dahlia II, Banjarmasin Barat. Karena menetap dan mengajar cukup lama di sana, masyarakat sekitar sering memanggil beliau dengan sebutan Habib Dahlia.Semasa hidupnya, beliau sangat terbuka menerima tamu dari kalangan mana pun. Beliau sering memberikan pencerahan agama maupun nasihat kehidupan. Namun, beliau tetap menjaga kesederhanaan dan menjauh dari kemewahan serta ketenaran. Selain mengajar, beliau juga pernah mengabdi sebagai khatib di Masjid Daruttaqwa Basirih (salah satu masjid tertua di Banjarmasin) serta mengabdi sebagai penghulu.Karamat Habib Abu Bakar AlhabsyKewalian beliau sering kali nampak melalui kejadian-kejadian di luar nalar (karamat) yang disaksikan langsung oleh para muridnya.Kisah Muallim Haji Jahri (Amuntai)Suatu ketika, Muallim Haji Jahri (pendiri Ponpes Raudlatul Muta'allimin Haur Gading) mendatangi beliau untuk meminta petunjuk masalah yang sedang dihadapinya. Belum sempat Muallim Jahri berbicara, Habib Abu Bakar seketika menyuruhnya membuka sebuah kitab. Ajaibnya, kitab tersebut langsung terbuka pada bab yang membahas solusi atas permasalahan yang hendak diutarakan Muallim Jahri. Beliau sudah mengetahui niat tamunya sebelum sepatah kata pun terucap.Kisah Muallim Syukur (Banjarmasin)Pernah seseorang bertanya masalah agama kepada Muallim Syukur, namun beliau menyarankan orang tersebut menemui Habib Abu Bakar. Setelah bertemu, Habib Abu Bakar menyuruh orang itu kembali ke Muallim Syukur dengan membawa secarik kertas. Ternyata, kertas itu berisi petunjuk letak kitab dan halaman spesifik di lemari Muallim Syukur yang membahas masalah tersebut. Padahal sebelumnya, Muallim Syukur sudah mencari berkali-kali di kitab yang sama namun tidak menemukannya. Muallim Syukur pun mengakui kealpaannya dan memohon ampun atas kekurang telitiannya di hadapan Habib Abu Bakar.Akhir HayatHabib Abu Bakar Alhabsy wafat pada usia yang cukup sepuh, antara 90 hingga 100 tahun. Beliau dimakamkan di Kampung Keramat Basirih, berdekatan dengan makam ulama besar lainnya, Habib Hamid bin Abbas Bahasyim (Habib Basirih). Hingga kini, makam beliau menjadi salah satu tujuan ziarah bagi masyarakat yang mengharap keberkahan dari sang Wali Mastur.
Selengkapnya →
Manaqib K.H. Syaifuddin Dzuhri: Abah Guru Banjar Indah yang Sejuk dan SantunKelahiran dan Nasab MuliaK.H. Syaifuddin Dzuhri lahir pada 20 Oktober 1952 di Dalam Pagar, Martapura. Beliau merupakan garis keturunan langsung dari ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampayan).Berdasarkan pencatatan Perkumpulan Zuriyat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, nasab beliau adalah:K.H. Syaifuddin Dzuhri bin K.H. Abdurrahman bin K.H. Ismail Khatib bin K.H. Ibrahim bin K.H. Sholeh bin K.H. Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.Beliau juga memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan tokoh-tokoh ulama besar lainnya, seperti almarhum Guru Irsyad Zein (Abu Daudi) dan bersepupu dengan almarhum Tuan Guru Anang Djazouly Seman Martapura. Oleh para jemaah dan pecintanya (muhibbin), beliau akrab disapa dengan panggilan penuh takzim: Abah Guru Banjar Indah.Kiprah Dakwah di Majelis Bani IsmailAbah Guru Banjar Indah dikenal sebagai sosok ulama kharismatik yang menjadi teladan bagi masyarakat, khususnya di Banjarmasin. Beliau adalah pimpinan Majelis Taklim Bani Ismail yang berlokasi di Banjar Indah, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Majelis ini telah berdiri kokoh sejak tahun 2009-2010 silam.Setiap pekan, beliau rutin mengisi tausiah dengan jadwal sebagai berikut:Kamis Malam: Khusus jemaah laki-laki.Sabtu Pagi: Khusus jemaah wanita.Metode Dakwah dan Rujukan Kitab KuningDalam menyampaikan pesan-pesan agama, Abah Guru Banjar Indah dikenal dengan gaya bicara yang sejuk dan santun. Beliau selalu merujuk pada kitab-kitab mu'tabarah yang menjadi pegangan ulama Ahlussunnah Waljamaah. Beberapa kitab yang rutin beliau bacakan antara lain:Minhajul 'Abidin (Kitab Tasawuf karya Imam Ghazali).Kifayatul Atqiya' wa Minhajul Ashfiya (Karya Sayyid Bakri Al-Makki).Sirajut Thalibin (Karya Syekh Ihsan bin Dahlan al-Jampesi).Al-Anwar al-Muhammadiyyah (Kitab sejarah dan manaqib Nabi Muhammad SAW).Murid dan Saksi Hidup Guru SekumpulBanyak jemaah merasakan bahwa gaya penyampaian beliau memiliki kemiripan dengan ulama kharismatik K.H. Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul). Hal ini tidaklah mengherankan, karena Abah Guru Banjar Indah merupakan salah satu murid senior yang telah berkhidmat dan menjadi saksi hidup perjuangan Guru Sekumpul sejak masa muda.Dalam dakwahnya, beliau sering menyisipkan hikayat atau kisah para ulama terdahulu beserta karomahnya. Beliau juga sering mewariskan amalan-amalan yang telah beliau praktikkan sendiri, sehingga pengajian beliau selalu dirindukan oleh ribuan jemaah setiap minggunya.Berpulang ke RahmatullahDunia Islam, khususnya di Kalimantan Selatan, kembali berduka. Pada hari yang mulia, 27 Ramadhan 1445 H atau bertepatan dengan 7 April 2024, Abah Guru Banjar Indah berpulang ke rahmatullah. Kita kehilangan sosok pewaris para Nabi yang secara konsisten berdakwah dengan kesejukan, kerendahan hati, dan kasih sayang kepada sesama umat.
Selengkapnya →
Manaqib K.H. Ahmad Zuhdiannor (Abah Haji): Ulama Rendah Hati Pelayan UmatProfil dan Silsilah KeluargaK.H. Ahmad Zuhdiannor lahir di Banjarmasin pada 10 Februari 1972. Beliau lahir dari keluarga ulama; ayahnya adalah K.H. Muhammad bin Jafri (pimpinan Ponpes Al-Falah) dan ibunya Hj. Zahidah binti K.H. Asli.Darah keulamaan mengalir kuat dari sang ayah yang merupakan sahabat dekat Guru Sekumpul, serta kakek beliau dari pihak ibu, K.H. Asli, seorang ulama terkemuka di Alabio.Perjalanan Menuntut IlmuPendidikan formal beliau ditempuh hingga tingkat SD. Selanjutnya, beliau mendedikasikan hidupnya untuk menuntut ilmu agama secara tradisional (kaji duduk):Ponpes Al-Falah: Beliau sempat belajar selama dua bulan namun harus berhenti karena faktor kesehatan.Alabio: Dibawah bimbingan kakek beliau, K.H. Asli, beliau mendalami Tajwid, Tashrif, Fikih, Tauhid, dan Tasawuf selama satu tahun.Bimbingan Ayahanda: Sepeninggal kakeknya, beliau dibimbing langsung oleh K.H. Muhammad untuk memperdalam Nahwu, Fikih, Tauhid, dan Tasawuf.K.H. Abdus Syukur (Teluk Tiram): Beliau mempelajari Ilmu Arudh, Ushul Fikih, dan Tasawuf.K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul): Beliau berguru secara intensif selama kurang lebih 7 tahun. Guru Sekumpul melihat kecerdasan beliau dan memprediksi bahwa kelak beliau akan menjadi ulama yang sangat alim.Khazanah Kitab yang DipelajariBerikut adalah beberapa kitab penting yang pernah beliau kaji selama masa menuntut ilmu:Tauhid : Syarh Hudhudi, Hasyiyah al-Dasuqiy, Matan Sanusiyyah, Kifayat al-‘AwamTasawuf : Bidayah al-Hidayah, Minhaj al-‘Abidin, Ihya’ Ulumiddin, Taqrib al-UshulFikih : Syarah Sittin, Hasyiyah Bajuri, I’anatut ThalibinNahwu : Matan al-Ajurrumiyyah, Mukhtashar Jiddan, Alfiyyah Ibnu MalikJadwal Majelis Taklim Abah HajiSetelah mengabdi di Ponpes Al-Falah selama dua tahun, beliau berkonsentrasi membuka majelis di Banjarmasin. Majelis beliau selalu dipadati ribuan hingga puluhan ribu jemaah:Kamis Malam: Langgar Darul Iman (Teluk Dalam) – Mengkaji kitab Ihya’ Ulumiddin.Jumat Malam: Masjid Sabilal Muhtadin – Mengkaji kitab Al-’Ilm al-Nibras.Sabtu Malam: Kediaman beliau (Sungai Jingah) – Mengkaji kitab Syarah Hikam dan Sifat Dua Puluh.Ahad Malam: Masjid Jami Sungai Jingah – Mengkaji kitab Nasha’ih al-Diniyyah dan Hidayah as-Salikin.Ahad Pagi (Khusus Wanita): Masjid Sabilal Muhtadin – Mengkaji kitab Sifat 20.Gaya Dakwah dan KarakterAbah Haji dikenal dengan gaya ceramah yang humoris, santun, dan menggunakan bahasa Banjar yang merakyat. Beliau sering menggunakan ilustrasi sederhana agar jemaah mudah memahami ilmu tasawuf yang dalam. Meskipun beliau ulama besar, beliau tidak pernah lepas dari identitas gurunya, Guru Sekumpul, yang sering beliau sebut dalam setiap pengajian.Pengabdian di Luar MimbarSelain di majelis, beliau aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi:Barito Putera: Menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat.PWNU Kalsel: Sebagai Mustasyar (2018-2023).Pemadam Kebakaran (BPK): Beliau bukan sekadar ketua organisasi BPK, namun sering turun langsung ke lokasi kebakaran untuk memadamkan api bersama anggota lainnya.Wafatnya Sang GuruUmat Islam berduka pada 2 Mei 2020 (9 Ramadhan 1441 H). Abah Haji menghembuskan napas terakhir di RS Medistra Jakarta pada usia 48 tahun karena sakit kanker paru-paru. Meskipun beliau telah tiada, warisan ilmu beliau tetap hidup melalui rekaman-rekaman pengajian di YouTube dan media sosial yang terus diputar oleh jutaan pecintanya.
Selengkapnya →
Manaqib Wali Katum (KH. Muhammad Ramli): Sang Wali Tersembunyi dari TabudaratProfil dan Makna NamaKH. Muhammad Ramli, atau yang dikenal dengan nama kecil Artum Ali, adalah seorang ulama dan waliyullah kharismatik dari Hulu Sungai Tengah. Beliau dikenal dengan gelar Wali Katum. Nama "Katum" diambil dari bahasa Arab yang berarti "Sembunyi," merujuk pada kepribadian beliau yang sangat tertutup dan tidak ingin menonjolkan diri di hadapan manusia.Kecintaan Luar Biasa pada Al-Qur'anSalah satu ciri khas beliau adalah kegemaran membawa Al-Qur'an ke mana pun beliau pergi. Setiap kali beliau berhenti atau beristirahat, beliau akan langsung membacanya.Kecintaan ini meninggalkan jejak fisik yang luar biasa; hingga akhir hayatnya, Al-Qur'an yang sering beliau baca tersebut tidak lagi berbentuk persegi. Sisi-sisinya habis terkikis lantaran seringnya disentuh dan dibaca, hingga bentuknya berubah menjadi lonjong. Ini menjadi bukti nyata betapa waktu beliau habis hanya untuk berinteraksi dengan kalam Allah.Kehidupan Zuhud dan Masa KhalwatWali Katum dikenal sebagai sosok yang sangat zuhud. Beliau menjalani masa khalwat (menyendiri untuk beribadah) dan uzlah selama kurang lebih 30 tahun. Selama masa itu, kehidupan ekonomi beliau sangatlah sederhana:Konsumsi: Beliau sekeluarga hanya mengonsumsi satu genggam beras per hari. Beliau akan menolak jika ada orang yang memberi lebih dari itu.Pakaian: Beliau hanya memiliki beberapa helai pakaian saja.Kediaman: Rumah beliau sangat sederhana, hanya berdinding daun rumbia dan berlantai pelepah rumbia.Karamah dan KemuliaanAllah SWT menganugerahkan beberapa karamah kepada beliau, di antaranya kemampuan mengetahui keberadaan barang yang hilang serta firasat yang tajam mengenai keadaan tamu yang berkunjung. Salah satu yang paling diingat jemaah adalah lampu duduk di rumah beliau yang minyaknya tidak pernah kering meski menyala terus-menerus dari malam hingga siang hari.Kisah Terompah: Tersingkapnya Kewalian BeliauKisah yang paling populer di masyarakat adalah saat seorang jemaah haji asal Hulu Sungai bertemu dengan seorang pria misterius di Mekkah. Pria itu berjalan berjingkat-jingkat (berinting-inting) di atas pasir panas tanpa alas kaki.Ketika ditanya, pria itu mengaku bernama Muhammad Ramli dari Desa Tabudarat. Karena kasihan, sang jemaah haji membelikan sepasang terompah (alas kaki) untuknya. Namun, setelah menerima terompah tersebut, pria itu menghilang seketika.Sepulangnya ke tanah air, jemaah haji tersebut mencari Muhammad Ramli di Desa Tabudarat. Penduduk desa mengatakan:Tahun ini tidak ada warga kami yang naik haji. Kalau orang bernama Muhammad Ramli memang ada, tapi beliau tidak ke mana-mana, beliau hanya berkhalwat di gubuk persawahan.Penasaran, jemaah haji itu mendatangi gubuk tersebut. Betapa terkejutnya beliau saat melihat bahwa Muhammad Ramli yang ada di gubuk itu adalah orang yang sama dengan yang ia temui di Mekkah. Terlebih lagi, terompah yang ia belikan di Mekkah terlihat tergantung di dinding rumah beliau. Sejak peristiwa itulah, masyarakat menyadari bahwa beliau adalah seorang wali, dan sejak itu beliau dijuluki "Wali Katum."WafatWali Katum wafat pada 24 Juni 1982 M atau bertepatan dengan 29 Sya’ban 1402 H dalam usia sekitar 70 tahun. Beliau meninggalkan teladan tentang ketulusan ibadah tanpa perlu pengakuan dari dunia.
Selengkapnya →
Manaqib Datu Lukman Hakim bin Mustafa: Ulama Pejuang dan Murid Terkasih Datu SapatMasa Kecil dan Asuhan Sang QadiDatu Lukman Hakim bin Mustafa dilahirkan di Tantaringan, Muara Harus, Kelua, Kabupaten Tabalong. Meski lahir dari keluarga sederhana, beliau dianugerahi kecerdasan luar biasa dan semangat belajar yang tinggi.Potensi besar ini memikat hati Tuan Guru H. Kurdi, seorang Qadi Ampukung asal Tatah Bangkal. Qadi H. Kurdi kemudian mengasuh dan mendidik Lukman kecil di kediamannya. Di bawah bimbingan seorang Qadi—jabatan tinggi urusan agama era Kesultanan Banjar yang menuntut penguasaan mendalam atas ilmu fikih dan hukum Islam—Datu Lukman tumbuh menjadi pemuda yang sangat alim.Menimba Ilmu kepada Datu Sapat (Riau)Setelah dirasa cukup memiliki dasar yang kuat, beliau dianjurkan berguru kepada ulama besar Syekh Abdurrahman Siddiq (Datu Sapat) di Parit Hidayat, Sapat, Tembilahan, Riau.Sebelum berangkat merantau, beliau menikah di Tantaringan. Di Sapat, beliau menjadi murid kesayangan yang mempelajari berbagai kitab karya Datu Sapat, seperti:Fathul 'Alim fi Tartibit Ta'lim (Ilmu Kalam)Risalah Fi Aqa'idil Iman (Ilmu Tauhid)Risalah 'Amal Ma'rifah (Tasawuf)Hubungan guru dan murid ini sangat erat hingga beliau sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Datu Sapat.15 Tahun Menuntut Ilmu di HaramainAtas rekomendasi Datu Sapat, Datu Lukman melanjutkan studi ke Mekkah dan Madinah (Haramain) selama 15 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, beliau sempat tiga kali pulang ke Sapat untuk mengunjungi keluarganya.Perjalanan ini menggambarkan kegigihan beliau; berangkat dengan satu anak, hingga akhirnya kembali dari Haramain dengan membawa istri dan sembilan orang anak.Pejuang, Petani, dan PendidikSetelah menamatkan studi dan mengabdi di Sapat, beliau membuka lahan perkebunan kelapa di daerah Enok, Tembilahan. Lahan tersebut beliau beri nama Parit H. Lukman (atau dikenal sebagai Parit Abah).Tak hanya berdakwah dan bertani, Datu Lukman juga dikenal sebagai pejuang yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda di Tembilahan.Kembali ke Tantaringan dan Pendirian MadrasahDi masa tuanya, beliau memutuskan kembali ke kampung halaman di Tantaringan, Kelua. Di sana, beliau melanjutkan khidmatnya dengan:Mendirikan Madrasah: Cikal bakal MTsN Tantaringan saat ini.Membuka Majelis Taklim: Mengajarkan ilmu Nahwu, Saraf, Fikih, Ushul Fikih, Ilmu Kalam, hingga Tasawuf kepada masyarakat luas.Beliau juga dikenal sangat peduli pada pendidikan cucu-cucunya. Atas saran Abah Guru Sekumpul (K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani), beliau mengirim salah satu cucunya (Susi) untuk belajar di Ponpes Ibnul Amin, Pamangkih. Hal ini menunjukkan keakraban beliau dengan Guru Sekumpul di masa tua.Warisan Amalan Malam AdhaSalah satu warisan beliau yang masih terjaga hingga kini adalah Amalan Malam Adha. Amalan ini beliau ijazahkan khusus kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal beliau (area Kubah beliau saat ini). Amalan tersebut dibaca setelah salat Isya hingga pukul 00.30 dini hari sebagai bentuk kedekatan hamba kepada Sang Pencipta.WafatDatu Lukman Hakim berpulang ke rahmatullah dalam usia yang sangat sepuh, yakni 135 tahun. Beliau meninggalkan warisan berupa ilmu, semangat perjuangan, dan institusi pendidikan yang hingga kini terus memberikan manfaat bagi umat.
Selengkapnya →