Informasi

Masuk

Manaqib Ulama

Tuan Guru H. Muhammad Khalid
Tuan Guru H. Muhammad Khalid
Manaqib Tuan Guru Muhammad Khalid Tangga Ulin: Sang Pasak BorneoKelahiran dan Pendidikan AwalTuan Guru Muhammad Khalid Tangga Ulin diperkirakan lahir pada tahun 1875 di Desa Padang Basar, Amuntai Utara. Beliau tumbuh di bawah bimbingan sang ayah, Abdurrahman, seorang guru mengaji dari keluarga petani. Dari ayahlah, beliau pertama kali mengenal Al-Qur'an dan dasar-dasar agama.Pada tahun 1890, beliau berangkat ke Nagara untuk mendalami ilmu agama kepada Tuan Guru M. Said. Kala itu, Nagara dikenal sebagai "Serambi Mekkah Kedua" setelah Martapura. Setelah enam tahun menimba ilmu, beliau sempat kembali ke kampung halamannya untuk mengajar selama dua tahun. Beliau juga diketahui pernah berguru kepada Tuan Guru Abdurrahman Tunggulirang (H. Adu) dari Martapura.Rihlah Ilmiah ke Haramain (1898–1909)Haus akan ilmu, beliau memutuskan berangkat ke Mekkah pada tahun 1898. Beliau sempat transit selama tujuh bulan di Malaysia untuk mengajar sebelum akhirnya tiba di Mekkah pada tahun 1899 di usia 24 tahun.Di Masjidil Haram, beliau berguru kepada ulama-ulama besar dunia, di antaranya:Syekh Mahfuz al-TermasiSyekh al-YamaniSyekh Umar SyaththaSyekh Sayyid Abbas al-MalikiSyekh Ahmad Khatib al-MinangkabawiKarena kedalaman pengetahuannya yang luar biasa, beliau tidak hanya belajar tetapi juga dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram. Keteguhan prinsip beliau dalam berpendapat membuatnya dijuluki sebagai “Pasak Borneo” dan “Tauman Hijau”.Reputasi Internasional: Diakui Ulama Al-AzharKealiman beliau terdengar hingga ke Mesir. Para syekh di Universitas Al-Azhar mengakui kedalaman ilmu Tuan Guru Muhammad Khalid.Dikisahkan bahwa Tuan Guru Abdurrasyid (pendiri Arabische School) yang saat itu belajar di Al-Azhar, merasa malu ketika ditanya oleh para ulama Mesir mengenai sosok Tuan Guru Muhammad Khalid yang ternyata belum beliau kenal. Demi mencari tahu, Tuan Guru Abdurrasyid pergi ke Mekkah. Setelah bertemu dan diuji melalui bacaan kitab, Tuan Guru Muhammad Khalid justru menganjurkan beliau segera pulang ke Kalimantan karena ilmu Tuan Guru Abdurrasyid sudah dirasa cukup untuk memimpin masyarakat.Dinamika Politik dan Kepulangan ke AmuntaiPada tahun 1925, gejolak politik antara Dinasti Saudi dan Syarif Husin di Hijaz membuat situasi tidak aman. Hal ini memaksa banyak ulama Banjar, termasuk Tuan Guru Muhammad Khalid, untuk kembali ke kampung halaman.Sekembalinya ke Amuntai, beliau menetap di Tangga Ulin setelah menikah dengan seorang wanita setempat. Di sana, beliau membuka pengajian yang sangat ramai. Karena jamaah yang membeludak hingga tidak tertampung di rumah mertua, seorang murid beliau akhirnya menghadiahkan sebuah rumah khusus untuk pusat pengajian tersebut.Pengembaraan Dakwah di NusantaraMeski telah berusia 57 tahun, semangat dakwah beliau tidak surut. Antara tahun 1932 hingga 1938, beliau memenuhi undangan murid-murid dan pihak kerajaan untuk mengajar di berbagai wilayah:Sumatra dan Malaysia (1932–1936): Beliau berkeliling ke Batu Pahat, Pulau Pinang, Perak, hingga Tungkal (Sumatra), di mana murid-muridnya bahkan membangunkan sebuah rumah untuk beliau.Kutai, Kalimantan Timur (1936–1938): Beliau mengajar atas undangan khusus dari Raja Parkasit.Jejaring Murid dan Warisan KeilmuanBeliau wafat pada tanggal 6 April 1963 dalam usia 86 tahun. Estafet keilmuannya dilanjutkan oleh putra beliau, Tuan Guru Hamdan Khalid, Lc.Hampir seluruh guru awal di Pesantren Rakha dan tokoh-tokoh ulama besar di Hulu Sungai adalah murid beliau. Daftar murid beliau meliputi:Tuan Guru Asy’ari Sulaiman (Tangga Ulin)Tuan Guru Juhri Sulaiman (Tangga Ulin)Tuan Guru Qadhi Ahmad Hassan (Amuntai)K.H. Idham Chalid (Pahlawan Nasional)Tuan Guru Muhammad Ramli (Pamangkih)(Serta puluhan ulama besar lainnya dari Barabai, Kandangan, hingga Martapura).Karya Tulis MonumentalBeliau meninggalkan warisan intelektual berupa kitab-kitab yang menjadi pegangan penuntut ilmu, di antaranya:Risalah Aqidah al-Iman (Akidah)Risalah Tafrid al-Mutafarriqien (Akidah)Lubbah al-Kalimah al-Tayyibah (Akidah)Terjemah Syarah Sittin (Fikih)Risalah Tanqiyah al-Nuwah (Fikih)Risalah Hajji (Fikih)Risalah Faidhah al-Ilahiyyah (Fikih)Risalah Lujnah al-Zahbiyah li Barsah al-Haydhiyah (Fikih)Risalah Tafakkur (Tasawuf)Risalah Nur min al-Sama` (Tasawuf)
Selengkapnya →
Mufti Syekh H. Muhammad Amin Al Banjari
Mufti Syekh H. Muhammad Amin Al Banjari
Manaqib Syekh Mufti H. Muhammad Amin (Datu Amin Banua Anyar): Sang Mufti PejuangSilsilah dan Kekerabatan MuliaSyekh Mufti H. Muhammad Amin, atau yang masyhur disebut Datu Amin Banua Anyar, lahir dari garis keturunan ulama dan pejabat kerajaan. Beliau adalah cucu dari Qadhi H. M. Sa’id, seorang menteri Sultan pada zamannya.Melalui jalur nenek beliau, Tuan Giat (saudara dari Tuan Guwat, istri Datu Kalampayan), Datu Amin masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat dengan keluarga besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan) Martapura.Kepakaran Ilmu: Syariat dan HakikatDatu Amin merupakan ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu agama, terutama bidang Al-Qur'an. Berbekal pendidikan di kampung halaman dan tanah suci Mekkah, beliau tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan alim.Keistimewaan utama beliau adalah kemampuan menghimpun Ilmu Syariat dan Ilmu Hakikat. Dengan kedalaman spiritual ini, beliau mampu merumuskan keputusan hukum secara jitu. Tak heran jika pada masanya, beliau menjadi rujukan utama bagi masyarakat hingga pihak kerajaan untuk dimintai nasihat keagamaan.Masa Muda: Sang Pemburu yang DermawanDatu Amin dikenal sebagai pemuda yang sangat gigih menuntut ilmu. Namun, di balik kekhusyukannya belajar, beliau memiliki sisi humanis yang unik. Beliau sangat senang menjelajahi hutan untuk mengagumi keindahan ciptaan Allah SWT.Sambil tadabur alam, beliau juga berburu. Menariknya, hasil buruan tersebut tidak beliau nikmati sendiri, melainkan digunakan untuk menjamu para murid yang belajar agama kepadanya. Ini menunjukkan sifat pemurah beliau yang luar biasa sejak usia muda.Menjadi Mufti di Tengah Berkecamuknya PerangPuncak pengabdian beliau terjadi pada tahun 1294 H (1876 M), saat Kerajaan Banjar mengangkatnya menjadi Mufti Tua di wilayah Kuin. Jabatan ini beliau emban selama kurang lebih 20 tahun di tengah suasana genting Perang Banjar (1859–1905).Jiwa kepahlawanan dan cinta tanah air yang membara membuat Datu Amin berdiri tegak melawan penjajah Belanda. Beliau dikenal sangat keras dan tegas dalam menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Beliau tidak gentar menghadapi risiko besar demi menumpas kebatilan.Kisah Hijrah: Mencari Tanah yang HarumAwalnya, Datu Amin bermukim di kawasan Sungai Parit (sekarang Pasar Lama). Namun, karena perselisihan dengan Belanda dan keinginan untuk lebih fokus mengajar agama, beliau memutuskan untuk hijrah.Dalam perjalanan hijrah menggunakan perahu menyusuri sungai, beliau melakukan ritual yang unik: di setiap tepian sungai, beliau berhenti untuk mengambil dan mencium aroma tanahnya. Hingga sampailah beliau di suatu wilayah di mana tanahnya mengeluarkan aroma harum. Di sanalah beliau memutuskan untuk menetap, yang kini kawasan tersebut dikenal dengan nama Banua Anyar (Benua Anyar). Di tempat baru ini, beliau membangun sebuah mushalla sebagai pusat dakwah bagi masyarakat.Ketegasan Spiritual dan Karomah (Khawariqul 'Adat)Sebagai ulama besar, Allah SWT membekali Datu Amin dengan berbagai Khawariqul 'Adat (karomah di luar kebiasaan manusia):Kelincahan Luar Biasa: Beliau diceritakan mampu bergerak sangat gesit, melompati jurang dan tebing curam dalam sekejap mata, hingga tampak seperti berpindah tempat (teleportasi) di mata murid-muridnya.Perlindungan dari Penjajah: Saat pasukan Belanda mengepung rumahnya untuk melakukan penangkapan, Datu Amin tetap tenang di tempatnya. Atas izin Allah, beliau tidak tampak oleh mata para tentara. Kabarnya, beliau mengecilkan diri dan duduk di lubang pahatan kayu rumahnya, menyaksikan para penjajah menggeledah dengan tangan hampa.Zuriat yang Alim dan BerpengaruhDatu Amin berhasil mendidik anak-anaknya menjadi tokoh besar yang berpengaruh:Syekh H. M. Yunan: Menjabat sebagai Penghulu di Sungai Bilu, Mufti di Amuntai, dan terakhir sebagai Qadhi di Kandangan (1942 M).Syekh H. Marwan: Seorang hafiz Al-Qur'an yang mewarisi kedalaman ilmu sang ayah dan menurunkan banyak ulama alim di wilayah Banjarmasin serta Hulu Sungai.Wasiat dan Estafet KepemimpinanMenjelang akhir hayatnya, saat kondisi fisik mulai melemah, Datu Amin menunjukkan kearifannya dalam memilih penerus. Beliau berwasiat agar posisi Mufti Banjarmasin selanjutnya diserahkan kepada Syekh Jamaluddin Al-Banjari (Syekh Surgi Mufti Sungai Jingah).Pada tahun 1314 H (1896 M), Syekh Jamaluddin resmi dilantik sebagai Mufti, meneruskan perjuangan dan estafet keilmuan yang telah dibangun oleh Datu Amin Banua Anyar.
Selengkapnya →
KH. Ahmad Hudhori
KH. Ahmad Hudhori
Manaqib K.H. Ahmad Hudhori (Guru Hudari): Pendidik yang Teguh di Jalan DakwahKelahiran dan Nasab MuliaK.H. Ahmad Hudhori, atau yang akrab disapa Guru Hudari, dilahirkan di Martapura pada 8 April 1937. Beliau merupakan putra dari pasangan Ali Tuah dan Husnah.Dari garis ibunda, Guru Hudari memiliki silsilah yang sangat mulia sebagai keturunan ke-6 dari ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan). Garis nasab beliau adalah:Husnah binti Syekh Abdullah Khatib bin Syekh Muhammad Shaleh bin Syekh Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.Masa Pendidikan: Memilih Jalan PesantrenDi masa kecilnya, Guru Hudari sempat mengenyam pendidikan di sekolah bentukan Belanda, yaitu Volksschool, selama tiga tahun. Seharusnya, beliau melanjutkan pendidikan formal ke sekolah Benteng.Namun, ketertarikan beliau pada ilmu agama lebih besar. Beliau memutuskan untuk meninggalkan jalur formal Belanda dan memilih masuk ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Pada saat itu, pesantren tersebut berada di bawah kepemimpinan ulama besar K.H. Kasyful Anwar Al-Banjari.Khidmat di Pondok Pesantren DarussalamSetelah menempuh pendidikan sebagai santri selama kurang lebih 10 tahun, Guru Hudari lulus pada tahun 1959. Berkat kecerdasan dan ketekunannya, beliau langsung dipercaya untuk mengabdi sebagai pengajar di almamaternya sendiri pada tingkat Tahdiri.Selama kurang lebih 18 tahun mengabdi di Darussalam, beliau juga memberikan andil besar dalam dunia dakwah di Martapura dan sekitarnya. Beliau rutin menggelar majelis taklim di kediaman pribadinya serta memimpin majelis di Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Kalampayan).Sifat Mulia dan Kedekatan dengan Abah Guru SekumpulGuru Hudhori dikenal sebagai ulama kharismatik Martapura yang memiliki hubungan sangat erat dengan Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani). Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat tawadu dan murah senyum kepada siapa saja.Kemanisan wajah dan keramahtamahan beliau meninggalkan kesan mendalam. Saking manisnya, Abah Guru Sekumpul memberikan julukan unik kepada beliau, yakni "Senyuman Seksi". Julukan ini menjadi bukti keakraban dan rasa cinta Guru Sekumpul kepada kepribadian beliau yang selalu menyejukkan hati.Lebih dari sekadar murid, Guru Hudhori adalah salah satu orang kepercayaan. Beliau mendapatkan izin langsung dari Abah Guru Sekumpul untuk menyusun naskah manaqib Guru Sekumpul—sebuah kehormatan besar yang beliau terima setelah Tuan Guru Irsyad Zein (Abu Daudi).Diantara Nasihat Beliau"Apabila tulak kesaruan nang ai, jangan bediam ja, umpat bedzikir ikam, munnya ikam bediam ja tapi umpat makan, ikam memakan yang kada halal, orang menyaru ikam nang ai behajat supaya membaca, amal pahalanya gasan si mayyit"WafatSetelah masa pengabdian yang panjang bagi umat, K.H. Ahmad Hudhori berpulang ke rahmatullah pada 23 Agustus 2014 (27 Syawal 1435 H). Beliau mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Kampung Melayu, Martapura. Beliau dimakamkan di Kubah Syekh Abdullah Khatib Tungkaran, Martapura.
Selengkapnya →
Tuan Guru Haji Abdurrasyid
Tuan Guru Haji Abdurrasyid
Manaqib Tuan Guru Abdurrasyid: Perintis Pembaruan Pendidikan Islam di Tanah BanjarKelahiran dan Masa MudaTuan Guru Abdurrasyid lahir pada tahun 1884/1885 M di Desa Pekapuran, Amuntai. Meskipun merupakan anak tunggal, beliau tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, rajin, dan cerdas—jauh dari kesan manja.Ketekunan beliau terlihat sejak dini; tanpa sepengetahuan ayahnya, beliau rajin belajar membaca Al-Qur'an dan berhasil mengkhatamkannya pada usia tujuh tahun. Hal ini menjadi kejutan sekaligus kebanggaan besar bagi sang ayah.Di masa mudanya, beliau menimba ilmu kepada sejumlah ulama di berbagai pengajian langgar dan rumah-rumah guru di Amuntai. Guru-guru beliau di antaranya adalah:Tuan Guru Umar Awang Padang (Kelua)Tuan Guru Ahmad (Sungai Banar)Tuan Guru Jaferi bin Umar (Teluk Betung, Alabio)Tuan Guru Abdurrahman (Pasungkan, Nagara)Beliau merupakan output dari sistem pengajian langgar Nagara yang sangat populer kala itu.Rihlah Ilmiah ke Mesir (1912)Pengaruh Tuan Guru Jaferi bin Umar sangat membekas dalam pemikiran beliau, termasuk dorongan untuk melanjutkan studi ke Mesir. Pada tahun 1912, di usia sekitar 28 tahun, Tuan Guru Abdurrasyid memutuskan berangkat ke Universitas Al-Azhar, Kairo.Keputusan ini tergolong berani dan tidak lazim pada masanya. Saat mayoritas pelajar Banjar memilih Haramayn (Mekkah dan Madinah) sebagai tempat belajar, beliau justru memilih Mesir yang sedang marak dengan ide-ide pembaruan dan gerakan modernisme. Demi cita-cita luhur tersebut, beliau rela meninggalkan istri dan anak di tanah air.Perjuangan di Mesir tidaklah mudah. Beliau berangkat bersama sahabatnya, H. Mansyur dari Johor. Karena saat itu belum ada komunitas pelajar asal Banjar di Mesir, mereka harus berjuang tanpa relasi sedaerah—berbeda dengan kondisi pelajar di Mekkah yang sudah terkoneksi dengan baik. Beliau menempuh studi selama 10 tahun dan berhasil memperoleh ijazah al-Syahadah al-‘Alamiyah li al-Ghuraba pada akhir tahun 1922 M.Kepulangan dan Kiprah PendidikanSetelah menunaikan ibadah haji, beliau kembali ke Amuntai dan mulai berdakwah. Perjalanan pengabdian beliau dimulai sebagai berikut:13 Oktober 1922: Membuka halaqah atau pengajian di rumah mertuanya di Pekapuran.Tahun 1924: Membangun langgar barangkap dengan meniru model pendidikan langgar Nagara.Pengembangan Modern: Sukses dengan model tradisional, beliau mulai merintis sekolah Islam modern yang dilengkapi meja, kursi, dan papan tulis.Arabische School: Karena minat masyarakat yang besar, beliau membangun gedung baru berbentuk huruf U dengan enam lokal kelas. Lembaga inilah yang kemudian dikenal sebagai Arabische School (cikal bakal Pesantren Rakha), dengan jenjang pendidikan dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah.Dalam mengelola sekolah ini, beliau dibantu oleh deretan ulama terkemuka, di antaranya:H. Nasir, H. Basri, H. Usman, H. Muslim, H. Saberan Malisi, H. Abdul Qadir Malisi, H. Tukacil, H. Ahmad Adenan (H. Awang), H.M. Subeli Kaderi, H. M. Arsyad Tangga Ulin, H. Ahmad Mansyur, H. Asya’ari Sulaiman, H. Amir, dan Tuan Guru H. Muh. Rawi.Tuan Guru Abdurrasyid sendiri bertindak sebagai Muallim Wahid (Guru Utama).Karya Tulis KitabParukunan Besar Melayu (masalah fiqih, ketauhidan dan ihsan/akhlak)Sirajul Wahhaj (kisah Isra' Mi'raj yang ditulis dalam bahasa Arab)Masa Akhir dan Warisan KeilmuanPada 22 Agustus 1931, kepemimpinan sekolah diserahkan kepada Tuan Guru Juhri Sulaiman. Beliau kemudian berpindah ke Kandangan untuk memimpin al-Madrasah al-Wathaniah, lalu ke Barabai untuk menghidupkan kembali Madrasah Diniyah Islamiyyah.Setelah tiga tahun berkelana di luar daerah, beliau kembali ke Amuntai dalam kondisi kesehatan yang menurun. Tuan Guru Abdurrasyid wafat pada 4 Februari 1934 dalam usia sekitar 50 tahun.Jejaring dan Pengaruh:Jaringan Horizontal: Beliau berhasil merangkul para ulama sezamannya untuk bersama-sama membangun institusi pendidikan.Jaringan Vertikal (Murid-Murid): Beliau mencetak ulama berpengaruh seperti Tuan Guru Abdul Wahab Sya’rani, Tuan Guru Ahmad Hasan, Tuan Guru Muhammad As’ad, hingga Tuan Guru Abdul Qadir Noor.Tuan Guru Abdurrasyid bukan sekadar alumni pertama Al-Azhar dari kalangan urang Banjar, melainkan seorang motivator ulung yang menginspirasi murid-muridnya untuk menimba ilmu hingga ke Mesir dan menjadi pelopor pembaruan di daerah masing-masing.
Selengkapnya →
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Manaqib Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datuk Kalampayan)Kelahiran dan Nasab MuliaMaulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari Kamis dini hari, 15 Safar 1122 H, bertepatan dengan 19 Maret 1710 M. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah, keluarga muslim yang sangat taat.Dalam kitab Syajaratul Arsyadiyah karya Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari (Mufti Kerajaan Indragiri), disebutkan bahwa beliau memiliki garis keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.Nasab beliau: Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Sagaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama'ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja'far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu'minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.Masa Kecil dan Bakat di IstanaSejak kecil, Allah SWT telah menampakkan kelebihan pada diri beliau. Muhammad Arsyad kecil dikenal sangat patuh dan takzim kepada orang tua, serta jujur dalam pergaulan. Beliau juga dianugerahi kecerdasan luar biasa dan bakat seni, khususnya di bidang lukis dan khat (kaligrafi).Bakat inilah yang mempertemukannya dengan Sultan Tahmidullah. Saat berkunjung ke Lok Gabang, Sultan terpesona melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang saat itu baru berusia sekitar 7 tahun. Sultan kemudian meminta izin kepada orang tua beliau untuk mengasuh dan mendidik Muhammad Arsyad di istana seperti anak kandung sendiri.Kehidupan Pernikahan dan Rihlah IlmiahSetelah dewasa, beliau menikah dengan seorang perempuan salehah bernama Tuan Bajut. Ketika istrinya mengandung anak pertama (Fatimah), keinginan beliau untuk menuntut ilmu ke Tanah Suci Mekkah memuncak. Dengan keikhlasan luar biasa, Tuan Bajut merestui keberangkatan suaminya demi cita-cita mulia.Di Tanah Suci, beliau belajar selama kurang lebih 35 tahun kepada ulama-ulama besar, di antaranya:Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi (Fikih)Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani (Tasawuf/Thariqah)Syekh 'Athaillah bin Ahmad al-MishryBeliau menjalin persahabatan erat dengan Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis. Mereka berempat dikenal sebagai "Empat Serangkai dari Tanah Jawi".Kepulangan dan Peristiwa di BetawiSebelum kembali ke Banjar pada tahun 1186 H (1772 M), beliau sempat singgah di Betawi (Jakarta). Di sana, beliau melakukan pencapaian fenomenal dengan membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang, dan Masjid Pekojan. Sebagai tanda sejarah, di Masjid Jembatan Lima terukir prasasti bahwa arah kiblat masjid tersebut telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh beliau pada 4 Safar 1186 H.Dakwah dan Metode PengajaranSetibanya di Martapura, beliau disambut hangat oleh Sultan Tahmidullah II. Beliau dijuluki sebagai "Matahari Agama". Dalam berdakwah, beliau menggunakan tiga metode utama:Bil-Hal: Memberikan keteladanan melalui tingkah laku sehari-hari.Bil-Lisan: Mengadakan pengajian yang dapat diikuti oleh semua kalangan.Bil-Kitabah: Menulis kitab-kitab sebagai panduan umat.Karya-Karya MonumentalBuah tangan beliau yang paling masyhur adalah Kitab Sabilal Muhtadin, yang menjadi rujukan fikih hingga ke Malaysia, Brunei, dan Thailand Selatan. Karya lainnya meliputi:Kitab Ushuluddin (Tauhid)Tuhfatul Raghibin (Aqidah)Kitab Luqtatul Ajlan (Hukum Wanita)Kitab Fara'idh (Warisan)Kitab an-Nikah, dan lain-lain.Akhir HayatSetelah sekitar 40 tahun mengabdi di Kerajaan Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari wafat pada Selasa, 6 Syawal 1227 H (1812 M) di usia 105 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Kalampayan, sehingga hingga kini beliau masyhur disebut sebagai Datuk Kalampayan.
Selengkapnya →
KH. Muhammad Hanafie Gobit
KH. Muhammad Hanafie Gobit
Manaqib K.H. Muhammad Hanafie Gobit: Ulama Falak dan Pejuang Pendidikan KalimantanLatar Belakang dan SilsilahK.H. Muhammad Hanafie Gobit adalah ulama kharismatik asal Banjarmasin yang dikenal sebagai ahli falak, birokrat, dan tokoh pendidikan. Beliau lahir dari pasangan H. Abdurrahim Gobit (seorang guru di Kampung Bugis) dan Intan.Nama "Gobit" diambil dari nama kakek beliau dari pihak ayah yang berasal dari Suku Banjar asli. Keluarga besar beliau dikenal sebagai keluarga yang sangat mementingkan pendidikan dan ketaatan beragama.Masa Pendidikan: Sang Jenius dari BanjarKecerdasan beliau sudah nampak sejak kecil. Beliau menempuh pendidikan dasar di Inlandche School (sekolah Belanda) di Balikpapan. Selanjutnya, beliau kembali ke Banjarmasin untuk belajar di Madrasah Al-Ashriyyah. Menariknya, pendidikan yang seharusnya ditempuh dalam 5 tahun, berhasil beliau selesaikan hanya dalam waktu 2 tahun (1925-1927).Sembari sekolah formal, beliau juga menekuni "kaji duduk" kepada Tuan Guru Haji Said Midad di Kampung Sungai Jingah. Pada tahun 1931, di usia muda, beliau sudah aktif mendirikan organisasi pelajar Musyawaratuth Thalibin.Studi di Madrasah Ash-Sholatiyah, Mekkah:Pada tahun 1933, atas saran para gurunya, beliau berangkat ke Mekkah. Di Madrasah Ash-Sholatiyah, beliau kembali menunjukkan kejeniusannya:Menyelesaikan pendidikan 10 tahun hanya dalam waktu 6,5 tahun.Memperoleh nilai maksimal (10) untuk semua mata pelajaran (12 mata pelajaran dengan total nilai 120).Lulus dengan predikat Jayyid Mumtaz dan menduduki peringkat pertama pada jenjang Al-Qismul 'Ali.Kehidupan KeluargaSetibanya dari Mekkah pada tahun 1941, beliau dinikahkan dengan Hj. Asiah pada 9 Oktober 1942. Pasangan ini dikaruniai 12 orang putra dan putri yang meneruskan jejak pengabdian beliau di berbagai bidang.Pionir Pendidikan di Kalimantan SelatanPeran K.H. Muhammad Hanafie Gobit dalam dunia pendidikan sangatlah luas, melintasi zaman kolonial hingga kemerdekaan:Sekolah Menengah Tinggi (SMT): Pada 1946, beliau bersama tokoh lain mendirikan SMT, sekolah umum tingkat atas pertama di Kalsel.SMIP 1946: Beliau mempelopori berdirinya Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) yang memadukan 50% ilmu umum dan 50% ilmu agama.Al-Ma'had al-Islami (1952): Lembaga untuk meningkatkan kualitas metode mengajar bagi para guru di Banjarmasin.Pendidikan Tinggi: Beliau adalah tokoh kunci dalam "Badan Persiapan Sekolah Tinggi Islam Kalimantan" (1948) yang nantinya menjadi cikal bakal Fakultas Islamologi ULM dan kemudian bertransformasi menjadi IAIN Antasari (sekarang UIN Antasari). Beliau aktif mengajar sebagai dosen di lembaga tersebut.Kiprah Birokrasi dan OrganisasiBeliau adalah sosok ulama yang juga cakap dalam administrasi negara:Qadhi Besar: Menjabat sejak zaman Jepang hingga awal kemerdekaan (1942-1950).Departemen Agama: Beliau menerima mandat langsung dari pusat untuk menyusun kelengkapan Kantor Departemen Agama di Kalimantan dan menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kalimantan (1951-1963).MUI & DDII: Beliau merupakan Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat di era Buya Hamka dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kalsel yang pertama.Kontribusi Keagamaan dan Ilmu FalakDi masyarakat, beliau sangat dikenal melalui peran-peran berikut:Pemindahan Masjid Jami: Beliau adalah aktor utama pemindahan Masjid Jami Banjarmasin dari daerah Panglima Batur ke lokasinya yang sekarang di Surgi Mufti (1955) untuk menghindari ancaman longsor.Ahli Falak: Beliau adalah rujukan utama dalam ilmu falak (astronomi Islam) di Banjarmasin. Karya tulis beliau di bidang ini mencapai 84 halaman disertai 24 halaman tabel perhitungan.Modernisasi Dakwah: Beliau mengubah pembacaan ma'asyiral (saat salat Jumat) dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia agar jamaah paham, serta memelopori kuliah subuh di Masjid Noor.Wafatnya Sang UlamaSetelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan umat, K.H. Muhammad Hanafie Gobit berpulang ke rahmatullah pada 16 Ramadhan 1410 H (12 April 1990 M) pukul 05.20 WITA. Beliau dimakamkan di Alkah keluarga, di belakang Pesantren Hunafa, Banjarmasin.
Selengkapnya →
Syekh Muhammad Kasyful Anwar
Syekh Muhammad Kasyful Anwar
Manaqib Syekh Muhammad Kasyful Anwar: Sang Arsitek Pendidikan Darussalam MartapuraKelahiran dan Akar PendidikanSyekh Muhammad Kasyful Anwar dilahirkan di Kampung Melayu, Martapura, pada 4 Rajab 1304 H pukul 22.00 malam. Beliau merupakan putra dari pasangan Haji Ismail dan Hajjah Maryam, pasangan yang dikenal serasi dan bertakwa.Pendidikan awal beliau dimulai di lingkungan keluarga. Karena saat itu sekolah formal atau madrasah belum tersedia, beliau menimba ilmu kepada para ulama di kampung halaman, di antaranya:K.H. Ismail bin H. Ibrahim (Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari).Syekh Abdullah Khotib bin H. Muhammad Sholeh.Rihlah Ilmiah Pertama ke Tanah Suci (1313 H)Melihat kecerdasan sang cucu, kakek beliau (H. Muhammad Arsyad) dan nenek beliau (Hj. Siti Aisyah) tergerak untuk membawa seluruh keluarga ke Mekkah pada tahun 1313 H demi meneruskan pendidikan beliau.Di Mekkah, beliau sangat rajin menuntut ilmu. Namun, ujian berat datang berturut-turut:Tahun 1315 H: Ayahanda beliau, H. Ismail, wafat saat usia Syekh Kasyful Anwar baru 11 tahun.Tahun 1317 H: Ibunda beliau menyusul wafat dua tahun kemudian. Keduanya dimakamkan di Ma’la.Meski menjadi yatim piatu di usia muda, semangat beliau tidak surut. Beliau berguru kepada ulama-ulama besar di Masjidil Haram, seperti:Syekh Umar Hamdan Al-Mahrus (Muhaddist Al-Haramain)Syekh Sayyid Ahmad bin Abu Bakar Syatha (Putra penulis kitab I’anatuth Thalibin)Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki (Dijuluki "Sibawayhi" pada zamannya)Syekh Sayyid Muhammad Amin Al KutbiSyekh Muhammad Yahya Al YamaniSyekh Said bin Muhammad Al YamaniSyekh Sayyid Ahmad bin Hasan Al Atthas (penulis kitab Tadzikurnnas)Syekh Umar ba Junaid (Mufti Syafi'iyah)Syekh Muhammad Sholeh bin Muhammad ba fadhalSyekh Muhammad Ahyad Al BughuriKepulangan dan Kepemimpinan di DarussalamSetelah 17 tahun belajar, beliau kembali ke tanah air pada Rabiul Awwal 1330 H. Di usia 26 tahun, beliau menikah dengan Halimah binti Ja'far.Kiprah monumental beliau dimulai ketika memimpin Madrasah Darussalam periode ketiga (dimulai tahun 1922 M). Di tangan beliaulah sistem pendidikan Darussalam mengalami revolusi:Memperkenalkan sistem klasikal (jenjang kelas).Menyusun kurikulum yang terstruktur.Menyusun kitab-kitab pelajaran sendiri karena minimnya buku teks saat itu.Karya Tulis Beliau:Risalah Tauhid (Ilmu Ushuluddin)Risalah Fiqhiyyah (Masalah Fikih)Risalah Tajwidil Qur'anDurusut TashrifSirah Sayyidil Mursalin (Sejarah Nabi)Mendidik Kader UlamaPada tahun 1930 M, beliau sempat kembali ke Mekkah selama 3 tahun untuk mengajar sekaligus mendidik dua keponakan beliau yang kelak menjadi ulama besar, yaitu Syekh Anang Sya'rani Arif dan Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Tuan Guru Bangil).Kesuksesan beliau juga terlihat dari kader-kader yang meneruskan kepemimpinan Darussalam, seperti K.H. Abdul Qodir Hasan, K.H. Salim Ma'ruf, hingga K.H. Badruddin.Kepribadian dan Keteladanan HidupSecara fisik, Syekh Kasyful Anwar berperawakan sedang (sekitar 155 cm), berkulit sawo matang, dan memiliki suara yang berwibawa. Meski secara ekonomi beliau tergolong berkecukupan dari hasil berdagang emas dan intan serta hasil perkebunan karet, beliau memilih hidup sangat sederhana.Beliau memegang prinsip bahwa harta tidak boleh memperbudak manusia, melainkan harus menjadi alat untuk beramal di jalan Allah. Sikap qana'ah (merasa cukup) dan ikhlas selalu terpancar dalam keseharian beliau.WafatSyekh Muhammad Kasyful Anwar berpulang ke rahmatullah pada malam Senin, 18 Syawal 1359 H pukul 21.45, dalam usia 55 tahun. Beliau dimakamkan di Kampung Melayu, Martapura. Uniknya, tanggal wafat beliau sama dengan tanggal wafat Datuk Kalampayan, yakni pada bulan Syawal.Kalam BeliauSYEKH Kasyful Anwar al-Banjari pernah berujar: "Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak bisa disebut ULAMA, meski ia memiliki kitab setinggi langit. Ia adalah ulama su' yang disifatkan Allah dalam Al-Qur'an, seumpama keledai yang membawa beberapa kitab namun ia tak sadar apa yang ia bawa melainkan hanya beban berat"Beliau lanjut menasihati: "Janganlah engkau mengaji (menimba ilmu) melainkan ilmu yang menambah gemar kepada akhirat dan menzuhudkan pada dunia. Jangan pula mengaji melainkan kepada guru yang mengerti dan takut kepada Allah, dengan mengerjakan kewajiban dan meninggalkan segala yang dilarang"."Hendaknya kita beristighfar manakala melakukan dosa, kemudian ikuti dengan berbuat kebaikan sholawat dan lainnya, agar dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT".
Selengkapnya →
KH. Abdussamad, BA
KH. Abdussamad, BA
KH. Abdussamad, BA bin Darmawan, lahir di Desa Ujung Murung, Amuntai, Jum’at, 27 April 1945 M (bertepatan dengan 14 Jumadil Awwal 1364 H). Pendidikan tingkat dasar di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) Ujung Murung (1959). Kemudian untuk tingkatan tsanawiyah dan ‘aliyah beliau tempuh di Pondok Pesantren “Rasyidiyah Khalidiyah” (Rakha) Amuntai (1965). Beliau sempat menyelesaikan pendidikan sarjana muda pada kuliah Fakultas Ushuluddin, Amuntai. Berprofesi sebagai guru agama, sekaligus beliau adalah Pimpinan Pondok Pesantren “Ar-Raudhah” periode 2012 sampai akhir hayat beliau tahun 2026. Beliau juga mengelola Majelis taklim “Raudhatul Muhsinin” Pasar Senin.
Selengkapnya →
Habib Abu Bakar bin Salim Al-Habsyi
Habib Abu Bakar bin Salim Al-Habsyi
Manaqib Habib Abu Bakar Alhabsy: Sang Wali Mastur Guru Para Ulama BanjarSosok Guru Besar yang TersembunyiHabib Abu Bakar Alhabsy dikenal sebagai seorang Wali Allah yang Mastur (tersembunyi). Meski beliau tidak suka menonjolkan diri, kemuliaan ilmu beliau terpancar dari deretan muridnya yang merupakan ulama-ulama besar di Kalimantan Selatan. Di antaranya adalah:K.H. Zaini Bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul)K.H. Badaruddin (Guru Ibad Martapura)K.H. Samman Mulia dan K.H. Samman Djalil (Martapura)Habib Umar (Guru Umar Janggut, Bati-Bati)K.H. Jahri (Muallim Haji Jahri, Haur Gading)K.H. Syukur (Muallim Syukur, Banjarmasin)Oleh para muridnya, beliau akrab dipanggil dengan sebutan Abah Habib Abu Bakar.Nasab dan Rihlah KeilmuanBeliau adalah putra dari Habib Salim Alhabsy, seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, yang nasabnya bersambung mulia hingga ke Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.Semasa muda, Habib Abu Bakar menimba ilmu di Pulau Jawa. Beliau belajar di Pondok Pesantren Al-Khairiyah, Surabaya, serta beberapa pondok pesantren lainnya. Guru-guru beliau yang masyhur di antaranya adalah Habib Abu Bakar Bilfagih (Darul Hadits Malang) dan Habib Muhammad Ba’bud (Lawang).Kiprah di Banjarmasin: Sang "Habib Dahlia"Sekitar tahun 1978, beliau kembali ke Kalimantan Selatan. Beliau pertama kali menetap di Jalan Dahlia II, Banjarmasin Barat. Karena menetap dan mengajar cukup lama di sana, masyarakat sekitar sering memanggil beliau dengan sebutan Habib Dahlia.Semasa hidupnya, beliau sangat terbuka menerima tamu dari kalangan mana pun. Beliau sering memberikan pencerahan agama maupun nasihat kehidupan. Namun, beliau tetap menjaga kesederhanaan dan menjauh dari kemewahan serta ketenaran. Selain mengajar, beliau juga pernah mengabdi sebagai khatib di Masjid Daruttaqwa Basirih (salah satu masjid tertua di Banjarmasin) serta mengabdi sebagai penghulu.Karamat Habib Abu Bakar AlhabsyKewalian beliau sering kali nampak melalui kejadian-kejadian di luar nalar (karamat) yang disaksikan langsung oleh para muridnya.Kisah Muallim Haji Jahri (Amuntai)Suatu ketika, Muallim Haji Jahri (pendiri Ponpes Raudlatul Muta'allimin Haur Gading) mendatangi beliau untuk meminta petunjuk masalah yang sedang dihadapinya. Belum sempat Muallim Jahri berbicara, Habib Abu Bakar seketika menyuruhnya membuka sebuah kitab. Ajaibnya, kitab tersebut langsung terbuka pada bab yang membahas solusi atas permasalahan yang hendak diutarakan Muallim Jahri. Beliau sudah mengetahui niat tamunya sebelum sepatah kata pun terucap.Kisah Muallim Syukur (Banjarmasin)Pernah seseorang bertanya masalah agama kepada Muallim Syukur, namun beliau menyarankan orang tersebut menemui Habib Abu Bakar. Setelah bertemu, Habib Abu Bakar menyuruh orang itu kembali ke Muallim Syukur dengan membawa secarik kertas. Ternyata, kertas itu berisi petunjuk letak kitab dan halaman spesifik di lemari Muallim Syukur yang membahas masalah tersebut. Padahal sebelumnya, Muallim Syukur sudah mencari berkali-kali di kitab yang sama namun tidak menemukannya. Muallim Syukur pun mengakui kealpaannya dan memohon ampun atas kekurang telitiannya di hadapan Habib Abu Bakar.Akhir HayatHabib Abu Bakar Alhabsy wafat pada usia yang cukup sepuh, antara 90 hingga 100 tahun. Beliau dimakamkan di Kampung Keramat Basirih, berdekatan dengan makam ulama besar lainnya, Habib Hamid bin Abbas Bahasyim (Habib Basirih). Hingga kini, makam beliau menjadi salah satu tujuan ziarah bagi masyarakat yang mengharap keberkahan dari sang Wali Mastur.
Selengkapnya →
KH Syaifuddin Zuhri
KH Syaifuddin Zuhri
Manaqib K.H. Syaifuddin Dzuhri: Abah Guru Banjar Indah yang Sejuk dan SantunKelahiran dan Nasab MuliaK.H. Syaifuddin Dzuhri lahir pada 20 Oktober 1952 di Dalam Pagar, Martapura. Beliau merupakan garis keturunan langsung dari ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampayan).Berdasarkan pencatatan Perkumpulan Zuriyat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, nasab beliau adalah:K.H. Syaifuddin Dzuhri bin K.H. Abdurrahman bin K.H. Ismail Khatib bin K.H. Ibrahim bin K.H. Sholeh bin K.H. Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.Beliau juga memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan tokoh-tokoh ulama besar lainnya, seperti almarhum Guru Irsyad Zein (Abu Daudi) dan bersepupu dengan almarhum Tuan Guru Anang Djazouly Seman Martapura. Oleh para jemaah dan pecintanya (muhibbin), beliau akrab disapa dengan panggilan penuh takzim: Abah Guru Banjar Indah.Kiprah Dakwah di Majelis Bani IsmailAbah Guru Banjar Indah dikenal sebagai sosok ulama kharismatik yang menjadi teladan bagi masyarakat, khususnya di Banjarmasin. Beliau adalah pimpinan Majelis Taklim Bani Ismail yang berlokasi di Banjar Indah, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Majelis ini telah berdiri kokoh sejak tahun 2009-2010 silam.Setiap pekan, beliau rutin mengisi tausiah dengan jadwal sebagai berikut:Kamis Malam: Khusus jemaah laki-laki.Sabtu Pagi: Khusus jemaah wanita.Metode Dakwah dan Rujukan Kitab KuningDalam menyampaikan pesan-pesan agama, Abah Guru Banjar Indah dikenal dengan gaya bicara yang sejuk dan santun. Beliau selalu merujuk pada kitab-kitab mu'tabarah yang menjadi pegangan ulama Ahlussunnah Waljamaah. Beberapa kitab yang rutin beliau bacakan antara lain:Minhajul 'Abidin (Kitab Tasawuf karya Imam Ghazali).Kifayatul Atqiya' wa Minhajul Ashfiya (Karya Sayyid Bakri Al-Makki).Sirajut Thalibin (Karya Syekh Ihsan bin Dahlan al-Jampesi).Al-Anwar al-Muhammadiyyah (Kitab sejarah dan manaqib Nabi Muhammad SAW).Murid dan Saksi Hidup Guru SekumpulBanyak jemaah merasakan bahwa gaya penyampaian beliau memiliki kemiripan dengan ulama kharismatik K.H. Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul). Hal ini tidaklah mengherankan, karena Abah Guru Banjar Indah merupakan salah satu murid senior yang telah berkhidmat dan menjadi saksi hidup perjuangan Guru Sekumpul sejak masa muda.Dalam dakwahnya, beliau sering menyisipkan hikayat atau kisah para ulama terdahulu beserta karomahnya. Beliau juga sering mewariskan amalan-amalan yang telah beliau praktikkan sendiri, sehingga pengajian beliau selalu dirindukan oleh ribuan jemaah setiap minggunya.Berpulang ke RahmatullahDunia Islam, khususnya di Kalimantan Selatan, kembali berduka. Pada hari yang mulia, 27 Ramadhan 1445 H atau bertepatan dengan 7 April 2024, Abah Guru Banjar Indah berpulang ke rahmatullah. Kita kehilangan sosok pewaris para Nabi yang secara konsisten berdakwah dengan kesejukan, kerendahan hati, dan kasih sayang kepada sesama umat.
Selengkapnya →