Masuk
Rutinan Malam Selasa

Nurul Muhibbin Barabai

Oleh: Muhammad Khaidir
13 Apr 2026, 21:47
Catatan pengajian malam selasa ponpes Nurul Muhibbin Barabai, Senin 13 April 2026.
​Masih mengkaji kitab riyadusshalihin, kita sampai kepada bab ke 41, lanjutan daripada bab ke 40 yaitu membahas tentang berbakti kepada orang tua dan silaturrahim, dan lanjut ke bab 41 membahas tentang haramnya durhaka kepada kedua orang tua, dan haramnya memutus hubungan tali silaturrahim.
​Bab yang ke 40 itu merupakan menggemarkan kepada kita untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua baik yang hidup maupun yang sudah wafat dengan mendoakan mereka, dan dorongan untuk berbuat baik kepada keluarga, dalam artian menjaga jangan sampai hubungan dengan keluarga itu terputus.
Bab yang ke 41 ini tentang mengharamkan durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus hubungan keluarga.
Disini kita perlu mengkaji bagaimana itu durhaka, karena Allah dalam Al-Qur'an hanya menyatakan:
​وَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ
​Jangan mengatakan ceh kepada kedua orang tua, dan ini di haramkan, dan jangan kalian menggertak orang tua, itu perkataan yang di haramkan oleh kedua orang tua.
Contohnya sang anak minta sesuatu kepada orang tua dengan gertakan, misalnya kalau ibu atau ayah tidak membelikan sesuatu itu, maka aku berhenti sekolah. Ibu dan ayah rela berhutang demi membelikan permintaan anaknya, karena menggertak orang tua nya tadi. Itu contoh perkataan yang diharamkan oleh Allah.
Hati-hati terhadap tingkah laku kita terhadap kedua orang tua kita. Seandainya beda agama pun tetap kita tidak boleh durhaka kepada orang tua kita, apalagi yang satu agama.
Berbakti kepada kedua orang tua itu adalah suatu amaliyah yang sangat cepat meninggikan derajat dan menambah kemuliaan kita di sisi Allah, walaupun kita tidak ahli ibadah, kita hanya mengerjakan yang wajib saja, tapi kalau soal berbakti kepada kedua orang tua, dia nomor satu.
Yang kita khawatirkan itu orang tua kita sakit hati terhadap kelakuan kita, tapi orang tua takut menegur kita, dan ini paling jahat manusia sudah, haji, umroh ratusan kali pun tidak ada gunanya kalau orang tua kita sakit hati kepada kita, kalau ingin mendapatkan keridhaan Allah dengan cepat, maka bahagiakan kedua orang tua kita selagi mereka masih hidup.
​وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
​Bagaimana pun kita beribadah, kalau orang tua kita sakit hati terhadap kita.
Orang yang berakal itu adalah orang yang mencari ibadah yang tinggi nilainya, paling besar ganjarannya, yaitu adalah ibadah birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua.
Jangan sampai kita di pandangan Allah itu anak yang durhaka, namun definisi durhaka ini tidak jelas ukurannya seperti apa, namun dalam Al-Qur'an jangan engkau berkata ceh kepada kedua orang tua.
Jadi hanya para ulama yang merumuskan lebih luas tentang bagaimana ukuran kita bisa di sebut bakti, dan mana yang disebut durhaka.
Yang disebut keluarga ini ada 2 pandangan para ulama, pandangan yang lebih kuat yang namanya keluarga yang dilarang putus hubungan keluarganya adalah seperti, keponakan, sepupu, paman (siapa-siapa yang di nisbahkan keluarga dengan kita) sejauh apapun kalau masih terhubung dengan keluarga itu maka itu tidak mengapa, namun hanya kadarnya yang berbeda.
Jangan sampai kita termasuk orang yang memutus tali silaturrahim, kita melaksanakan shalat sunnat, shalat yang wajib, puasa sunnat ataupun puasa wajib, karena kalau yang lebih wajib kita tinggalkan, otomatis ibadah yang lainnya tidak akan Allah pandang.
Ibadah kalau kita kerjakan karena Allah, maka nilainya luar biasa.
​"Aku berlindung kepada Allah daripada ilmu yang tidak bermanfaat"
​اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
​Allah berfirman:
​فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ
​Apa sekiranya jikalau kalian itu berkuasa, kalian itu mampu, bahwa kalian itu berbuat kerusakan dimuka bumi.
​Punya kemampuan, punya kekuasaaan, lalu ternyata berbuat kerusakan, mengadakan acara kemaksiatan, punya kekuasaan, tidak perduli lagi dengan keluarga, maka itulah orang yang Allah laknat mereka, Allah tuli kan, dan Allah buta kan penglihatan mereka, kalau sudah Allah laknat, maka orang itu tidak mempan lagi dengan nasehat, dengan Al-Qur'an.
​Allah berfirman:
​وَقَالَ تَعَالَىٰ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوْا إِلَّا إِيَّاهُ
​Telah menetapkan Tuhan engkau (Allah yang menciptakan, yang memberi, yang menjaga), maka janganlah menyembah kepada selain-Nya.
​وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
​Orang yang ingin berjihad fisabilillah pun harus berizin kepada kedua orang tua, karena kedudukan jihad itu dibawah daripada berbakti kepada kedua orang tua, dan dengan kedua orang tua itu berbuat baik lah engkau kepadanya.
Orang yang memberi kita sesuatu, lalu kita balas dengan mendoakannya, maka kita termasuk orang yang sudah berbuat baik (إِحْسَانًا), dan kepada orang tua itu tidak cukup hanya berbuat adil, tapi harus ihsan juga.
Apabila kedua orang tua engkau itu sudah tua, maka jangan engkau berkata kepada kedua orang tua itu uf, dan jangan menggertak (mengancam) kedua orang tua, dan katakan kepada kedua orang tua itu perkataan yang mulia, jangan sampai nada kita melebihi daripada nada bicara orang tua, dan rendahkan sayapmu kepada kedua orang tua daripada kehinaan disebabkan karena kasih sayang kepada kedua orang tua.
​رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
​Maka doakan kedua orang tua kita, dan kita sayangi kedua orang tua kita.
​فَلَا تَقُلْ لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
​Rasulullah saw bersabda:
Maukah kalian aku kabarkan dengan paling besar dosa besar, Rasulullah mengulang kata itu 3x, lalu Rasulullah mengatakan:
​Mensekutukan Allah
​Durhaka kepada kedua orang tua
​Sumpah palsu, bersaksi palsu
​قَوْلُ الزُّوْرِ
​Jangan sampai kita lakukan, karena ini dosa besar yang paling besar.
Kita boleh taat kepada atasan kita, tapi kita tidak boleh merasa hina dengan atasan kita, tapi kalau kepada Allah itu kita wajib menghinakan diri dan ini termasuk ibadah. Kita taat serta menghinakan diri itu hanya kepada Allah, karena itu semua milik Allah.
​وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِصَوَابِ
​@Ibnathalib_

Komentar (0)

Belum ada komentar.