Detail Guru
KH. Annur Hidayatullah
Tentang Guru
Biografi KH. Annur Hidayatullah: Ulama Muda Ahli Ilmu Alat dan Penulis Kitab yang Produktif
Profil dan Silsilah Keulamaan
KH. Annur Hidayatullah bin H. Lukmanul Hakim Al-Alabi dilahirkan pada hari Sabtu, 5 Juli 1982 M di Desa Tapus Dalam, Kecamatan Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara (Amuntai), Kalimantan Selatan. Beliau dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sederhana namun sangat berpegang teguh pada nilai-negara agama.
Ayahanda beliau bernama H. Muhammad Lukmanul Hakim bin H. Tabrani bin Yahya. Sedangkan dari garis ibundanya, Hj. Nur Asyikin binti Hj. Noor Sammah binti Hj. Maryam, garis keturunan beliau menyambung langsung kepada KH. Abdussamad, yang pada zamannya terkenal sebagai salah satu ulama besar di wilayah Alabio.
Masa Kecil: Karakter yang Berbeda dari Anak Sebayanya
Sejak masa kanak-kanak, KH. Annur Hidayatullah berada di bawah bimbingan dan pengawasan ketat dari kakek beliau sendiri, H. Tabrani, serta saudara-saudara kakeknya yang merupakan tokoh ulama, yaitu Guru Ahmad Ghazali, Guru Muhammad Bustani, dan Guru Bukhari. Berkat lingkungan suci ini, benih cinta ibadah sudah tertanam kuat di hati beliau sejak dini, bahkan sebelum beliau memahami ilmu agama secara mendalam.
Saat menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah, ketertarikan beliau terhadap ilmu agama mulai berkembang pesat. Di luar jam sekolah, beliau rutin mendatangi rumah Guru Bukhari untuk memperdalam bacaan Al-Qur'an.
Beliau memiliki sifat pembawaan yang sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya. Ketika anak-anak lain gemar menghabiskan waktu untuk bermain, beliau justru menarik diri dari dunia bermain. Keseharian beliau lebih banyak dihabiskan dengan duduk khusyuk di majelis-majelis taklim, menjaga salat berjamaah di masjid, serta lebih gemar bergaul dan bertukar pikiran dengan orang-orang dewasa.
Masa Remaja: Perjuangan Sepeda 15 Km dan Nilai Sebuah Khidmat
Ketika menginjak jenjang Madrasah Tsanawiyah, KH. Annur Hidayatullah mulai diperkenalkan dengan "ilmu alat" (Nahwu dan Saraf) oleh kakek-kakek beliau serta para ulama kampung setempat. Guna memuaskan dahaga keilmuannya, beliau juga aktif menimba ilmu hingga ke luar daerah.
Beliau berguru kepada KH. Ahmad Riduan Lok Bangkai Amuntai. Perjalanan menuntut ilmu ini dipenuhi dengan nilai perjuangan yang tinggi; dua kali dalam sepekan, beliau mengayuh sepeda sejauh 15 kilometer dari rumahnya menuju tempat sang guru demi bisa mengaji dan berkhidmat. Selama kurang lebih tiga tahun bermulazamah dengan KH. Ahmad Riduan, di sanalah kesadaran beliau tumbuh mengenai betapa pentingnya seorang murid berkhidmat (mengabdi) dengan tulus kepada gurunya demi meraih keberkahan ilmu.
Menjadi Santri Unggulan di Pamangkih dan Martapura
Setamat dari Madrasah Tsanawiyah di usia sekitar 15 tahun, beliau melanjutkan rihlah keilmuannya ke Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih, Barabai. Keberangkatan ini merupakan perintah dari kakek-kakek yang membimbingnya, serta telah mengantongi restu dan izin dari KH. Ahmad Riduan Lok Bangkai.
Selama nyantri di Pesantren Ibnul Amin, KH. Annur Hidayatullah dikenal sebagai santri yang sangat cerdas, rajin, dan cekatan. Beliau selalu berhasil meraih nilai tertinggi di setiap momen ujian kelas. Atas kecerdasannya tersebut, pihak pesantren memberikan kepercayaan besar kepada beliau untuk memimpin jalannya mudzakarah (diskusi ilmiah kitab) antarsantri di mushalla pesantren setiap hari, baik siang maupun malam.
Setelah menempuh pendidikan selama kurang lebih 4,5 tahun di Pamangkih, pada tahun 2003/2004, beliau diarahkan oleh para guru dan kakeknya untuk melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Beliau menimba ilmu di Darussalam hingga menyelesaikan studinya pada tahun 2007. Selama berada di Martapura, beliau juga berkesempatan mereguk berkah ilmu dari ulama-ulama besar, di antaranya:
KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul)
KH. M. Syukeri Unus
KH. Abdus Syukur
KH. Munawwar
KH. Kamaluddin, dan ulama kharismatik lainnya.
Pendirian Ponpes Al-Masykuriyah dan Produktivitas Karya Tulis
Tepat pada tanggal 24 Februari 2008, KH. Annur Hidayatullah memulai babak baru perjuangannya dengan mendirikan sebuah pondok pesantren yang mengkhususkan diri pada pendalaman ilmu alat di Martapura, yang diberi nama Pondok Pesantren Al-Masykuriyah.
Di samping kesibukannya mengajar di pondok dan mengisi berbagai majelis taklim, beliau dikenal sebagai figur ulama muda yang sangat produktif dalam menulis risalah dan kitab kuning. Hingga tahun 2016 saja, tercatat sudah ada lebih dari 40 buah kitab karya beliau yang diterbitkan oleh Majelis Taklim Al-Masykuriyah, Sekumpul, Martapura. Beberapa di antara karya tulis beliau meliputi:
Kaifiyah al-‘Ibadah fi Suluk al-Sa’adah (2005)
Tuhfah al-Thalibin fi Qawa’id al-Nahwiyyin (2005)
Al-Mishbah fi Asas al-Balaghah (2006)
Risalah al-Tuhfah al-Mardhiyyah (2008)
Dalail al-Tawhid ila Ma’rifah al-Wahid (2010)
Ru’yah al-Shalihin fi Asyraf al-Mursalin (2010)
Mi’raj al-Salikin ila Maqam al-Shadiqin (2011)
Risalah al-Asrar al-Rabbaniyyah (2011)
Ilmu Tasawuf fi Tahliyati al-Qulub (2011)
Syari’at Perempuan bagi Jalan Keselamatan
Risalah Kitab Tiga Karamah Manusia
Karakteristik Personal dan Kewibawaan Mimbar
Secara fisik, KH. Annur Hidayatullah memiliki perawakan sedang dengan kulit sawo matang. Wajah beliau bulat panjang berisi dengan dahi lebar, selalu mengenakan kacamata, serta memiliki rambut keras yang selalu tertata rapi, memancarkan penampilan yang bersih dan berwibawa.
Beliau dikenal luas sebagai pribadi yang berakhlak luhur, lemah lembut, sopan santun, serta sangat ramah kepada siapa pun, terutama kepada kaum yang lemah dan fakir miskin. Rumah kediaman beliau selalu terbuka lebar bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari syiar pengajian agama.
Setiap kali beliau berbicara menyampaikan ilmu di mimbar pengajian, para jemaah akan terpana mendengarkan untaian kata-kata hikmah serta penjelasan luas yang tiada habisnya keluar dari lisan beliau—bahkan saking luasnya penjelasan tersebut, para murid sering kali tidak mampu mencatat seluruh khazanah yang disampaikan. Karunia lain yang Allah berikan adalah kekuatan vokal beliau; suara beliau yang keras, lantang, dan tegas mampu terdengar jelas hingga ke barisan shaf paling belakang jemaah, sekalipun tanpa bantuan alat pengeras suara.
Jadwal Rutinan
KH. Annur Hidayatullah
KH. Annur Hidayatullah
Punya data guru, majelis, amalan atau catatan pengajian?
Jadilah Kontributor Syaikhuna dan bantu memperkaya data dakwah di Kalimantan.