Rutinan Malam Rabu
Nurul Muhibbin Balangan
Oleh: Muhammad Khaidir
27 Jan 2026, 17:15
Catatan pengajian malam Rabu, Majelis dzikir dan ilmu Nurul Muhibbin Balangan, Selasa 27 Januari 2026.
KH Muhammad Bakhiet AM
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat agung, yang menunjukkan betapa pentingnya urusan hati dalam kehidupan seorang hamba.
Doa tersebut adalah:
اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami agar tetap di atas ketaatan kepada-Mu.”
Doa ini sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa permohonan kepada Allah agar hati tetap lurus dan taat adalah perkara yang sangat penting.
Hati manusia mudah sekali terbolak-balik. Hari ini semangat beribadah, besok lalai. Hari ini ingat Allah, besok sibuk dengan selain Allah. Maka Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini agar hati kita selalu tertuju kepada Allah dan kepada ketaatan.
Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
ثُمَّ قَالَ:
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
(HR. Muslim no. 2654)
“Sesungguhnya hati anak-anak Adam semuanya berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati. Allah membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.” Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa: “Ya Allah, Wahai Yang Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami agar tetap di atas ketaatan kepada-Mu.”
Doa ini boleh dibaca di mana saja, termasuk ketika sujud, asalkan kita memahami maknanya dan menghadapkannya dalam hati.
Hati Adalah Pusat Kebaikan dan Keburukan
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
(HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599)
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”
Hati adalah titik sentral. Semua kehendak berasal dari hati. Ingin berbuat baik, itu dari hati. Ingin berbuat jahat, itu juga dari hati. Maka pekerjaan terbesar seorang mukmin adalah mengurus hatinya.
Para salikin, orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah, menjadikan urusan hati sebagai pekerjaan harian mereka. Hati mesti selalu diurus, karena hati adalah tempat berkehendak.
Kita shalat lima waktu, menuntut ilmu, beramal shalih. Tetapi kalau kita tidak punya perhatian khusus terhadap hati kita, maka kita akan mudah lalai. Mengurus hati adalah bagian dari ibadah.
Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(QS. Asy-Syu'ara': 88–89)
“Pada hari itu tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
Di hari kiamat nanti, harta yang kita sedekahkan, harta yang kita wariskan, semuanya tidak berguna kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang terurus, hati yang bersih, hati yang selamat.
Tugas kita adalah memeriksa hati kita.
Kalau dalam empat rakaat shalat kita ada satu rakaat saja yang benar-benar fokus menghadap Allah tanpa memikirkan macam-macam, itu sudah sangat luar biasa.
Menjaga hati itu lebih susah daripada menjaga seribu kambing. Maka Nabi ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
Kita juga diajarkan doa:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(QS. Al-Baqarah: 201)
“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Makna hasanah fid-dunya bukan sekadar banyak harta, banyak uang, atau tinggi jabatan. Tetapi:
Diberi kemudahan beribadah.
Diberi kesehatan.
Diberi kecukupan.
Diberi taufik untuk melakukan kebaikan.
Banyak orang tahu kebaikan, tetapi tidak diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkannya.
Rasulullah ﷺ menceritakan tentang Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه:
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَحْبُو حَبْوًا
فَقُلْتُ: لِمَ ذَاكَ؟
قِيلَ: بِكَثْرَةِ مَالِهِ
(HR. At-Tirmidzi no. 3748 – Hasan)
“Aku masuk surga, lalu aku melihat Abdurrahman bin Auf berjalan merangkak. Aku bertanya: ‘Mengapa demikian?’ Dijawab: ‘Karena banyaknya hartanya.’”
Beliau tetap masuk surga, tetapi tertahan karena lamanya hisab harta, meskipun hartanya halal.
Tujuan Kita Mengurus Hati
Yang kita inginkan adalah:
Dimudahkan beribadah kepada Allah.
Dihindarkan dari bala dan musibah yang mengganggu ibadah.
Wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Masuk surga.
Jangan sampai hati ini berkehendak kepada sesuatu yang mempersulit masuk surga.
Hati adalah tempat tumbuhnya hal-hal terpuji.
Ikhlas berasal dari hati.
Khusyuk berasal dari hati.
Takut kepada Allah berasal dari hati.
Kejujuran (sidq) adalah ahwal yang diridhai Allah.
والله أعلم بالصواب
KH Muhammad Bakhiet AM
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat agung, yang menunjukkan betapa pentingnya urusan hati dalam kehidupan seorang hamba.
Doa tersebut adalah:
اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami agar tetap di atas ketaatan kepada-Mu.”
Doa ini sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa permohonan kepada Allah agar hati tetap lurus dan taat adalah perkara yang sangat penting.
Hati manusia mudah sekali terbolak-balik. Hari ini semangat beribadah, besok lalai. Hari ini ingat Allah, besok sibuk dengan selain Allah. Maka Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini agar hati kita selalu tertuju kepada Allah dan kepada ketaatan.
Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
ثُمَّ قَالَ:
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
(HR. Muslim no. 2654)
“Sesungguhnya hati anak-anak Adam semuanya berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati. Allah membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya.” Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa: “Ya Allah, Wahai Yang Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami agar tetap di atas ketaatan kepada-Mu.”
Doa ini boleh dibaca di mana saja, termasuk ketika sujud, asalkan kita memahami maknanya dan menghadapkannya dalam hati.
Hati Adalah Pusat Kebaikan dan Keburukan
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
(HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599)
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”
Hati adalah titik sentral. Semua kehendak berasal dari hati. Ingin berbuat baik, itu dari hati. Ingin berbuat jahat, itu juga dari hati. Maka pekerjaan terbesar seorang mukmin adalah mengurus hatinya.
Para salikin, orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah, menjadikan urusan hati sebagai pekerjaan harian mereka. Hati mesti selalu diurus, karena hati adalah tempat berkehendak.
Kita shalat lima waktu, menuntut ilmu, beramal shalih. Tetapi kalau kita tidak punya perhatian khusus terhadap hati kita, maka kita akan mudah lalai. Mengurus hati adalah bagian dari ibadah.
Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(QS. Asy-Syu'ara': 88–89)
“Pada hari itu tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
Di hari kiamat nanti, harta yang kita sedekahkan, harta yang kita wariskan, semuanya tidak berguna kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang terurus, hati yang bersih, hati yang selamat.
Tugas kita adalah memeriksa hati kita.
Kalau dalam empat rakaat shalat kita ada satu rakaat saja yang benar-benar fokus menghadap Allah tanpa memikirkan macam-macam, itu sudah sangat luar biasa.
Menjaga hati itu lebih susah daripada menjaga seribu kambing. Maka Nabi ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
Kita juga diajarkan doa:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(QS. Al-Baqarah: 201)
“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Makna hasanah fid-dunya bukan sekadar banyak harta, banyak uang, atau tinggi jabatan. Tetapi:
Diberi kemudahan beribadah.
Diberi kesehatan.
Diberi kecukupan.
Diberi taufik untuk melakukan kebaikan.
Banyak orang tahu kebaikan, tetapi tidak diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkannya.
Rasulullah ﷺ menceritakan tentang Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه:
دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَحْبُو حَبْوًا
فَقُلْتُ: لِمَ ذَاكَ؟
قِيلَ: بِكَثْرَةِ مَالِهِ
(HR. At-Tirmidzi no. 3748 – Hasan)
“Aku masuk surga, lalu aku melihat Abdurrahman bin Auf berjalan merangkak. Aku bertanya: ‘Mengapa demikian?’ Dijawab: ‘Karena banyaknya hartanya.’”
Beliau tetap masuk surga, tetapi tertahan karena lamanya hisab harta, meskipun hartanya halal.
Tujuan Kita Mengurus Hati
Yang kita inginkan adalah:
Dimudahkan beribadah kepada Allah.
Dihindarkan dari bala dan musibah yang mengganggu ibadah.
Wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Masuk surga.
Jangan sampai hati ini berkehendak kepada sesuatu yang mempersulit masuk surga.
Hati adalah tempat tumbuhnya hal-hal terpuji.
Ikhlas berasal dari hati.
Khusyuk berasal dari hati.
Takut kepada Allah berasal dari hati.
Kejujuran (sidq) adalah ahwal yang diridhai Allah.
والله أعلم بالصواب