Detail Guru
KH. Muhammad Bakhiet
Tentang Guru
Kelahiran dan Silsilah Mulia
TGH. Muhammad Bakhiet dilahirkan pada Senin pagi, 19 Jumadil Awal 1386 H, di Telaga Air Mata, Barabai. Kota Barabai sendiri merupakan wilayah di Hulu Sungai Tengah yang memiliki sejarah religius kuat dan sering dijuluki sebagai "Paris van Borneo".
Beliau merupakan putra dari Syekh Ahmad Mughni, seorang ulama Wara’ yang sangat disiplin. Garis keturunan beliau menyambung langsung kepada poros keulamaan Banjar:
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan)
Syekh Syihabuddin (Wafat di Pulau Penyengat, Riau)
Syekh Muhammad Thahir (Alabio)
Syekh Isma’il (Negara)
Syekh Ahmad Mughni (Barabai)
TGH. Muhammad Bakhiet
Filosofi Nama dan Aspirasi Besar
Penamaan "Muhammad Bakhiet" mencerminkan harapan besar sang ayah agar putranya mengikuti jejak ulama global. Nama ini diambil dari Mufti besar Mesir, Syekh Muhammad bin Bakhiet al-Muthi’i, ulama terkemuka Al-Azhar yang menyusun karya monumental seperti Hasyiah al-Muthi’i. Dalam bahasa Arab, "Muhammad" berarti yang terpuji, sedangkan "Bakhiet" berarti yang sangat beruntung.
Cinta Ilmu karena Doa Ayah
Kecintaan Guru Bakhiet terhadap kegiatan mutalaah (mempelajari kitab) tidak muncul begitu saja, melainkan melalui sentuhan spiritual ayahnya. Syekh Ahmad Mughni, yang melihat putranya awalnya kurang berminat membaca, kemudian bertawasul dengan membaca kitab Tanbihul Mughtarrin karya Syekh Abdul Wahhab Sya’rani. Beliau meneladani kisah ulama terdahulu yang mendoakan anaknya agar diberi kecintaan pada ilmu. Berkat munajat yang tulus tersebut, Guru Bakhiet tumbuh menjadi sosok yang sangat gemar mempelajari kitab secara mandiri.
Disiplin Metodologis: Alfiyah sebagai Syarat
Kedisiplinan "ilmu alat" ditanamkan dengan tegas oleh sang ayah. Syekh Ahmad Mughni menetapkan bahwa Guru Bakhiet tidak diizinkan menikah sebelum berhasil menghafal Kitab Alfiyah Ibnu Malik (1.000 bait ilmu Nahwu). Untuk memotivasi, sang ayah menjanjikan hadiah sepeda motor jika hafalan tuntas. Hal ini menekankan betapa pentingnya penguasaan tata bahasa Arab sebagai prasyarat kemandirian intelektual dalam tradisi pesantren salaf.
Guru-guru Beliau
Guru-guru KH. Muhammad Bakhiet (Guru Bakhiet) sewaktu belajar menuntut ilmu adalah:
Ayahanda beliau, alm. Tuan Guru H. Ahmad Mughni
Alm. Tuan Guru H. M. Shaleh bin TG. H. Sabran
Syaikhuna Tuan Guru H. Hasan Ahmad. Dengan ulama ini Guru Bakhiet pernah ikut belajar satu kali kitab Riyadhush Shalihin.
Alm. Syaikhuna Tuan Guru H. Abdul Wahhab bin Marzuqi, seorang ulama ahli Fiqih dan Faraidh.
Alm. Al-‘Allamah az-Zahid Muassis al-Ma’had, Tuan Guru H. Mahfuz Amin
Alm. TG. H. Asri Hasyim, guru yang paling berperan.
KH. Najamuddin
TG. H. Yusri Fauzi, guru pertama Guru Bakhiet di PP Ibnul Amin.
Karakter Personal dan Khidmat kepada Umat
Karisma Guru Bakhiet bersumber dari integritas beliau sebagai ulama 'Amilin (pengamal ilmu). Beberapa karakteristik beliau yang sangat menonjol meliputi:
Menjaga Marwah (Wibawa): Beliau secara konsisten menjauhi politik praktis demi menjaga martabat ulama agar tetap menjadi oase bagi seluruh golongan tanpa terikat kepentingan sesaat.
Syafaat bagi Kaum Dhuafa: Meneladani para sufi besar, beliau menjalin hubungan baik dengan pejabat pemerintah semata-mata demi memediasi kepentingan rakyat kecil, fakir miskin, dan urusan umat.
Kesantunan Lisan: Beliau sangat berhati-hati dalam berucap dan selalu menjaga kesucian majelis ilmu dari kata-kata yang kurang pantas.