Adab
Bangun atau Tidur Lagi Setelah Subuh?
Menimbang Hikmah Fajar dalam Wahyu dan Ilmu Kesehatan
Mustami Rasyid Ridha
·
05 Mar 2026
·
Paradigma Profetik Edukasi
Fajar, Titik Balik Kehidupan Manusia
Suara adzan Subuh baru saja meluruh ke dalam kesunyian fajar, membawa pesan kedamaian yang dalam. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, momen ini sering kali menjadi titik awal dari sebuah pergulatan batin yang melelahkan. Di balik kelambu atau dalam hangatnya selimut, muncul dorongan yang begitu kuat untuk memejamkan mata kembali. Inilah yang kita kenal sebagai fenomena "balas dendam tidur" (sleep revenge). Setelah semalam suntuk terjaga demi pekerjaan, hobi digital, atau bahkan ibadah di bulan Ramadhan, tubuh seolah menagih utang istirahatnya tepat saat cahaya fajar mulai mengintip.
Bagi sebagian orang, tidur lagi terasa seperti kebutuhan tubuh setelah malam yang pendek. Namun dalam tradisi Islam, waktu fajar justru dikenal sebagai waktu yang penuh keberkahan—saat doa dipanjatkan, dzikir dianjurkan, dan aktivitas hari dimulai.
Menariknya, ilmu kesehatan juga menunjukkan bahwa pada waktu fajar tubuh manusia sebenarnya sedang berada pada kondisi paling siap untuk bangun dan beraktivitas. Sistem biologis tubuh mulai aktif, energi meningkat, dan otak berada pada kondisi optimal untuk berpikir.
Karena itu muncul pertanyaan penting: apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh dan jiwa ketika seseorang tidur lagi setelah Subuh?
Artikel ini bertujuan menjelaskan fenomena tersebut dengan melihat dari berbagai sudut pandang: dalil Al-Qur’an dan hadis, pandangan para ulama termasuk ulama Banjar, serta temuan sains modern mengenai tubuh manusia.
Dalam ajaran Islam, waktu fajar justru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Ia bukan sekadar pergantian malam menuju siang, tetapi merupakan awal keberkahan hari seorang mukmin. Pada saat inilah dzikir dianjurkan, doa dipanjatkan, dan aktivitas hari dimulai dengan semangat ibadah.
Allah SWT bahkan bersumpah dengan waktu fajar dalam Al-Qur’an, sebuah bentuk penegasan bahwa waktu ini memiliki nilai yang sangat penting.
Allah berfirman:
وَالْفَجْرِ
Artinya: “Demi fajar.” (QS. Al-Fajr: 1)
Sumpah Allah atas nama fajar menandakan adanya rahasia besar yang tersimpan di dalamnya. Dalam tradisi komunikasi Al-Qur'an, ketika Allah bersumpah dengan waktu, itu artinya waktu tersebut memiliki nilai strategis bagi eksistensi manusia. Rasa kantuk yang kita rasakan adalah "ambang batas" yang memisahkan antara jiwa yang rata-rata dengan jiwa yang unggul
Bagi sebagian orang, tidur lagi terasa seperti kebutuhan tubuh setelah malam yang pendek. Namun dalam tradisi Islam, waktu fajar justru dikenal sebagai waktu yang penuh keberkahan—saat doa dipanjatkan, dzikir dianjurkan, dan aktivitas hari dimulai.
Menariknya, ilmu kesehatan juga menunjukkan bahwa pada waktu fajar tubuh manusia sebenarnya sedang berada pada kondisi paling siap untuk bangun dan beraktivitas. Sistem biologis tubuh mulai aktif, energi meningkat, dan otak berada pada kondisi optimal untuk berpikir.
Karena itu muncul pertanyaan penting: apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh dan jiwa ketika seseorang tidur lagi setelah Subuh?
Artikel ini bertujuan menjelaskan fenomena tersebut dengan melihat dari berbagai sudut pandang: dalil Al-Qur’an dan hadis, pandangan para ulama termasuk ulama Banjar, serta temuan sains modern mengenai tubuh manusia.
Dalam ajaran Islam, waktu fajar justru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Ia bukan sekadar pergantian malam menuju siang, tetapi merupakan awal keberkahan hari seorang mukmin. Pada saat inilah dzikir dianjurkan, doa dipanjatkan, dan aktivitas hari dimulai dengan semangat ibadah.
Allah SWT bahkan bersumpah dengan waktu fajar dalam Al-Qur’an, sebuah bentuk penegasan bahwa waktu ini memiliki nilai yang sangat penting.
Allah berfirman:
وَالْفَجْرِ
Artinya: “Demi fajar.” (QS. Al-Fajr: 1)
Sumpah Allah atas nama fajar menandakan adanya rahasia besar yang tersimpan di dalamnya. Dalam tradisi komunikasi Al-Qur'an, ketika Allah bersumpah dengan waktu, itu artinya waktu tersebut memiliki nilai strategis bagi eksistensi manusia. Rasa kantuk yang kita rasakan adalah "ambang batas" yang memisahkan antara jiwa yang rata-rata dengan jiwa yang unggul
Napas, Alam dan Doa Nabi
Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap waktu Subuh dan fajar. Waktu ini digambarkan sebagai awal kehidupan baru bagi alam semesta setelah malam yang panjang.
Allah SWT berfirman:
وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ
Artinya: “Dan demi Subuh apabila ia mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)
Para mufassir, seperti Ibnu Katsir dan Ar-Razi, menjelaskan bahwa kata tanaffasa secara harfiah berarti "bernapas". Bayangkan alam semesta sebagai sebuah organisme besar yang sedang menghirup napas pertamanya setelah "mati suri" dalam kegelapan malam. Saat fajar menyingsing, udara menjadi lebih murni, tanaman mulai melepaskan oksigen, dan seluruh makhluk mulai terjaga.
Selain itu, Allah SWT secara jelas dan langsung memerintahkan kita untuk memanfaatkan waktu fajar sebagai momentum komunikasi dengan Nya:
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ
Artinya : "Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada di petang hari dan ketika kamu berada di waktu Subuh." (QS. Ar-Rum: 17)
Rasulullah SAW juga secara khusus mendoakan keberkahan bagi umatnya pada waktu pagi.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.” (HR. Tirmidzi no. 1212)
Doa ini menunjukkan bahwa waktu pagi adalah waktu yang memiliki potensi keberkahan yang besar bagi kehidupan manusia, baik dalam ibadah maupun aktivitas dunia.
Keberkahan (barakah) dalam Islam bukan sesuatu yang kosong tanpa makna. Barakah artinya bertambahnya kebaikan dalam hidup. Dari sini, kita bisa melihat keberkahan pagi dalam tiga sisi:
• Sisi ibadah: Pagi adalah waktu doa mudah dikabulkan. Kekuatan ruhani yang kita bangun di waktu ini jadi “baterai” untuk menguatkan semua aktivitas sepanjang hari.
• Sisi energi: Suasana tenang saat fajar sangat cocok dengan ketenangan hati. Pada saat ini, fokus dan konsentrasi biasanya lebih kuat karena belum banyak gangguan.
• Sisi waktu: Satu jam di pagi hari sering lebih produktif daripada beberapa jam di siang atau sore. Seolah-olah waktu pagi “dilipatgandakan” manfaatnya.
Peralihan dari malam yang sunyi ke pagi yang mulai hidup adalah susunan waktu yang Allah atur agar manusia bangun dalam keadaan siap. Lalu, bagaimana para ulama dulu memaknai dan memanfaatkan waktu yang sangat berharga ini?
Allah SWT berfirman:
وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ
Artinya: “Dan demi Subuh apabila ia mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)
Para mufassir, seperti Ibnu Katsir dan Ar-Razi, menjelaskan bahwa kata tanaffasa secara harfiah berarti "bernapas". Bayangkan alam semesta sebagai sebuah organisme besar yang sedang menghirup napas pertamanya setelah "mati suri" dalam kegelapan malam. Saat fajar menyingsing, udara menjadi lebih murni, tanaman mulai melepaskan oksigen, dan seluruh makhluk mulai terjaga.
Selain itu, Allah SWT secara jelas dan langsung memerintahkan kita untuk memanfaatkan waktu fajar sebagai momentum komunikasi dengan Nya:
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ
Artinya : "Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada di petang hari dan ketika kamu berada di waktu Subuh." (QS. Ar-Rum: 17)
Rasulullah SAW juga secara khusus mendoakan keberkahan bagi umatnya pada waktu pagi.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.” (HR. Tirmidzi no. 1212)
Doa ini menunjukkan bahwa waktu pagi adalah waktu yang memiliki potensi keberkahan yang besar bagi kehidupan manusia, baik dalam ibadah maupun aktivitas dunia.
Keberkahan (barakah) dalam Islam bukan sesuatu yang kosong tanpa makna. Barakah artinya bertambahnya kebaikan dalam hidup. Dari sini, kita bisa melihat keberkahan pagi dalam tiga sisi:
• Sisi ibadah: Pagi adalah waktu doa mudah dikabulkan. Kekuatan ruhani yang kita bangun di waktu ini jadi “baterai” untuk menguatkan semua aktivitas sepanjang hari.
• Sisi energi: Suasana tenang saat fajar sangat cocok dengan ketenangan hati. Pada saat ini, fokus dan konsentrasi biasanya lebih kuat karena belum banyak gangguan.
• Sisi waktu: Satu jam di pagi hari sering lebih produktif daripada beberapa jam di siang atau sore. Seolah-olah waktu pagi “dilipatgandakan” manfaatnya.
Peralihan dari malam yang sunyi ke pagi yang mulai hidup adalah susunan waktu yang Allah atur agar manusia bangun dalam keadaan siap. Lalu, bagaimana para ulama dulu memaknai dan memanfaatkan waktu yang sangat berharga ini?
Perspektif Ulama dan Khazanah Keilmuan Islam
Para ulama sejak dahulu menekankan pentingnya memanfaatkan waktu pagi. Mereka memandang waktu fajar sebagai waqt ghanimah, yaitu waktu keuntungan besar yang tidak boleh disia-siakan,
• Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ ‘Ulumuddin:
اعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ النَّهَارِ وَقْتٌ شَرِيفٌ فَلَا تُضَيِّعْهُ بِالنَّوْمِ
Artinya:
“Ketahuilah bahwa awal siang adalah waktu yang mulia, maka jangan engkau sia-siakan dengan tidur.”
• Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah
Beliau juga menegaskan bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh keberkahan dan peluang besar bagi manusia. Beliau mengatakan bahwa siapa yang menyia-nyiakan waktu pagi dengan tidur akan kehilangan bagian besar dari keberkahan hari tersebut.
• Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Juga memberikan perhatian pada adab menjaga waktu pagi dalam kitabnya Sabilal Muhtadin, beliau menekankan bahwa ibadah tidak hanya bertujuan menggugurkan kewajiban, tetapi juga membangun adab kepada Allah, termasuk menjaga waktu-waktu yang mulia seperti setelah Subuh.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, matahari ilmu dari tanah Banjar, memberikan penekanan yang sangat dalam pada aspek "Adab". Dalam pandangan beliau, seorang hamba yang baru saja "menghadap" Sang Raja Alam Semesta dalam shalat Subuh, tidaklah sopan jika ia langsung berbalik punggung dan mendengkur kembali di hadapan-Nya. Beliau mengajarkan bahwa waktu setelah Subuh adalah saat di mana "jatah" rahmat dibagikan. Mengambil posisi tidur berarti membiarkan jatah tersebut terlewat begitu saja.
Para ulama terdahulu, termasuk para kiai di Kalimantan Selatan, sering kali menulis kitab atau memberikan pengajian halqah di langgar justru di saat fajar masih remang. Mereka memahami bahwa kejernihan pikiran di waktu fajar adalah karunia yang tidak bisa digantikan oleh kopi terpahit sekalipun di siang hari. Namun, tradisi yang agung ini mulai terkikis oleh gelombang modernitas yang serba terbalik.
• Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ ‘Ulumuddin:
اعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ النَّهَارِ وَقْتٌ شَرِيفٌ فَلَا تُضَيِّعْهُ بِالنَّوْمِ
Artinya:
“Ketahuilah bahwa awal siang adalah waktu yang mulia, maka jangan engkau sia-siakan dengan tidur.”
• Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah
Beliau juga menegaskan bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh keberkahan dan peluang besar bagi manusia. Beliau mengatakan bahwa siapa yang menyia-nyiakan waktu pagi dengan tidur akan kehilangan bagian besar dari keberkahan hari tersebut.
• Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Juga memberikan perhatian pada adab menjaga waktu pagi dalam kitabnya Sabilal Muhtadin, beliau menekankan bahwa ibadah tidak hanya bertujuan menggugurkan kewajiban, tetapi juga membangun adab kepada Allah, termasuk menjaga waktu-waktu yang mulia seperti setelah Subuh.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, matahari ilmu dari tanah Banjar, memberikan penekanan yang sangat dalam pada aspek "Adab". Dalam pandangan beliau, seorang hamba yang baru saja "menghadap" Sang Raja Alam Semesta dalam shalat Subuh, tidaklah sopan jika ia langsung berbalik punggung dan mendengkur kembali di hadapan-Nya. Beliau mengajarkan bahwa waktu setelah Subuh adalah saat di mana "jatah" rahmat dibagikan. Mengambil posisi tidur berarti membiarkan jatah tersebut terlewat begitu saja.
Para ulama terdahulu, termasuk para kiai di Kalimantan Selatan, sering kali menulis kitab atau memberikan pengajian halqah di langgar justru di saat fajar masih remang. Mereka memahami bahwa kejernihan pikiran di waktu fajar adalah karunia yang tidak bisa digantikan oleh kopi terpahit sekalipun di siang hari. Namun, tradisi yang agung ini mulai terkikis oleh gelombang modernitas yang serba terbalik.
Pergeseran Budaya dan Tantangan Modernitas
Dalam kehidupan modern, kebiasaan tidur setelah Subuh sering muncul karena perubahan pola hidup masyarakat. Banyak orang begadang hingga larut malam, baik karena pekerjaan, hiburan, maupun penggunaan media sosial. Akibatnya ketika Subuh tiba tubuh terasa sangat lelah dan keinginan untuk kembali tidur menjadi sangat kuat. Fenomena ini sering disebut sebagai “balas dendam tidur”.
Di Kalimantan Selatan sendiri, tradisi bangun pagi sebenarnya masih cukup kuat di kalangan masyarakat pedesaan. Banyak orang yang setelah Subuh langsung memulai aktivitas seperti bekerja, belajar, atau berdagang.
Namun di kalangan masyarakat perkotaan dan generasi muda, kebiasaan ini mulai berubah. Banyak yang justru menghabiskan waktu pagi dengan tidur atau menggunakan ponsel untuk melihat media sosial. Dampaknya bisa terasa luas, baik bagi individu maupun masyarakat.
Secara pribadi, seseorang bisa kehilangan kesempatan berharga di pagi hari. Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk belajar, berpikir jernih, atau merencanakan kegiatan hari itu justru terlewat karena tidur kembali. Dan kebiasaan ini juga bisa melemahkan daya saing umat, Jika waktu yang paling produktif yaitu pagi hari lebih sering dihabiskan untuk tidur, maka peluang untuk berkembang dalam ilmu, inovasi, dan ekonomi menjadi semakin kecil.
Karena itu, hilangnya kebiasaan “melek Subuh” bukan sekadar masalah rasa kantuk. Ini juga berkaitan dengan disiplin hidup dan karakter masyarakat. Ketika seseorang tidak terbiasa memanfaatkan waktu fajar, sering kali sisa harinya menjadi kurang teratur dan kurang produktif.
Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menyesuaikan gaya hidup modern dengan pola hidup yang lebih sehat dan seimbang, sesuai dengan kebutuhan tubuh dan juga tuntunan nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh agama.
Di Kalimantan Selatan sendiri, tradisi bangun pagi sebenarnya masih cukup kuat di kalangan masyarakat pedesaan. Banyak orang yang setelah Subuh langsung memulai aktivitas seperti bekerja, belajar, atau berdagang.
Namun di kalangan masyarakat perkotaan dan generasi muda, kebiasaan ini mulai berubah. Banyak yang justru menghabiskan waktu pagi dengan tidur atau menggunakan ponsel untuk melihat media sosial. Dampaknya bisa terasa luas, baik bagi individu maupun masyarakat.
Secara pribadi, seseorang bisa kehilangan kesempatan berharga di pagi hari. Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk belajar, berpikir jernih, atau merencanakan kegiatan hari itu justru terlewat karena tidur kembali. Dan kebiasaan ini juga bisa melemahkan daya saing umat, Jika waktu yang paling produktif yaitu pagi hari lebih sering dihabiskan untuk tidur, maka peluang untuk berkembang dalam ilmu, inovasi, dan ekonomi menjadi semakin kecil.
Karena itu, hilangnya kebiasaan “melek Subuh” bukan sekadar masalah rasa kantuk. Ini juga berkaitan dengan disiplin hidup dan karakter masyarakat. Ketika seseorang tidak terbiasa memanfaatkan waktu fajar, sering kali sisa harinya menjadi kurang teratur dan kurang produktif.
Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menyesuaikan gaya hidup modern dengan pola hidup yang lebih sehat dan seimbang, sesuai dengan kebutuhan tubuh dan juga tuntunan nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh agama.
Harmonisasi Wahyu dan Biologi Manusia
Ilmu kesehatan modern memberikan penjelasan menarik mengenai kondisi tubuh manusia pada waktu pagi. Seolah-olah menjadi "penerjemah" bagi kebenaran wahyu yang telah turun 14 abad silam. Temuan biologi membuktikan bahwa tubuh manusia memang dirancang untuk terjaga di waktu fajar.
1. Lonjakan Hormon Pagi dan Kesiapan Pikiran
Penelitian Clow dkk. (2010) menemukan fenomena yang disebut Cortisol Awakening Response, yaitu peningkatan hormon kortisol setelah seseorang bangun tidur. Tubuh mengalami kenaikan hormon kortisol sekitar 30 menit setelah bangun, kadar hormon ini bisa meningkat sekitar 50–75 persen. Banyak orang mengira kortisol selalu buruk karena sering disebut sebagai hormon stres. Padahal dalam kondisi normal, hormon ini justru berfungsi seperti “alarm alami” tubuh yang membantu otak menjadi lebih waspada dan siap beraktivitas.
Karena itu, waktu setelah bangun di pagi hari sebenarnya adalah saat yang sangat baik untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan ketenangan dan fokus. Dalam tradisi Islam, momen ini sangat cocok digunakan untuk dzikir dan wirid setelah shalat Subuh. Ketika dzikir dilakukan pada saat tubuh sedang mengalami peningkatan energi alami ini, pikiran menjadi lebih tenang dan fokus. Energi yang muncul di pagi hari tidak berubah menjadi stres, tetapi menjadi kekuatan batin yang membantu seseorang menjalani aktivitas sepanjang hari.
2. Jam Biologis Tubuh dan Energi Pagi
Penelitian Scheer dkk. (2009) menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki jam biologis alami yang sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari. Ketika cahaya fajar muncul, tubuh menerima sinyal bahwa waktu untuk bangun dan mulai beraktivitas telah tiba. Cahaya pagi membantu tubuh mengatur kembali kerja organ, seperti metabolisme dan irama detak jantung. Karena itu, setelah bangun di waktu Subuh, tubuh sebenarnya sedang berada dalam proses mempersiapkan energi untuk memulai hari.
Namun jika seseorang kembali tidur setelah Subuh, proses ini bisa terganggu. Akibatnya muncul kondisi yang disebut sleep inertia, yaitu keadaan ketika seseorang bangun tetapi merasa pusing, berat di kepala, dan tidak bersemangat. Inilah sebabnya mengapa orang yang tidur lagi di pagi hari sering merasa lebih lelah dibandingkan mereka yang tetap bangun dan memulai aktivitas sejak Subuh.
3. Badan Keton: Energi Bersih untuk Otak
Ada satu hal menarik yang terjadi pada tubuh di pagi hari, terutama ketika seseorang sedang berpuasa atau belum makan sejak malam. Pada saat itu tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Ketika lemak dipecah, tubuh menghasilkan zat yang disebut badan keton. Zat ini menjadi sumber energi bagi otak. Penelitian Osman dkk. (2020) menunjukkan bahwa badan keton dapat membantu otak bekerja lebih jernih dibandingkan energi dari gula. Karena itu banyak orang merasa lebih fokus dan mudah berpikir pada waktu pagi.
Pada saat itu, otak mereka sebenarnya sedang menggunakan energi yang sangat bersih dan stabil, sehingga membantu konsentrasi menjadi lebih tajam dan ingatan lebih kuat. Dengan demikian, ketika Al-Qur'an memerintahkan kita bertasbih di waktu pagi, sains membuktikan bahwa pada saat itulah seluruh tubuh berada pada kondisi terbaik untuk mulai beraktivitas. Pada waktu ini, berbagai sistem tubuh seperti hormon dan proses kerja sel mulai aktif dan siap bekerja secara optimal.
1. Lonjakan Hormon Pagi dan Kesiapan Pikiran
Penelitian Clow dkk. (2010) menemukan fenomena yang disebut Cortisol Awakening Response, yaitu peningkatan hormon kortisol setelah seseorang bangun tidur. Tubuh mengalami kenaikan hormon kortisol sekitar 30 menit setelah bangun, kadar hormon ini bisa meningkat sekitar 50–75 persen. Banyak orang mengira kortisol selalu buruk karena sering disebut sebagai hormon stres. Padahal dalam kondisi normal, hormon ini justru berfungsi seperti “alarm alami” tubuh yang membantu otak menjadi lebih waspada dan siap beraktivitas.
Karena itu, waktu setelah bangun di pagi hari sebenarnya adalah saat yang sangat baik untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan ketenangan dan fokus. Dalam tradisi Islam, momen ini sangat cocok digunakan untuk dzikir dan wirid setelah shalat Subuh. Ketika dzikir dilakukan pada saat tubuh sedang mengalami peningkatan energi alami ini, pikiran menjadi lebih tenang dan fokus. Energi yang muncul di pagi hari tidak berubah menjadi stres, tetapi menjadi kekuatan batin yang membantu seseorang menjalani aktivitas sepanjang hari.
2. Jam Biologis Tubuh dan Energi Pagi
Penelitian Scheer dkk. (2009) menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki jam biologis alami yang sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari. Ketika cahaya fajar muncul, tubuh menerima sinyal bahwa waktu untuk bangun dan mulai beraktivitas telah tiba. Cahaya pagi membantu tubuh mengatur kembali kerja organ, seperti metabolisme dan irama detak jantung. Karena itu, setelah bangun di waktu Subuh, tubuh sebenarnya sedang berada dalam proses mempersiapkan energi untuk memulai hari.
Namun jika seseorang kembali tidur setelah Subuh, proses ini bisa terganggu. Akibatnya muncul kondisi yang disebut sleep inertia, yaitu keadaan ketika seseorang bangun tetapi merasa pusing, berat di kepala, dan tidak bersemangat. Inilah sebabnya mengapa orang yang tidur lagi di pagi hari sering merasa lebih lelah dibandingkan mereka yang tetap bangun dan memulai aktivitas sejak Subuh.
3. Badan Keton: Energi Bersih untuk Otak
Ada satu hal menarik yang terjadi pada tubuh di pagi hari, terutama ketika seseorang sedang berpuasa atau belum makan sejak malam. Pada saat itu tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Ketika lemak dipecah, tubuh menghasilkan zat yang disebut badan keton. Zat ini menjadi sumber energi bagi otak. Penelitian Osman dkk. (2020) menunjukkan bahwa badan keton dapat membantu otak bekerja lebih jernih dibandingkan energi dari gula. Karena itu banyak orang merasa lebih fokus dan mudah berpikir pada waktu pagi.
Pada saat itu, otak mereka sebenarnya sedang menggunakan energi yang sangat bersih dan stabil, sehingga membantu konsentrasi menjadi lebih tajam dan ingatan lebih kuat. Dengan demikian, ketika Al-Qur'an memerintahkan kita bertasbih di waktu pagi, sains membuktikan bahwa pada saat itulah seluruh tubuh berada pada kondisi terbaik untuk mulai beraktivitas. Pada waktu ini, berbagai sistem tubuh seperti hormon dan proses kerja sel mulai aktif dan siap bekerja secara optimal.
Pembiasaan Diri Melalui Disiplin Fajar
Disiplin bangun pagi sebagai kurikulum latihan mental ( riyadhah ) yang paling efektif. Mengubah kebiasaan tidur setelah Subuh bukan sekadar tentang manajemen jam, melainkan tentang merebut kembali kendali atas kehendak diri.
Untuk memperbaiki kebiasaan diri, kita perlu melakukan "scaffolding" atau pembangunan kebiasaan secara bertahap. Pagi hari tidak boleh dibiarkan kosong, karena kekosongan adalah undangan bagi rasa kantuk Seseorang belajar menahan rasa kantuk demi memanfaatkan waktu yang lebih bermanfaat.
Kegiatan sederhana seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, belajar, atau olahraga ringan dapat memberikan dampak positif bagi tubuh dan jiwa. Kebiasaan ini juga membantu membangun disiplin hidup yang lebih baik.
Di Kalimantan Selatan, kita dapat meneladani adab para ulama Banjar yang memanfaatkan waktu pagi untuk wirid, menuntut ilmu, dan berdakwah kepada masyarakat. Tradisi ini terbukti mampu membentuk generasi yang kuat secara spiritual sekaligus produktif dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk memperbaiki kebiasaan diri, kita perlu melakukan "scaffolding" atau pembangunan kebiasaan secara bertahap. Pagi hari tidak boleh dibiarkan kosong, karena kekosongan adalah undangan bagi rasa kantuk Seseorang belajar menahan rasa kantuk demi memanfaatkan waktu yang lebih bermanfaat.
Kegiatan sederhana seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, belajar, atau olahraga ringan dapat memberikan dampak positif bagi tubuh dan jiwa. Kebiasaan ini juga membantu membangun disiplin hidup yang lebih baik.
Di Kalimantan Selatan, kita dapat meneladani adab para ulama Banjar yang memanfaatkan waktu pagi untuk wirid, menuntut ilmu, dan berdakwah kepada masyarakat. Tradisi ini terbukti mampu membentuk generasi yang kuat secara spiritual sekaligus produktif dalam kehidupan sehari-hari.
Analisis, Hikmah
Kita perlu memahami masalah tidur setelah Subuh dengan sikap yang bijak dan seimbang. Dalam hukum Islam, tidur setelah Subuh pada dasarnya tidak diharamkan secara mutlak. Namun banyak ulama memandangnya kurang baik (makruh) karena bisa membuat seseorang kehilangan banyak keutamaan dan keberkahan waktu pagi.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang harus bekerja pada malam hari, seperti pekerja shift malam atau tenaga medis yang berjaga semalaman? Dalam keadaan seperti ini, Islam memberikan kelonggaran. Jika seseorang benar-benar membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga dan menjaga kesehatan, maka tidur tersebut tidak menjadi masalah. Ia dapat meniatkan tidurnya sebagai cara untuk mengembalikan energi agar bisa kembali beribadah dan bekerja dengan baik. Ketika bangun nanti, ia tetap bisa menjaga adab dan memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.
Namun bagi kita yang tidur hanya karena rasa malas, perlu diingat bahwa waktu pagi adalah waktu yang sangat berharga. Jika kita menyia-nyiakannya, berarti kita telah menukar kesempatan besar yang penuh keberkahan dengan rasa kantuk yang hanya sementara.
Beberapa hikmah yang dapat diambil dari pembahasan ini antara lain:
• Latihan takwa melalui pengendalian diri Menahan rasa kantuk setelah Subuh merupakan bentuk latihan disiplin spiritual.
• Keselarasan wahyu dan tubuh manusia Waktu fajar dimuliakan oleh syariat, dan pada saat yang sama tubuh manusia juga berada pada kondisi biologis yang paling siap untuk beraktivitas.
• Teladan ulama dalam memanfaatkan waktu Para ulama sejak dahulu menjadikan waktu pagi sebagai saat terbaik untuk belajar, menulis, dan berdakwah, dalam Membangun umat yang produktif, bukan umat yang terbuang waktunya.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang harus bekerja pada malam hari, seperti pekerja shift malam atau tenaga medis yang berjaga semalaman? Dalam keadaan seperti ini, Islam memberikan kelonggaran. Jika seseorang benar-benar membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga dan menjaga kesehatan, maka tidur tersebut tidak menjadi masalah. Ia dapat meniatkan tidurnya sebagai cara untuk mengembalikan energi agar bisa kembali beribadah dan bekerja dengan baik. Ketika bangun nanti, ia tetap bisa menjaga adab dan memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.
Namun bagi kita yang tidur hanya karena rasa malas, perlu diingat bahwa waktu pagi adalah waktu yang sangat berharga. Jika kita menyia-nyiakannya, berarti kita telah menukar kesempatan besar yang penuh keberkahan dengan rasa kantuk yang hanya sementara.
Beberapa hikmah yang dapat diambil dari pembahasan ini antara lain:
• Latihan takwa melalui pengendalian diri Menahan rasa kantuk setelah Subuh merupakan bentuk latihan disiplin spiritual.
• Keselarasan wahyu dan tubuh manusia Waktu fajar dimuliakan oleh syariat, dan pada saat yang sama tubuh manusia juga berada pada kondisi biologis yang paling siap untuk beraktivitas.
• Teladan ulama dalam memanfaatkan waktu Para ulama sejak dahulu menjadikan waktu pagi sebagai saat terbaik untuk belajar, menulis, dan berdakwah, dalam Membangun umat yang produktif, bukan umat yang terbuang waktunya.
Penutup
Waktu Subuh adalah pintu rahmat yang dibukakan oleh Allah setiap hari. Ia adalah awal keberkahan, awal produktivitas, dan awal perjalanan spiritual seorang mukmin. Karena itu, alangkah baiknya jika waktu ini tidak disia-siakan dengan tidur atau aktivitas yang tidak bermanfaat. Pilihlah untuk bernapas bersama alam. Pilihlah untuk menjadi bagian dari umat yang didoakan keberkahannya oleh Baginda Nabi,
Rasulullah SAW bersabda:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.” (HR. Tirmidzi no. 1212)
Semoga Allah memberikan keberkahan pada pagi hari kita, menjadikannya awal kebaikan bagi tubuh, pikiran, dan iman kita.
Wallahu a’lam.
Rasulullah SAW bersabda:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.” (HR. Tirmidzi no. 1212)
Semoga Allah memberikan keberkahan pada pagi hari kita, menjadikannya awal kebaikan bagi tubuh, pikiran, dan iman kita.
Wallahu a’lam.
Kutipan / Dalil
QURAN
QS. Al-Fajr: 1
QURAN
QS. At-Takwir: 18
QURAN
QS. Ar-Rum: 17
HADITH
Al-Bukhari, M. bin I. (2001). Shahih al-Bukhari. Dar Thauq al-Najah
HADITH
Al-Tirmidzi, M. I. (n.d.). Sunan al-Tirmidzi. Dar al-Gharb al-Islami
HADITH
Muslim, I. al-H. (2006). Shahih Muslim. Dar Ihya al-Turath al-Arabi
KITAB
Al-Banjari, M. A. (1979). Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-Din. Percetakan Bina Usaha
KITAB
Al-Ghazali, I. (2011). Ihya' Ulum ad-Din (S. A. al-Idrus, Ed.; Vol. 1). Dar al-Minhaj
KITAB
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, M. (1998). Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad (S. al-Arna'uth & Q. al-Arna'uth, Eds.; Vol. 2). Muassasah al-Risalah
KITAB
Ibnu Katsir, I. (1999). Tafsir al-Qur'an al-Adzim (S. al-Salamah, Ed.; Vol. 1). Dar Tayyibah
Daftar Pustaka
- Clow, A., Hucklebridge, F., Stalder, T., Evans, P., & Thorn, L. (2010). "The cortisol awakening response: More than a measure of HPA axis function". Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 35(1), 97-103. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2009.12.011
- Osman, F., et al. (2020). "Ramadan fasting and metabolic health". Nutrients, 12(8), 2377. https://doi.org/10.3390/nu12082377
- • Scheer, F. A. J. L., Hilton, M. F., Mantzoros, C. S., & Shea, S. A. (2009). "Adverse metabolic and cardiovascular consequences of circadian misalignment". Proceedings of the National Academy of Sciences, 106(11), 4453-4458. https://doi.org/10.1073/pnas.0907779106