Manaqib Ulama
Pembacaan Manaqib KH. Ahmad Bakeri (Guru Bakeri) bin H. Imanuddin oleh Guru Muhammad Semman, Mesjid Ar Raudhah, 19 Rabiul Awal 1443 Hijriah._____________________________Beliau (KH. Ahmad Bakeri) lahir pada tanggal 20 Agustus 1958 di desa Manarap Bitin, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Beliau merupakan anak keempat dari enam bersaudara, dari pasangan H. Imanuddin dan Hj. Sapura.Ayah beliau ialah seorang yg senantiasa taat beribadah dan senantiasa menjaga wudhu.Beliau (Guru Bakeri) dikenal sebagai orang yg rajin menuntut ilmu, sedari kecilnya sudah nampak kecerdasan beliau khususnya dibidang pidato.Pendidikan dasar beliau tempuh di MI “Shalatiyah” Bitin, demikian juga untuk tingkatan MTs. Tahun 1977 beliau belajar di Ponpes Darussalam martapura. Di Martapura ini, beliau berguru dengan KH. Syukri Unus dan KH. Muhammad Zaini Ghani (Guru Sekumpul), dan beberapa ulama yang lain.Beliau ialah 'ulama besar di daerah kalimantan, setiap majlisnya dihadiri oleh ribuan jamaah dari segala kalangan masyarakat.Dalam berdakwah, beliau senantiasa menggunakan metode yg bersesuaian dengan keadaan zaman.Beliau berpegang teguh pada paham ahlussunnah wal jamaah.Beliau mendirikan sebuah pesantren pada tahun 1985 M, peletakan batu pertama ialah pada 1 Muharram 1405 H.Sejak usia kecilnya, beliau sangat berbakti dan memuliakan kedua ibu bapaknya, bahkan setiap tahun beliau mengadakan haul orang tuanya.Beliau pula senantiasa menghormati guru-gurunya, khususnya kepada Abah Guru Sekumpul.Beliau sangat perhatian dan kasih sayang pada dzurriyat Nabi, orang yg menuntut ilmu, faqir miskin, dan lainnya.Beliau sangat suka menolong orang lain, sangat suka menyenangkan orang lain.Beliau terbiasa mementingkan kepentingan umat, dibanding kepentingan pribadi.Diantara kebiasaan beliau dalam amaliah, beliau senantiasa mengamalkan sholawat dalail khairat sedari kecilnya.Beberapa pesan atau wasiat dari KH. Ahmad Bakrie:1. Amalkanlah untuk senantiasa menjaga wudhu, maka Allah yg kan menjaga dan menghindarkanmu dari bala musibah.2. Gunakanlah masa mudamu sebaiknya.3. Tanamkanlah niat yg benar dalam menuntut ilmu.4. Kamu harus siap pakai, tapi tidak perlu meminta dipakai.5. Tanamkanlah amanah pada diri, sehingga senantiasa ingat dan sadar diri.6. Bekalilah anak dengan ilmu agama.7. Amalkanlah membaca istighfar 1000x setiap hari, insyaAllah kan hidup dalam kecukupan.8. Amalkanlah setiap hari untuk membaca sholawat dalail khairat.9. Amalkanlah senantiasa berinfaq kepada faqir miskin.10. Ikhlaslah dalam berdakwah.11. Dakwah itu merangkul, bukan memukul.12. Kita semua ialah pelayan Rasulullah ﷺ, karena itu jangan pernah bosan membimbing umatnya.13. Kejarlah akhirat, niscaya dunia kan mengejarmu.14. Kalau ingin menghadiri undangan, makanlah terlebih dulu dirumah, agar tak mengharap makanan.15. Dimanapun berada, jadilah orang yg bermanfaat bagi orang lain.Motto beliau: "bercerminkan kitab, bertongkatkan pensil."Beliau (KH. Ahmad Bakeri) wafat pada hari Jum'at, 1 Februari 2013 atau bertepatan dengan tanggal 20 Rabi’ul Awal 1434 H.______________________________۞اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد۞Full video: https://youtu.be/2BxNrpxVJZg (Masjid Ar Raudhah Sungai Andai)Catatan pribadi RF.
Selengkapnya →
Utuh Amut atau Rahmat adalah anak dari Kapsan dan Galuh Muning. Beliau diperkirakan lahir pada tahun antara 1890 - 1900 Masehi (1308 - 1318 H) di Desa Sungai Durait, Kecamatan Babirik, Kab. Hulu Sungai Utara. Sebab kakak tertua Utuh Amut, Jaah, yang wafat tahun 1994 berumur 100 tahun lebih. Sedangkan Utuh Amut mempunyai adik 2 orang yang juga berusia panjang, yaitu Andar (wafat pada usia 80 tahun) dan Kai Ira (wafat dalam usia 75 tahun).Keadaan Utuh Amut keadaannya mirip dengan Muhammad Nur (Julak Hanor) di Desa Gadung Keramat, Rantau Kabupaten Tapin. Julak Hanor ini adalah anak dari Syekh Muhammad bin Syaikh Salman al-Farisi, keturunan dari Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.Utuh Amut pada masa kecil normal seperti anak-anak biasa, berpakaian normal, namun setelah mengalami kecelakaan, jatuh dari ayunan, beliau kemudian mengalami perubahan, yaitu tidak mau lagi berpakaian, hingga diberi gelar Utuh Amut atau orang yang bertelanjang.Dan sejak itulah, beliau juga suka berjalan kaki kemana saja beliau mau, siang maupun malam. Dalam menempuh perjalanan tersebut, beliau tidak mau membawa bekal dan diberi bekal. Pihak keluarga tidak mengetahui kemana saja dia akan berjalan dan kapan ia akan kembali. Kebiasaan berjalan-jalan ini dilakukannya hingga tahun 1972.Setelah lama berjalan, akhirnya keberadaan Utuh Amut diketahui oleh keluarga. Bermula ketika di Kelayan Banjarmasin, geger ditemukannya seseorang yang berpenampilan seperti Amut, tidak berpakaian, tetapi dengan izin Allah dapat menyembuhkan penyakit orang yang memeliharanya yaitu Ma Utuh. Diceritakan bahwa Ma Utuh ini menderita penyakit abuh (pembesaran perut), kesana kemari berobat tidak juga sembuh, tetapi atas saran seorang habib, ma utuh disarankan untuk memberi makan dan memelihara seseorang yang terlihat aneh dan menyimpang dari kebiasaan orang banyak.Dan orang yang ditemukan oleh Ma Utuh tersebut tidak lain adalah “Amut”. Maka begitu mendengar hal tersebut, keluarga yang ada di Babirik Amuntai pergi ke Banjarmasin untuk menjenguk dan memastikan apakah yang diributkan orang adalah Utuh Amut.Waktu itu, yang pergi adalah Jaah dan Idup cucunya. Jaah adalah saudara tertua dari Utuh Amut. Setelah sampai di Kelayan Banjarmasin, ternyata benar bahwa yang mereka nantikan adalah Utuh Amut yang sebenarnya. Maka dibawa pulanglah Utuh Amut ke rumahnya di Desa Sungai Durait Kecamatan Babirik yaitu sekitar awal tahun 1972.
Selengkapnya →
Datu Taniran, Ulama dan Penggerak Pendidikan Islam di KandanganH. Sa’duddin, yang juga dikenal dengan nama H. Muhammad Thaib atau Datu Taniran, merupakan seorang ulama yang berperan penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Taniran, Kandangan, Kalimantan Selatan.Kehadiran beliau di Taniran bermula dari permintaan masyarakat setempat kepada Mufti Muhammad As’ad. Masyarakat mengharapkan kehadiran seorang ulama yang dapat membimbing mereka dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Mufti Muhammad As’ad mengutus putranya, H. Sa’duddin, agar menetap dan berdakwah di Taniran.Membuka Pengajian di TaniranSetelah menetap di Taniran, Datu Taniran membuka sebuah kompleks pengajian di atas tanah perkebunan kelapa yang dihibahkan kepadanya. Dari tempat tersebut, beliau mengajarkan ilmu agama dan membimbing masyarakat hingga akhir hayatnya.Pengajian Datu Taniran tidak hanya diikuti oleh masyarakat sekitar. Para penuntut ilmu juga datang dari berbagai daerah, seperti Nagara, Amuntai, dan wilayah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengajian beliau menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang cukup dikenal pada masanya.Meskipun menetap di Taniran, Datu Taniran diduga juga pernah mengajar di Amuntai. Beliau diketahui pernah menikah di Lok Bangkai, Amuntai, dan sering melakukan perjalanan antara Taniran dan daerah tersebut.Murid-Murid Datu TaniranSalah seorang murid Datu Taniran yang terkenal adalah Tuan Guru H. Muhammad Thahir Nagara. Tuan Guru Muhammad Thahir kemudian menjadi guru bagi sejumlah ulama di Nagara dan daerah sekitarnya, di antaranya Tuan Guru H. Abdurrahman Syarif dan Tuan Qadhi H. Muhammad Sarasi Nagara.Selain Tuan Guru Muhammad Thahir, beberapa ulama lain yang tercatat pernah belajar kepada Datu Taniran adalah Tuan Guru H. Muhammad Yusuf Bamban Kandangan, H. Abdul Qadir, H. Muhammad Said, dan H. Abdul Ghani.Melalui para murid tersebut, ilmu dan perjuangan Datu Taniran terus berkembang di berbagai wilayah Kalimantan Selatan.WafatDatu Taniran menetap dan mengajar masyarakat di Taniran hingga wafat. Beliau meninggal dunia pada 5 Safar 1278 H, bertepatan dengan 12 Agustus 1861 M, dalam usia sekitar 81 tahun.Datu Taniran dikenang sebagai ulama yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan pembinaan masyarakat. Kehadiran beliau turut menjadikan Taniran sebagai salah satu tempat berkembangnya tradisi keilmuan Islam di kawasan Kandangan dan sekitarnya.
Selengkapnya →
Syekh Muhammad Syarwani Abdan, Ulama Banjar dan Pendiri Pesantren Datu KalampayanSyekh Muhammad Syarwani Abdan bin Muhammad Abdan merupakan salah seorang ulama Banjar yang dikenal luas dalam bidang tasawuf. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1334 H atau 1915 M di Kampung Melayu Ilir, Martapura, Kalimantan Selatan.Sejak kecil, Syekh Syarwani Abdan telah menunjukkan semangat yang kuat dalam menuntut ilmu agama. Pendidikan awalnya ditempuh di Martapura, terutama di kawasan Dalam Pagar yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dan tempat bermukimnya para keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.Di antara guru beliau di Martapura adalah Qadhi Muhammad Thaha, Ismail Khatib, dan pamannya sendiri, Syekh Muhammad Kasyful Anwar. Beliau juga pernah belajar kepada sejumlah ulama di Bangil, seperti KH Muhdor, KH Abu Hasan, KH Bajuri, dan KH Ahmad Jufri.Menuntut Ilmu di MakkahSyekh Muhammad Kasyful Anwar kemudian membawa Syekh Syarwani Abdan bersama Anang Sya’rani Arif ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Selama berada di Tanah Suci, beliau berguru kepada banyak ulama besar, di antaranya Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Alwi al-Maliki, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Abdullah Bukhari, Syekh Saifullah ad-Dagistani, Syekh Syafi’i Kedah, Syekh Ahyad al-Buguri, dan Syekh Ali bin Abdullah al-Banjari.Dalam bidang tasawuf, beliau banyak mengambil ilmu dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Syekh Syarwani Abdan dikenal sebagai salah seorang murid kesayangan beliau dan dipercaya menjadi khalifah untuk wilayah Jawi atau Nusantara.Beliau juga memperoleh ijazah beberapa tarekat. Ijazah Tarekat Naqsyabandiyah diperolehnya dari Syekh Umar Hamdan, Tarekat Sammaniyah dari Syekh Ali bin Abdullah al-Banjari, serta Tarekat Idrisiyah dari Syekh Syafi’i bin Shalih al-Qadiri.Walaupun lebih dikenal dalam bidang tasawuf, Syekh Syarwani Abdan juga menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti fikih, tafsir, hadis, dan ilmu tauhid.Mengajar di Martapura dan BangilSetelah bertahun-tahun belajar di Makkah, Syekh Syarwani Abdan kembali ke Martapura pada tahun 1941. Beliau memilih mengabdikan diri dalam bidang pendidikan dan menolak ketika ditawari jabatan sebagai Qadhi Martapura.Di Martapura, beliau mengajar di Madrasah Istiqamah Dalam Pagar. Sekitar lima tahun kemudian, pada tahun 1946, beliau bersama keluarganya berpindah ke Bangil, Jawa Timur.Pada awal menetap di Bangil, Syekh Syarwani Abdan tidak langsung membuka pengajian. Beliau merasa bahwa daerah tersebut telah memiliki banyak ulama sehingga tidak ingin menonjolkan kealimannya. Meskipun demikian, keluasan ilmu beliau akhirnya diketahui oleh para ulama setempat, termasuk KH Abdul Hamid atau Kyai Hamid Pasuruan.Dikisahkan, sejumlah kiai pernah datang untuk menguji keilmuan Syekh Syarwani Abdan dengan membawa beberapa persoalan agama. Sebelum pertanyaan mereka disampaikan, beliau telah menunjukkan jawaban dari kitab-kitab yang sedang terbuka di hadapannya. Para kiai tersebut pun meyakini keluasan ilmunya dan memohon agar beliau bersedia mengajar mereka.Setelah memperoleh izin dari Kyai Hamid Pasuruan, Syekh Syarwani Abdan mulai membuka pengajian di Bangil.Mendirikan Pesantren Datu KalampayanPada tahun 1970, Syekh Syarwani Abdan mendirikan sebuah pesantren yang diberi nama Pesantren Datu Kalampayan. Nama tersebut diambil dari gelar Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama besar yang dikenal sebagai Datu Kalampayan.Banyak ulama dan keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang belajar kepada beliau. Salah satu murid khusus dan utama beliau adalah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul. Dari Syekh Syarwani Abdan, Guru Sekumpul mengambil banyak ilmu, termasuk ijazah Tarekat Sammaniyah.Murid-murid Syekh Syarwani Abdan kemudian tersebar di Kalimantan, Jawa, dan Sumatra. Di antara mereka adalah Guru Muhammad Syukri Unus, KH Zaini Tarsyid, Guru Ayan Rantau, KH Ahmad Bakeri, Guru Danau, KH Abrar Dahlan, dan KH Muhammad Shafwan Zahri.Melalui para murid tersebut, ilmu dan pengaruh Syekh Syarwani Abdan terus berkembang di berbagai daerah, khususnya di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.Karya dan WafatSelain mengajar, Syekh Syarwani Abdan juga menulis sebuah kitab berjudul Adz-Dzakhiratuts Tsaminah li Ahlil Istiqamah, yang dikenal dalam bahasa Indonesia dengan judul Simpanan Berharga. Kitab tersebut membahas berbagai persoalan keagamaan, seperti talqin, tawasul, tahlil, serta karamah para wali.Setelah mengabdikan hidupnya untuk ilmu, pendidikan, dan dakwah, Syekh Muhammad Syarwani Abdan wafat pada 12 Safar 1410 H, bertepatan sekitar tanggal 11–12 September 1989 M. Beliau dimakamkan di Bangil, Jawa Timur.Perjuangan beliau dalam bidang pendidikan kemudian diteruskan oleh putranya, Muhammad Kasyful Anwar. Hingga saat ini, Syekh Muhammad Syarwani Abdan tetap dikenang sebagai ulama yang alim, rendah hati, dan memiliki peran besar dalam perkembangan keilmuan Islam, khususnya dalam bidang tasawuf di Nusantara.
Selengkapnya →
Habib Ali bin Abdul Qadir bin Husein al-Jufri dilahirkan di Surabaya 30 Agustus 1930 M atau 6 Rabiul Akhir 1349 H. Ayah beliau bernama Habib Abdul Qadir bin Husein Al Jufri dan Ibunya Syarifah Fathum bin Abdurahman Al-Idrus. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren "Noorussalam" Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beliau seorang Waliyullah yang tawadhu. Keseharian beliau pada masa muda adalah mengawal hewan-hewan ternak yang dikirim dari Flores, Nusa Tenggara Timur ke pulau-pulau di Indonesia. Dari pekerjaan tersebut, beliau dapat menginjakkan kaki ke Papua, ke Sulawesi, ke Sumatera, ke Medan, ke Singapura, dan lain-lain. Tapi beliau tidak (belum) pernah ke Kalimantan.Pada umur sekitar 28 – 29 tahun, beliau ziarah ke Boto Putih (maqam Habib Syech bin Ahmad bin Abdullah Bafagih) Surabaya bersama dengan orang tua dari Habib Bahasyim. Pada saat ziarah itulah tampak kuburnya bergoyang, yang membuat orang tua habib Bahasyim lari meninggalkan Habib Ali sendirian di dalam maqam. Selang berapa lama, terbukalah misteri bergoyangnya maqam tersebut, bahwa yang keluar adalah Habib Syech bin Ahmad Bafaqih yang menyuruh Habib Ali untuk pergi ke Borneo, kesuatu tempat yang belum pernah beliau datangi.Tapi sebelum itu, beliau (Habib Ali) pernah ke tempat Habib Husein Brani (Habib Husein bin Hadi al-Hamid Brani) Kulon Probolinggo, Jawa Timur, dimana Habib Husein berkata : “Ya Ali, kamu pergi ke Borneo, kau akan kawin dengan anaknya Wulaiti”. Tapi waktu itu beliau belum pergi ke Kalimantan, baru setelah ziarah ke Boto Putih mendapat perintah dari Habib Syech Boto Putih, maka beliaupun pergi ke Kalimantan.Tiga bulan setelah kepergian beliau ke Kalimantan, tahun 1959, baru datang surat kepada keluarga di Surabaya, yang menceritakan bahwasanya beliau (Habib Ali) sudah ada di Borneo, Kalimantan tepatnya di Martapura. Isi surat minta dikirimi silsilah keluarga (fam) karena akan dikawinkan dengan anaknya wulaiti (sebagaimana ucapan habib Husein Brani).Tahun 1962 Habib Ali bin Abdul Qadir al-Jufri mulai berdakwah ke Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beliau bertemu dengan Guru Astani yang pernah menimba ilmu dari KH. Gusti Imansyah (Guru Murad) pendidik di Ponpes Darussalam Martapura. Pada awalnya beliau Habib Ali membuka pengajian secara halaqah di rumah karena belum ada gedung sekolah, dimana santri yang jauh dapat menumpang tidur dan makan secara gratis dirumah beliau.Kemudian tahun 1988 atas prakarsa Habib Ali bin Abdul Qadir al-Jufri dan KH. Zainuddin Astani (Guru Tuha) dimulailah berdirinya Pondok Pesantren “Noorussalam” yang penamaannya dinisbahkan kepada nama istri beliau, Syarifah Noor binti Zainal al-Habsyi, sehingga menjadi “Noorussalam”.Diantara murid-murid beliau yang masyhur adalah Guru Mukti, Guru Fajeri dan lain-lain. Beliau wafat 31 Januari 2009 M bertepatan 4 Safar 1430 H dalam usia kurang lebih 79 tahun. Dimakamkan disamping kediaman beliau di Jalan Barintik Martapura.
Selengkapnya →
Syekh Ahmad Jamhuri Al-Banjari; Khadim Syekh Hasan MasysyatUlama yang turut mengharumkan nama Banjar di Tanah Suci Makkah adalah Syekh Ahmad Jamhuri. Ulama kelahiran Banjarmasin pada tahun 1940 ini adalah salah satu pengasuh majelis taklim di Makkah.Sewaktu muda, Syekh Jamhuri menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Tidak diketahui, apakah beliau sampai lulus di pesantren ini. Namun yang jelas beliau sudah menguasai ilmu tingkat dasar, sehingga keilmuan tersebut memudahkan beliau belajar dengan para ulama di Tanah Suci yang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi.Pada tahun 1963 beliau menunaikan ibadah haji dan memutuskan menetap di Mekkah. Selama di Makkah beliau mengaji dengan banyak ulama Makkah di masa itu, di antaranya kepada Syekh Hasan Masysyat (1899–1979 M). Diriwayatkan, pada ulama besar yang satu ini Syekh Ahmad Jamhuri menjadi khadim (melayani guru).Selain pada Syekh Hasan Masyat, beliau juga berguru pada Syekh Muhammad Al Arabi, Syekh Sayyid Alawi Al-Maliki, Syekh Sayyid Amin Kutbi, Syekh Muhammad Yasin Al Fadani dan Syekh Ismail Zein Al Yamani (Pada beliau Syekh Jamhuri mengaji sejak tahun 1970/1391 H).Setelah cukup lama mengaji dengan para ulama jempolan di Tanah Suci, Syekh Jamhuri kemudian mengasuh majelis taklim di kediaman beliau di daerah Al Hujun-Makkah, sekira 2 kilometer dari Masjidil Haram. Kajian beliau ramai dihadiri para santri dari berbagai daerah di Indonesia.Syekh Jamhuri tidak hanya berdakwah dengan lisan, beliau juga menuliskan beberapa karya tulis, di antaranya:1. Siapakah yang Mewarisi Surga dan yang Memasuki Api Neraka (من يرث الجنة و من يدخل النار )2. Hukum Ketawa dan Senyum (فتح الملك العلام بأحكام الضحك والابتسام )3. Kasidah "Hembusan Wewangian Ambar dalam Pujian bagi Sebaik-baik Makhluk" (نفحات عنبرية في مدح خير البرية)4. Kewajiban Muslim Terhadap Al-Qur'anul Karim (اداب المسلم مع القران الكريم )5. Renungan di Tanah Suci disertai Panduan Haji dan Umrah (تأملات في الأرض المقدسة مع دليل الحج و العمرة)6. Qasidah Jalaaliyah7. Shalawat 108. Syair Irham Ilahi walidaiSyekh Ahmad Jamhuri wafat pada Senin 27 April 2015 bertepatan dengan 8 Rajab 1436 H.“Al-Marhum dishalatkan di Masjidil Haram tadi malam (Senin malam) ba’da isya dan dimakamkan di Ma’la, Makkah Al-Mukarramah,” demikian kabar yang ditulis seorang staf diplomat Indonesia di laman Facebook KJRI Jeddah, Selasa (28/04/2015).Qasidah Birrul WalidainQasidah Birrul Walidain karya Syekh Ahmad Jamhuri didoakan oleh sang guru, Syekh Hasan Masyath.Qasidah yang digubah beliau tersebut disenangi oleh Rasulullah SAW.Diceritakan, ada orang yang bermimpi bertemu orangtuanya. la melihat ayahnya dalam keadaan sedih. Kubur ayahnya juga tidak pernah ditumbuhi rerumputan dan bunga selama 13 tahun karena panas; lalu si anak ini membaca Qasidah Birrul Walidain yang disusun oleh Syekh Ahmad Jamhuri.Subhanallah, ia bermimpi kembali, ortunya dalam keadaan senang. Setelah itu ia tanami rerumputan di atas kubur ortunya, dan bisa tumbuh.Isi qasidahnya memang menyentuh hati.Sanad ijazah tertinggiSanad ijazah tertinggi yang antar perawi berjarak ribuan tahun adalah ijazah Nabi Ibrahim kepada Nabi Muhammad SAW pada malam Isra dan Mi'raj.Nabi Ibrahim berpesan kepada Nabi Muhammad SAW agar memerintahkan umatnya memperbanyak tanaman di kebun surga. Bagaimana caranya?Ucapkan, Subhanallah wal hamdu lillah wa la Ilaha illallah Wallahu Akbar. Dalam riwayat lain ditambahkan Wa la hawla wa la quwwata Illa Billahil-aliyyil azhim.Demikian ijazah yang disampaikan oleh Syekh Ahmad Jamhuri Al-Banjari Al-Makki, dari guru beliau Syekh Ismail Zein Al-Yamani.Sanad terus bersambung sampai kepada sahabat Ibnu Mas'ud, dari Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad langsung dari Nabi Ibrahim alaihissalam.Kata Imam Nawawi, ini adalah sanad tertinggi yang pernah ada.
Selengkapnya →
KelahiranKH. Muhammad Sani atau yang disapa dengan Guru Sani lahir di 1918 di Alabio, Hulu Sungai UtaraWafatGuru Sani wafat pada 14 September 1986 / 11 Muharram 1407 H di Pesantren Al Falah Banjarbaru.PendidikanPada masa mudanya Guru Sani belajar di Madrasah Ibtidaiyah Sei Pandan, Alabio, Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Masa mudanya digunakan untuk belajar ilmu pengetahuan agama Islam dengan sistem salafiyah, diberbagai kampung. Ia sangat rajin belajar dan membaca kitab kuning, apalagi setelah ia berpindah ke kota Banjarmasin yang menuntut ia harus rajin membaca dan belajar. Belajar mandiri secara otodidak terus ia kembangkan hingga akhir hayatnya.Sejak muda perjalanan hidupnya serat dengan perjuangan untuk memajukan pendidikan di masyarakat. Ia banyak mengedepankan masalah fiqih dan tasawuf yang bertitik tekan pada keikhlasan manusia. Ia juga aktif sebagai muballigh atau guru agama, baik di masjid, langgar dan majlis taklim.Beliau juga adalah seorang tokoh yang sangat sederhana. Setiap pagi, kecuali hari Jumat, jam 06.00 beliau sudah datang ke pesantren dari kediaman beliau di Banjarmasin yang berjarak sekitar 23 km dengan menaiki taksi. Sesampai di pesantren guru-guru masih makan di ruang makan, beliau sudah siap dengan pakaian kerja, yaitu celana bawah lutut, baju dalaman, dan kopiah putih.Kemudian beliau mengambil cangkul untuk membersihkan lingkungan pesantren, menanaminya dengan pohon buah-buhan, sehingga lingkungan pesantren menjadi asri dan hijau, disamping buah-buhan yang dihasilkan dapat dinikmati oleh para santrinya.Dalam satu kesempatan beliau bernasihat agar jangan malas menanam tanaman, karena hasilnya adalah untuk anak cucu, generasi yang akan datang. Menurut beliau apa yang kita makan sekarang adalah tanaman yang ditanam oleh generasi terdahulu. Karena Nabi menganjurkan agar kita menanam, sebagaimana Hadits Nabi: “Siapa saja yang menanam tanaman, apakah buahnya dimakan manusia, atau dimakan binatang, atau dimakan burung, maka semua itu adalah sedekah dari orang yang menanamnya.”Saat jam istirahat mengajar, beliau sering berkumpul dengan guru-guru dan karyawan di kantor pesantren sambil memberikan nasihat. Beliau mengharapkan agar mereka selalu bersemangat dan ikhlas dalam mengabdi di pesantren. Bagi guru-guru pesantren, baik yang tinggal di pondok maupun yang pulang pergi, beliau tekankan jangan hanya sekedar mengajar, tetapi juga harus mendidik dan memberikan kepada para santri teladan yang baik.Kegigihan beliau dalam membangun pesantren ditunjukkan dengan seringnya, dan bahkan secara rutin meminta bantuan sumbangan dari para pedagang di pasar-pasar tradisional di dekat kediaman beliau. Konon Guru Sani sempat diberi gelar sebagai tukang tagih pajak (penadah pajak) disebabkan ketegasan beliau dalam melaksanakan penagihan.Guru Sani bahkan menentukan sediri besaran yang harus disumbangkan oleh para dermawan. Karena itulah Guru Sani sangat dikenal oleh para pedagang, khususnya masyarakat kampung Alabio, dan dianggap sebagai tuan guru mereka. Pada bulan puasa Guru Sani juga suka menjamu berbuka puasa masyarakat di sekitar langgar beliau.Untuk membangun pesantren beliau bahkan tidak segan membeli rumah yang dijual oleh penghuninya untuk dibongkar dan bahan-bahan yang masih bisa digunakan akan dibangun lagi di pesantren. Sekalipun letak rumah yang akan dijual itu lokasinya cukup jauh dari pesantren.“Suatu ketika kami dengan beberapa santri yang lainnya diajak beliau ke Alabio untuk membongkar rumah yang telah dibeli oleh Muallim.” Ujar salah seorang alumni yang juga menjadi guru di pesantren, ustadz Ibrahim Nawawi, dalam suatu kesempatan kepada penulis. Hasil bongkaran dari rumah ini kemudian dibangunkan beberapa buah asrama.Guru Sani adalah seorang figur yang pandai menjalin silaturrahmi, termasuk kepada para tokoh dan pejabat, baik lokal maupun nasional. Karena kedekatannya itulah beliau tidak sungkan meminta kepada Gubernur Kalimantan Selatan di masanya agar bongkaran dari Asrama Tatas (dulu asrama ABRI, sekarang TNI) yang sekarang tempatnya telah dibangun masjid raya Sabilal Muhtadin agar diserahkan kepada beliau untuk pembangunan pesantren Al Falah ketika itu. Kemudian hasil dari bongkaran tersebut beliau bangunkan asrama dan dan gedung belajar.Mendirikan PesantrenGuru Sani adalah salah seorang pendiri (muassis) sebuah pesantren terbesar di Kalimantan Selatan pendiri Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru.Menurut Guru Sani masyarakat Kalimantan Selatan masih perlu perhatian dalam bidang pendidikan. Karena masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin masih sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara ini, terutama dibandingkan dengan pulau Jawa.Sekitar tahun 1981, muallim Guru Sani, menerima sumbangan dari kerajaan Saudi Arabia, dalam bentuk uang sebesar Rp. 63.000.000.Sebuah angka yang lumayan besar di kurun itu. Uang sumbangan Raja Saudi ini kemudian dibangunkan asrama santri sebanyak tujuh pintu, yang kemudian diberi nama dengan nama Raja tersebut yaitu asrama Malik Abdul Aziz, sebagai penghargaan atas jasa beliau. Belasan tahun kemudian, sekitar tahun 1995 Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi Syekh Abdurrahman Al Alim berkunjung ke Pondok Pesantren Al Falah dan beliau menyempatkan diri untuk melihat asrama hasil sumbangan dari rajanya tersebut.Mungkin saja, dengan berteman dengan Idham Chalid inilah beliau punya akses, atau bisa juga melalui Idham Chalid sendiri untuk meminta bantuan ke kerajaan Arab Saudi. Tetapi sepanjang hidup beliau tercatat sebanyak 22 kali berhaji baik sendiri maupun membawa rombongan, barangkali juga kontak beliau dengan Saudi yang begitu intensif tersebut menyebabkan beliau punya akses untuk berhubungan dengan pihak kerajaan Saudi.Relasi Pondok Pesantren Al Falah dengan Timur Tengah relatif baik. Termasuk dengan universitas terkemuka Mesir, Al Azhar di Cairo. Universitas Al Azhar Cairo Mesir dengan Surat Keputusannya tahun 1995 mengakui lulusan pondok pesantren Al Falah sederajat dengan lulusan Aliyah di Al Azhar Cairo. Sehingga lulusan Pondok Pesantren Al Falah bisa langsung diterima di perguruan tinggi di Al Azhar.Bukan hanya Al Azhar, Madinah University juga mengakui lulusan Pondok Pesantren Al Falah. Dulu sempat beberapa orang yang berkuliah di sana. Tapi di Al Azhar rupaya lebih bergengsi, mungkin sampai sekarang. Sekalipun masuk tanpa tes dari Al Azhar tidak berlaku lagi. Hingga akhirnya sekarang bertebaranlah alumni Pondok Pesantren Al Falah yang berlatar belakang pendidikan universitas di Timur Tengah ini.Sahabat Karib Dr. KH. Idham ChalidKonon, KH. Muhammad Sani sejak lama berteman karib dengan Dr. KH. Idham Chalid seorang tokoh nasional dan pernah menjabat sebagai ketua PBNU serta mantan ketua MPR asal Kalimantan Selatan. Suatu saat Guru Sani dipercayakan oleh Idham Khalid untuk membangun sebuah Madrasah di Jakarta yang diberi nama Darul Ma’arif. Setelah pembangunan mandrasah selesai, Guru Sani ditawari oleh Idham Chalid untuk memimpin madrasah tersebut. Namun tawaran Idham Chalid ditolak dengan halus oleh beliau. Beliau mengatakan ingin membangun pesantren di daerahnya Kalimantan Selatan.Wasiat Tuan Guru SaniDiantara wasiat Guru Sani kepada para santri adalah; pertama, hendaklah para santri selalu pakai baju kurung berwarna putih, kupiah putih agar hatinya seputih pakaiannya. Kedua, hendaklah para santri selalu mematuhi guru-gurunya agar ilmu-ilmu yang telah dipelajari menjadi ilmu yang beberkah baik di dunia mapun di akhirat.Ketiga, agar para santri setiap kali selesai salat Magrib membaca wirid bersama-sama (berjamah) dilanjutkan dengan membaca surah Yasin, surah Waqi’ah dan surah Tabarak.Tujuannya menurut beliau agar para santri terhindar dari godaan syaitan dan supaya orang tua-orang tua mereka dimurahkan rezeki dan para santri dapat ilmu yang bermanfaat.Keempat, sekalipun dalam keadaan cape dan lelah, tadarus Al-Qur’an, salat Dhuha, salat Tahajjud, mutala’ah kitab jangan sampai ditinggalkan. Kalau niat mengerjakan menunggu waktu lapang bisa saja tidak terkerjakan, karena sudah terbiasa tidak mengerjakan, maka akan sulit mengerjakannya. Karena menurut beliau lagi, sebaik-baik amalan adalah amalan yang dikerjakan secara terus-menerus, sekalipun sedikit.Kelima, menurut beliau, ilmu yang telah didapatkan agar diamalkan dan kemudian harus diajarkan ke orang lain walaupun sedikit. Menjadi seorang guru bukan berarti harus menguasaai ilmu yang banyak. Kalau misalnya para santri pandai membaca Alquran, maka ajarkanlah orang membaca Alquran, kalau tahu tata-cara berwudhu yang benar, maka ajarkanlah orang lain berwudhu yang benar. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain.Muallim Guru Sani adalah seorang yang rendah hati, setiap kali ada acara kerja bakti dengan para guru dan pekerja-pekerja lainnya beliau selalu ikut bergotong-royong. Pakaian resmi sehari-hari beliau adalah bersarung, baju jas, kopiah haji dan disertai dengan surban yang selalu menutup kepala beliau.Mengakhiri tulisan ini saya akan mengutip ucapan muallim Guru Sani, sebagaimana diceritakan oleh Habib Abdullah Al Habsy salah seorang murabbi (pengasuh) pertama Pondok Pesantren Al Falah, yang beliau katakan berulang-ulang dalam beberapa kesempatan. Ujar muallim: “Aku kada baharap banyak yang jadi orang alim yang sakolah di pondok ni, tapi saikung gin dalam saratus orang sudah cukup.” (saya tidak berharap semuanya menjadi orang alim yang belajar di pesantren ini, satu orang saja dari seratus, itu sudah cukup).Saya memahami ini bukan sebagai ungkapan fesimis Muallim, tetapi beliau menyadari bahwa tidak semua santri-santrinya kelak akan menjadi orang yang ahli dalam bidang agama secara mendalam. Misalnya ada satu atau dua orang dalam seratus itu sudah cukup. Sisanya biarlah mereka bergelut dan berjuang dalam bidang dan keahlian masing-masing, asalkan itu dapat bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya, dalam bentuk apapun.TeladanGuru Sani dikenal sebagai seorang figur yang sangat dipercaya oleh masyarakat saat itu, karena kejujuran dan itegritas serta kepribadian terpuji yang dimiliknya.
Selengkapnya →
Manaqib Syekh Jamaluddin Surgi Mufti: Sang Ulama Zahid dan Mufti Penting Tanah BanjarKelahiran dan Silsilah MuliaSyekh Jamaluddin Surgi Mufti (atau yang akrab disapa Datu Jamaluddin Sungai Jingah) dilahirkan di Dalam Pagar, Martapura, pada masa pemerintahan Sultan Adam, diperkirakan sekitar tahun 1243 H (1828 M). Beliau merupakan ulama besar yang memiliki garis keturunan yang sangat mulia, baik dari pihak ayah maupun ibu.Dari garis ibundanya, Hj. Zalekha, beliau merupakan buyut langsung dari poros ulama Nusantara, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan).Silsilah Jalur Ibu: Syekh Jamaluddin Surgi Mufti bin Hj. Zalekha binti Al-Alimul Allamah Mufti Pangeran Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.Silsilah Jalur Ayah: Beliau adalah putra dari H. Abdul Hamid Qusyasi, cucu dari Umpil, dan piut dari Tuan Mu'min, yang menurut riwayat sejarah merupakan seorang menteri penting di era Kesultanan Banjar.Dari sekian banyak saudara kandung dan tirinya, hanya dari garis keturunan Syekh Jamaluddin inilah zuriat keulamaan beliau terus bersambung dan lestari hingga hari ini.Rihlah Ilmiah di Mekkah dan Dialog Kedalaman IlmuSyekh Jamaluddin Surgi Mufti merupakan salah satu zuriat Datu Kalampayan yang paling lama bermukim di Tanah Suci Mekkah untuk menuntut ilmu. Beliau menghabiskan waktu puluhan tahun belajar secara intensif kepada para ulama besar di halaqah-halaqah Masjidil Haram, salah satunya adalah Syekh 'Athaillah.Terdapat sebuah fragmen kisah berharga di dalam kitab manaqib beliau. Ketika sedang menuntut ilmu di Mekkah, paman beliau yang bernama Qadhi H. Abdus Samad Marabahan datang ikut belajar. Setelah delapan tahun belajar (dan sembilan kali menunaikan ibadah haji), Qadhi H. Abdus Samad dianjurkan oleh para gurunya untuk segera pulang ke Indonesia demi menyebarkan ilmu.Mendengar kabar itu, Syekh Jamaluddin sangat terkejut dan bertanya penuh keheranan:"Kenapa pamanda hendak segera pulang? Padahal baru delapan tahun pamanda mengaji di Mekkah sudah mau pulang. Sedangkan ananda sudah puluhan tahun lebih, bahkan hampir dua puluh tahun mengaji di Mekkah, belum berani pulang karena merasa belum cukup ilmu yang didapat."Sang paman menjawab dengan tenang bahwa kepulangannya adalah atas perintah langsung para guru. Masih diliputi rasa penasaran, Syekh Jamaluddin kemudian mengajak pamannya untuk mudzakarah (berdiskusi mendalam) melintasi berbagai bidang ilmu, mulai dari ilmu Syariat, Tarekat, hingga ilmu Hakikat.Usai berdiskusi, sang paman berdiri untuk melaksanakan salat sunnah. Ketika sang paman mengangkat takbiratul ikram, sebuah keajaiban rohani terjadi: jasad Qadhi H. Abdus Samad tiba-tiba menghilang dari pandangan Syekh Jamaluddin. Beliau sama sekali tidak melihat pamannya yang sedang salat. Barulah sesaat sebelum mengucapkan salam, jasad sang paman tampak kembali secara utuh.Melihat kedalaman maqam keilmuan pamannya, Syekh Jamaluddin terkejut sekaligus takjub. Beliau bertanya bagaimana pamannya bisa meraih tingkat keilmuan setinggi itu dalam waktu singkat. Sang paman menjawab:"Guru-guru memberikan atau menuangkan ilmu dengan cara 'beluruk' (menumpahkan seluruhnya hingga habis tanpa sisa)."Peristiwa spiritual tersebut membuat Syekh Jamaluddin mantap melepas kepulangan pamannya, seraya mengikrarkan sebuah janji kuat:"Ulun (saya) tidak akan pulang ke tanah Banjar, kalau tidak mendapatkan ilmu yang sampiyan (anda) dapatkan."Kepulangan dan Kiprah sebagai Mufti KerajaanSetelah berhasil meraih kedalaman ilmu ruhaniah dan mengantongi izin dari ulama-ulama besar Mekkah, beliau akhirnya pulang ke kampung halaman sebagai generasi penerus dakwah datuknya. Beliau menetap di kawasan Sungai Jingah, Banjarmasin.Syekh Jamaluddin dikenal sebagai ulama yang Amilin (mengamalkan ilmunya) serta Zahid (menjauhi kemewahan dunia). Beliau mewarisi kepakaran nenek moyangnya, khususnya dalam penguasaan Ilmu Alat (Sastra/Tata Bahasa Arab), Ilmu Falak (Astronomi Islam), dan Ilmu Geografi. Hari-hari beliau dihabiskan untuk mengajar kerabat, sahabat, dan masyarakat yang datang dari tempat jauh demi mengharapkan bimbingan rohani. Sebagai tuan rumah yang sangat pemurah, beliau selalu menjamu makan setiap tamu yang datang.Kemasyhuran dan keluhuran budi pekerti beliau menarik perhatian Pemerintah Kolonial Belanda yang kala itu menguasai wilayah administratif. Kagum melihat rumah beliau yang setiap hari dipadati umat, pemerintah Belanda menawarkan jabatan strategis keagamaan. Dengan mempertimbangkan kemaslahatan dan perlindungan terhadap kondisi umat Islam saat itu, beliau menerima tawaran tersebut.Pada tahun 1314 H (1896 M), beliau resmi diangkat sebagai Mufti Banjarmasin. Dalam struktur hukum Islam kala itu, jabatan Mufti memiliki kedudukan tertinggi, yakni sebagai pihak yang menyusun, mengolah, dan mengawasi jalannya undang-undang syariah, sedangkan eksekutor pembawa kebijakan di lapangan dijalankan oleh seorang Qadhi.Kisah-Kisah Karamah (Khawariqul 'Adat)Sebagai kekasih Allah, Syekh Jamaluddin dianugerahi berbagai karamah yang di luar nalar manusia sebagai tanda bukti kesucian hatinya:"Di Mana Ada Air, Di Situ Ada Ikan": Suatu ketika pada zaman Belanda, seorang tentara Belanda ingin menguji kewalian beliau. Orang Belanda itu membawa sebutir buah kelapa kering dan menantang, "Coba buka, apakah ada ikannya? Di dalam kelapa ini ada airnya, kan?" Ketika kelapa itu dibelah oleh Syekh Jamaluddin, secara ajaib di dalamnya terdapat seekor ikan papuyu yang hidup, membuat orang Belanda tersebut takjub luar biasa.Tebakan Ular di Bawah Tikar: Di Asrama Tatas (pusat markas tentara Belanda dekat Masjid Raya kala itu), beliau pernah ditantang menebak benda di bawah tikar purun. Pihak Belanda menanyakan, "Apa di bawah tikar itu?" Beliau menjawab, "Ada ular di bawah situ." Padahal sebelumnya, orang Belanda sengaja menyembunyikan sebilah kayu. Saat tikar dibuka, kayu tersebut telah berubah menjadi seekor ular hidup.Melihat Hilal di Dalam Jubah: Pada zaman dahulu, masyarakat Banjar sering mengalami kesulitan sarana untuk menentukan awal bulan 1 Ramadan atau 1 Syawal. Dalam situasi tersebut, Syekh Jamaluddin cukup membuka jubah kebesarannya dan memperlihatkannya kepada para jemaah seraya berkata, "Nah, bulan (hilal) sudah kelihatan di dalam jubahku ini." Jubah beliau menjadi perantara ruyat atas izin Allah SWT.Wafatnya sang UlamaSetelah mendedikasikan seluruh umurnya untuk menegakkan panji dakwah Islamiah, kesehatan fisik beliau mulai menurun. Tepat pada hari Sabtu, 8 Muharram 1348 H, jam tiga sore menjelang waktu Asar, Tuan Surgi Mufti kembali ke hadirat Sang Khalik dalam keadaan muraqabah dan musyahadah yang dalam. Akhir kalam yang keluar dari lisan suci beliau adalah kalimat mulia: "Allah".Kabar duka ini menggemparkan seluruh pelosok daerah. Lebih dari 500 jemaah menyalatkan jenazah beliau—jumlah yang sangat besar pada masa itu. Jasad beliau dimakamkan keesokan harinya, Ahad, 9 Muharram 1348 H pukul 14.00 siang di depan halaman rumah beliau di Sungai Jingah, Banjarmasin. Kawasan makam tersebut hingga kini abadi dikenal masyarakat dengan nama Kubah Sungai Jingah.
Selengkapnya →
Datu Sanggul memiliki beberapa nama seperti Ahmad Sirajulhuda, Abdush Shamad, Abdul Jalil, Fakhruddin, dan Samman adalah seorang ulama dan tokoh masyarakat, khususnya di wilayah Tatakan, Tapin Selatan, Tapin. Ia hidup sekitar abad ke-18 M, satu zaman dengan Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau Datu Kalampayan. Dia merupakan murid dari Datu Suban, salah satu ulama di daerah tersebut.Datu Sanggul berasal dari Palembang (ada yang menyebutkan dia berasal dari Aceh. Atas restu ibunya, dia berlayar dari Selat Bangka Belitung, lalu tiba Kota Banjarmasin hingga sampai di Kampung Muning (sekarang berada di daerah Tatakan, Kabupaten Tapin), tepatnya di Pantai Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa pada 1750. Kemudian, dia berguru dengan Datu Suban, salah satu ulama setempat di daerah tersebut dan menetap di kampung tersebut hingga akhir hayatnya.Ada beberapa versi pemberian gelar Datu Sanggul kepadanya. Versi pertama yaitu karena dia gemar manyanggul (menggulung) rambutnya yang panjang. Versi lain menyebutkan bahwa dia gemar manyanggul (menunggu) binatang buruan. Ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa dia dinilai tekun dalam mentaati perintah gurunya di dalam khalwat khusus, dimana pada saat itu dia manyanggul (menunggu) turunnya ilmu dari Allah SWT. Terakhir, ada versi yang menyatakan bahwa dia manyanggul (menghadang) pasukan Belanda di perbatasan Kampung Muning, sehingga mereka lari karenanya.Cerita Karamah dan SilsilahDatu Sanggul sering diceritakan oleh masyarakat Banjar bahwa dia dapat melaksanakan Salat Jumat di Masjidil Haram di Makkah, meski sebenarnya dia masih berada di daerahnya di Kampung Muning. Hal ini bermula saat itu dia sering tidak tampak menunaikan Salat Jumat di masjid di kampungnya untuk menunaikan Salat Jumat, sehingga dia harus membayar denda kepada kesultanan setiap hari Jumat sampai hanya tertinggal hanya kuantan dan landai (alat untuk memasak nasi dan sayuran) sebagai harta yang dimiliki Datu Sanggul, meski akhirnya harta tersebut dikembalikan karena orang-orang telah mengetahui keajaibannya.Ada suatu cerita bahwa ada seseorang yang mengajak Datu Sanggul untuk melaksanakan Salat Jumat bersama-sama di masjid kampungnya. Meski awalnya Datu Sanggul menolak, dia akhirnya mau ikut Salat Jumat bersama orang tersebut. Namun, ketika mereka berada di masjid, orang tersebut hanya beberapa orang yang salat di masjid tersebut dan selebihnya berbentuk hewan semua. Melihat hal itu, orang tersebut bertanya pada Datu Sanggul dan Datu Sanggul menjawab bahwa mereka pergi ke masjid bukan karena ingin beribadah kepada Allah, tetapi karena karena hanya ikut-ikutan orang banyak.Cerita lain mengatakan bahwa ketika dia ingin pergi ke masjid kampung, dia melompat ke dalam sungai sehingga orang yang ada di sekitar masjid berteriak dan menjadi gempar. Tiba-tiba, di tengah kegemparan masyarakat itu, Datu Sanggul muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya, lalu langsung memasuki masjid. Lebih mengherankan lagi, pakaian dia tidak basah sama sekali, kecuali anggota wudunya. Masyarakat semakin terkejut karena Datu Sanggul hanya berpantun sementara orang-orang mulai mengangkat takbiratul ihram. Lalu, setelah mengucapkan takbir, tubuhnya mengawang-awang hingga selesai orang mengerjakan salat Jum'at. Melihat kejadian tersebut, orang-orang yang berada di masjid menjadi keheranan. Setelah itu, Datu Sanggul menginjakkan kakiknya kembali di lantai dan mengatakan seperti berikut."Aku tadi salat di Makkah. Kebetulan, di sana ada selamatan dan aku meminta sedikit. Mari kita cicipi bersama walau sedikit", kata Datu Sanggul, dimana setelah itu, orang-orang di sana mencicipi nasi yang dibawa Datu Sanggul dari Makkah.Adapun pantun yang Datu Sanggul ucapkan saat salat Jumat tersebut berbunyi sebagai berikut:"Riau-riau padang si bundan.Di sana padang si tamu-tamu.Rindu dendam tengadah bulan.Di hadapan Allah kita bertemu"Silsilah Lengkapnya1. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam2. Sayyidatina Fatimah Az-Zahra dan Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah3. Sayyidina Hasan Al-Mujtaba4. Sayyid Hasan Al-Mutsanna5. Sayyid Abdullah Al-Kamil6. Sayyid Musa Al-Jun7. Sayyid Abdullah Ats-Tsani8. Sayyid Musa Ats-Tsani9. Sayyid Dawud Al-Makki10. Sayyid Muhammad Al-Madani11. Sayyid Yahya Az-Zahid12. Sayyid Abdullah Al-Jili13. Sayyid Musa Ats-Tsalits14. Quthubul Maqam Sayyidi Syarif Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (Gilan, Iran)15. Sayyid Abdul Aziz16. Sayyid Muhammad Al-Hatak17. Sayyid Syamsuddin18. Sayyid Syarafuddin19. Sayyid Zainuddin20. Sayyid Waliyuddin21. Sayyid Nuruddin22. Sayyid Hussamuddin23. Sayyid Yahya Ad-Darwisy24. Sayyid Nuruddin25. Sayyid Abu Bakar26. Sayyid Abdurrahman27. Sayyid Ahmad28. Sayyid Ibrahim Al-Qadiri29. Sayyid Mukammil30. Meurah Abdullah31. Syaikh Abdusshamad Al-Qadiri (Datu Sanggul)Sumber Referensi : Pante Geulima , Meureudu , 15 Sya'ban 1437 M.Marga Al-Qadiri Al-Hasani :Penamaan Al-Qadiri, dikarenakan mereka adalah keturunan dari Al-Quthub Al-Kabir Syaikh Abu Muhammad Muhyidin Abdul Qadir Jailani bin Musa Janki Dausat bin Abdullah bi Yahya Az-Zahid bin Muhammad bin Daud bin Musa Ats-Tsani bin Abdullah bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Mahdi bin Hasan Al-Mutsanna bin Imam Hasan Sibthi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.Gelar Al-Qadiri di ambil dari kata ‘Qadir’ yang merupakan salah satu asmaul husna yang mempunya arti “Yang Maha Kuat”.Hubungan Dengan Datu KalampayanKarena Datu Sanggul sezaman dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau Datu Kalampayan, maka ada beberapa riwayat mengenai hubungan mereka berdua.Sewaktu Datu Kalampayan di Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Jum’at berjamaah, dia melihat seseorang yang mengenakan baju palimbangan hitam, celana hitam serta memakai laung salat di dekatnya, mengingat pakaian tersebut hanya dipakai oleh orang Banjar atau orang tanah Jawi ( Tanah Melayu ) dan tidak ada penduduk Makkah yang berpakaian demikian. Kejadian ini sering dilihat Datu Kalampayan selama beberapa kali Jum’at, sehingga dia berkata “Tidak salah lagi, ini pasti orang Banjar”. Lalu, Datu Kalampayan mengulurkan tangannya, bersalaman, dan membawa orang tersebut kerumah Datu Kalampayan di Makkah, Datu Kalampayan bertanya dan orang tersebut menjawabnya bahwa dia bernama Datu Sanggul. Lalu, Datu Kalampayan bertanya lebih lanjut lagi kepada Datu Sanggul.Datu Kalampayan: “Saudara ini orang mana, asal negeri mana dan sudah berapa lama tinggal di Mekkah?”Datu Sanggul: “Saya setiap Jum’at datang ke sini untuk bersembahyang, dan aku berasal dari Banjar. Tempat diamku di Banjar. Jelasnya Tatakan.”Datu Kalampayan: “Jauh juga. Kalau begitu melewati Martapura, Kayu Tangi. Melalui tempat tinggalku. Itu sangat jauh. Jika demikian dengan apa ke mari setiap Jumat?”Datu Sanggul: “Aku tidak memakai apa-apa. Hanya karena hendak ke mari saja, dan kebetulan Allah SWT memberikan kekuatan kepadaku sehingga aku sampai ke sini.”Riwayat lain menyebutkan bahwa Datu Sanggul pernah membawa cempedak yang masih bergetah sebagai tanda baru saja dipetik, yang menjadi tanda bahwa perjalanan Datu Sanggul dari Tatakan ke Makkah hanyalah sebentar bagi Datu Sanggul. Hal ini membuat Datu Kalampayan berbicara dengan Datu Sanggul.Riwayat lain menyebutkan bahwa Datu Sanggul pernah membawa cempedak yang masih bergetah sebagai tanda baru saja dipetik, yang menjadi tanda bahwa perjalanan Datu Sanggul dari Tatakan ke Makkah hanyalah sebentar bagi Datu Sanggul. Hal ini membuat Datu Kalampayan berbicara dengan Datu Sanggul.Datu Kalampayan: "Guru, apakah durian yang ada di halaman istana itu sudah berbuah?"Datu Sanggul: "Sudah, dua biji buahnya, nanti aku ambilkan."Alhasil, durian tersebut dibawa dari istana Kesultanan Banjar sampai ke Makkah tanpa sepengetahuan penjaga istana.Menurut riwayat tentang kematian Datu Sanggul, Datu Sanggul pernah meminta kepada Datu Kalampayan untuk membawakan kain kafan apabila Datu Kalampayan selesai menuntut ilmu dari Mekkah dan tiba di Tanah Banjar. Ternyata, kain kafan itu digunakan untuk mengkafani Datu Sanggul sendiri yang sudah berpulang, bertepatan dengan tibanya Datu Kalampayan di Tanah Banjar setelah pulang dari Makkah. Bahkan menurut K.H. Irsyad Zein, Datu Kalampayan memandikan jenazah Datu Sanggul.Menurut versi "Cerita Masyarakat Banjar", ketika Datu Kalampayan tiba di rumah Datu Sanggul, dia melihat jenazah Datu Sanggul dibungkus dengan kain kafan dan tikar purun, mengingat kehidupan Datu Sanggul yang sangat sederhana. Ketika Datu Kalampayan membuka tikar purun dan kain kafan tersebut. ternyata jenazah Datu Sanggul telah harum lenyap dan Datu Kalampayan berkata sambil menunjuk guntingan potongan kain segitiga yang dibawanya di Makkah."Inilah Kitab Barincong nang sabujurnya." (Inilah Kitab Barencong yang sebenarnya)Pantun Saraba AmpatSeperti Datu Suban yang merupakan gurunya, Datu Sanggul memiliki pemahaman tasawuf falsafi yang bersandar pada paham Nur Muhammad. Datu Sanggul memiliki kepiawaian dalam membuat pantun. Salah satu pantunnya yang masih populer di kalangan masyarakat Banjar dan Bakumpai adalah pantun Saraba Ampat yang biasa digunakan oleh sebagian ibu-ibu untuk menidurkan anaknya. Dalam kitab Manakib Datu Sanggul yang ditulis oleh Mawardi bin Lasan, pantun tersebut berbunyi sebagai berikut."Allah jadikan saraba ampatSyariat Thoriqat Hakikat Ma'rifatMenjadi satu di dalam KhalwatRasanya nyamannya tiada tersurat""Huruf ALLAH ampat banyaknyaAlif 'itibar daripada Zat-NyaLam Awwal dan Akhir sifat dari AsmaHa isyarat dari af'al-Nya""Jibril-Mikail Malaikat muliaIsyarat Sifat Jalal dan JamalIzrail-Israfil rupa pasangannya'iItibar sifat Qahar dan Kamal""Jabar-ail asal mulanyaBahasa Suryani asal mulanyaKebesaran Allah itu artinyaJalalullah bahasa Arabnya""Nur Muhammad bermula nyataAsal jadi alam semestaSaumpama api dengan panasnyaItulah Muhammad dengan TuhanNya""Api dan banyu, tanah dan hawaItulah dia alam duniaMenjadi awak berupa-rupaTulang sumsum daging dan darah""Manusia lahir ke Alam InsanDi Alam Ajsam ampat bakawanSi Tubaniyah dan TambuniyahUriah lawan si Camariyah""Rasa dan Akal, Daya dan NafsuDi dalam Raga nyata bersatuAku meliputi segala likuMatan hujung rambut ka hujung kuku""Tubuh dan Hati, Nyawa dan RasaSatu yang Zhohir amat nyatanyaTiga yang batin pasti adanyaAlam Shogir itu sabutnya""Mani-manikam, Madi dan MaziTitis manitis jadi manjadiSi anak Adam balaksa katiHanya yang tahu Allahu Rabbi""Ka-ampat-ampatnya kada tapisahDatang dan bulik kepada AllahAsalnya awak daripada tanahAsalpun tanah sudah disyarah""Dadalang Simpur barmain wayangWayang asalnya si kulit kijangAgung dan sarun babun dikancangKaler bapasang di atas gadang""Wayang artinya si bayang-bayangSatu yang Zhohir amat nyatanyaSanua majaz harus dipandangSimpur balalakun hanya saorang""Samar, Bagong si NalagaringSi Jambulita suara nyaringAmpat isyarat amatlah pantingSiapa handak mancari haning"Yusliani Noor, akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat, mengatakan bahwa jika memang pantun ini merupakan pantun Datu Sanggul, tasawuf yang dikembangkan Datu Sangggul merupakan tasawuf falsafi yang diambil dari pengaruh beberapa tokoh sufi, seperti Al-Hallaj, Ibnu Arabi, Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, dan dari kitab Tuhfah al-Mursalah, serta Syekh Burhanpuri dengan ajaran Martabat Tujuh. Selain pantun Saraba Ampat, Datu Sanggul juga memiliki pantun tentang makrifat dengan bunyi sebagai berikut.“Jangan susah mencari bilah.Bilah ada di rapun buluh.Jangan susah mencari Allah.Allah ada di batang tubuh”Kitab BarencongKitab Barencong (atau Barincung) adalah sebuah kitab yang dimiliki oleh Datu Sanggul yang diperoleh dari Datu Suban, dimana kitab ini berisi berbagai ilmu dan amalan. Konon, Datu Sanggul dapat memperoleh beberapa kesaktian seperti salat di Masjidil Haram dan lain-lain berkat mengamalkan ilmu dari kitab ini dan gurunya (Datu Suban).Namun menurut salah satu versi "Cerita Masyarakat Banjar", Kitab Barencong ini merupakan kain dari jubah Datu Sanggul. Menurut versi ini, Datu Kalampayan pernah berkata "Inilah Kitab Barincong nang sabujurnya" (Inilah Kitab Barencong yang sebenarnya) saat membuka tikar purun dan kain kafan Datu Sanggul ketika Datu Sanggul meninggal dunia. Saat itu, Datu Kalampayan menunjuk guntingan potongan kain segitiga yang dibawanya dari Makkah,yang diperoleh saat Datu Kalampayan bertemu Datu Sanggul untuk menguji kebenaran dari kesaktian Datu Sanggul. Menurut versi ini, kitab ini sebenarnya tidak ada, tapi hanya kiasan atau simbol kemuliaan figur Datu Sanggul.Konon, kitab ini dipotong Datu Sanggul, satunya diberikan kepada masyarakat Hulu Sungai yang isinya tentang ilmu kepahlawanan dan satunya lagi diberikan kepada Datu Kalampayan yang isinya tentang ilmu kealiman yang diberikan bagi masyarakat Martapura. Menurut Yusliani Noor, cerita pembagian ini merupakan simbol bahwa kitab kealiman yang dimaksudkan adalah Datu Kalampayan sendiri yang kemudian menjadi ulama besar di Tanah Banjar dan Asia Tenggara.
Selengkapnya →
Syekh Abdul Hamid atau lebih dikenal dengan Datu Abulung adalah salah satu Ulama Banjar yang berpengaruh pada masanya, beliau adalah ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham Wahdatul Wujud. Beliau dihukum mati oleh Sultan Tahmidillah atas pertimbangan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari yang ketika itu menjabat sebagai Mufti Besar.Dalam sejarah pemikiran keagamaan di Kalimantan Selatan pada abad ke-18, setidaknya ada tiga tokoh ternama di Kesultanan Banjar, tiga tokoh tersebut adalah:Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.Syaikh Muhammad Nafis Al Banjari atau Datu Nafis.Syaikh Abdul Hamid atau Datu Abulung.Dan sosok Datu Abulung inilah yang penuh misteri hingga saat ini. Pada masa Kesultanan Banjar diperintah oleh Sultan Tahlilullah, saat itulah Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari dan Datu Abulung muda diberangkatkan ke Makkah Al Mukarramah untuk menuntut ilmu agama dengan biaya dari kesultanan, diharapkan nantinya mereka bisa membawa sinar terang bagi Kesultanan Banjar. Sepulangnya dari menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah Al Mukarramah (ketika itu Kesultanan Banjar diperintah oleh Sultan Tahmidillah), Datu Abulung mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya dari guru-gurunya kepada masyarakat di sekitarnya. Di antara yang beliau ajarkan adalah ilmu Tasawwuf, namun ilmu Tasawwuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran Tasawwuf yang selama ini dikenal masyarakat. Datu Abulung mengajarkan bahwa:"Tidak ada wujud kecuali Allah, tidak ada wujud selainnya. Dia adalah aku, aku adalah dia."Dalam pelajaran Datu Abulung juga diajarkan bahwa syariat yang diajarkan selama ini hanya kulit belum sampai kepada isi (hakikat), sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum yaitu tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah, Allah adalah khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu baginya. Ajaran Datu Abulung ini dipengaruhi oleh aliran ittihad Abu Yazid Al Bushthami dan Husein bin Manshur Al Hallaj yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin As Sumatrani, dan Syaikh Siti Jenar.Mendengar fatwa Datu Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka gemparlah masyarakat, bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke telinga Raja Banjar ketika itu yaitu Sultan Tahmidillah. Sebelum Datu Abulung dipanggil, sultan terlebih dahulu meminta pendapat Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari yang ketika itu menjabat sebagai Mufti Besar (satu riwayat mengatakan tanpa diketahui Syaikh Arsyad) tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah beberapa kitab, diambil kesimpulan bahwa ajaran yang dibawa Datu Abulung yang diajarkan kepada orang awam tersebut bisa menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama. Adalah kewajiban bagi ulama dan umara melindungi keagamaan rakyatnya dari unsur-unsur yang membahayakan, jika tidak dapat dengan jalan damai maka lebih baik menyingkirkannya. Menolak mafsadah (keburukan) lebih didahulukan daripada mengambil manfaat, melenyapkan seseorang untuk menyelamatkan orang banyak dibolehkan menurut hukum, bahkan terkadang wajib hukumnya.Berdasarkan keputusan tersebut, maka dipanggillah Datu Abulung. Salah seorang prajurit kesultanan disuruh untuk mendatangi Datu Abulung, setelah sampai di tempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau.Prajurit itu berkata: Hai Syaikh Abdul Hamid, engkau dipanggil Baginda Sultan!Kemudian dijawab oleh Datu Abulung: Abdul Hamid tidak ada, yang ada hanya Allah ta'ala!Mendengar jawaban tersebut, prajurit itu lalu mengadukan kepada sultan. Kemudian sultan menyuruh kembali dan memanggil Allah ta'ala.Setelah sampai di tempat Datu Abulung, prajurit itu kembali berkata: Hai Allah, engkau dipanggil Baginda Sultan!Kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung: Allah tidak ada, yang ada hanya Nur Muhammad!Mendengar jawaban itu, prajurit kembali ke kesultanan dan mengatakan hal tersebut kepada sultan. Kemudian sultan memerintahkan agar dipanggil ketiganya yaitu Syaikh Abdul Hamid, Allah ta'ala, dan Nur Muhammad. Setelah prajurit tersebut memanggil seperti dipesankan oleh sultan, barulah Datu Abulung bersedia datang ke istana.Di tengah perjalanan menuju istana, dipasanglah perangkap yang apabila diinjak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ke tubuh orang yang menginjaknya. Saat itu terbukti kebenaran ajaran Datu Abulung. Ketika beliau menginjak perangkap tersebut, tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya di udara, namun berhenti tepat di belakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya. Setelah sampai di istana dan terjadi tanya jawab, sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Abulung. Kemudian beliau berucap "asyhadu allaa ilaaha illallaah" tiba-tiba tubuh beliau menghilang, kemudian terdengar lagi suara "wa asyhadu anna muhammadarrasulullaah'' timbullah kembali tubuh beliau. Semua orang kagum melihat hal tersebut, tetapi dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak, maka dihukumlah Datu Abulung dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri. Dengan kurungan seperti itu beliau ditenggelamkan di Sungai Lok Buntar, maka akhirnya beliau tenggelam ke dasar sungai.Lalu suatu keanehan terjadi, apabila tiba waktu shalat fardhu, maka kerangkeng tersebut akan muncul dari permukaan sungai dan Datu Abulung terlihat sedang melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat, maka secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali ke dasar sungai.Pada suatu malam menjelang subuh, sepuluh orang pencari ikan yang berada di sekitar tenggelamnya Datu Abulung lamat-lamat mereka mendengar suara adzan, perlahan-lahan mereka mendekati sumber suara adzan tersebut, dari kejauhan mereka melihat keganjilan dan keanehan Datu Abulung. Sejak saat itu mereka mengangkat Datu Abulung menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar berbagai macam ilmu agama Islam. Karena jumlah mereka sepuluh, maka dinamakan orang sepuluh atau sekarang orang-orang menyebutnya Datu Sepuluh. Setelah selesai belajar, orang sepuluh ini menjadi pegawai di Kesultanan Banjar.Setelah direndam dalam air dan Datu Abulung tidak juga mati, maka beliau kembali dibawa ke istana. Di hadapan sultan, Datu Abulung mengatakan bahwa beliau tidak bisa dibinasakan dengan alat apa pun kecuali dengan senjata yang ada di dinding rumah beliau dan menancapkannya di dalam daerah lingkaran yang beliau tunjuk yaitu di belikat beliau. Setelah shalat dua rakaat, senjata tersebut ditancapkan di belikat beliau yang sudah ditandai tersebut oleh para Algojo Raja, maka memancarlah darah segar dari tempat itu. Dan anehnya darah tersebut membentuk kalimat "laa ilaaha illallaah muhammadurrasulullaah.''Melihat kejadian ini, Sultan Tahmidillah tersadar akan kebenaran Datu Abulung, sultan kemudian membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jami' Syaikh Abdul Hamid Abulung sebagai bentuk penebusan dosa karena telah memerintahkan para Algojo Raja untuk mengeksekusi Datu Abulung.Datu Abulung dinilai kering karya, karena hingga saat ini hanya ada beberapa fragmen yang menyiratkan pandangan beliau mengenai Tasawwuf yang bisa dilacak dan itu pun sangat terbatas. Di Kalimantan Selatan sendiri sekarang ada sebuah karya yang disinyalir kepunyaan Datu Abulung, naskah itu berisi tentang pandangan Tasawwuf Wujudiyah Mulhid berupa pembahasan mengenai asal kejadian Nur Muhammad.Setelah sekian lama tidak diketahui keberadaannya, akhirnya makam Datu Abulung ditemukan oleh masyarakat atas petunjuk dari Tuan Guru H. Muhammad Nur Takisung yang juga diyakini sebagai seorang Wali Allah dan merupakan keturunan generasi ke-5 dari Datu Abulung sendiri. Makam beliau tidak pernah terendam air meskipun air sungai sedang meluap dan makam-makam di sekitarnya tenggelam. Wallahu a'lam bish shawab.Silsilah Syaikh Abdul Hamid (Datu Abulung):Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.Sayyidatuna Fatimah Az Zahra.Sayyidina Hasan Al Mujtaba.Hasan Al Mutsanna.Abdullah Al Mahdi.Musa Al Jun.Abdullah Ar Ridha.Musa Ats Tsani.Muhammad Ats Tsair.Abdullah Al Akbar.Ali As Salami.Sulaiman.Husein.Isa.Abdul Karim.Muta'a.Amir Idris.Amir Qatadah.Ali Akbar.Amir Hasan Abu Sa'ad.Amir Muhammad Abu Numai Al Awwal.Amir Rumaitsah.Amir Ajlan.Sultan Syarif Ali Al Barakat.Sultan Syarif Sulaiman Al Qanuni.Sultan Syarif Bolkiah Shah Alam.Pangeran Syarif Muhammad Tajuddin Al Akbar.Sultan Syarif Saiful Rizal Nurul Alam.Sultan Syarif Muhammad Hasan.Sultan Syarif Ibrahim Ali Omar Shah (Sultan Sarawak Pertama).Syaikh Sulaiman.Syaikh Abdul Majid (Syaikh Tutu).Syaikh Abdul Hamid.
Selengkapnya →