Informasi

Masuk

Manaqib Ulama

KH. Ahmad Hudhori

KH. Ahmad Hudhori
Wafat (Masehi) : 23 Agustus 2014
Wafat (Hijriah) : 27 Syawal 1435

Manaqib K.H. Ahmad Hudhori (Guru Hudari): Pendidik yang Teguh di Jalan Dakwah

Kelahiran dan Nasab Mulia

K.H. Ahmad Hudhori, atau yang akrab disapa Guru Hudari, dilahirkan di Martapura pada 8 April 1937. Beliau merupakan putra dari pasangan Ali Tuah dan Husnah.

Dari garis ibunda, Guru Hudari memiliki silsilah yang sangat mulia sebagai keturunan ke-6 dari ulama besar tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan). Garis nasab beliau adalah:

Husnah binti Syekh Abdullah Khatib bin Syekh Muhammad Shaleh bin Syekh Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Masa Pendidikan: Memilih Jalan Pesantren

Di masa kecilnya, Guru Hudari sempat mengenyam pendidikan di sekolah bentukan Belanda, yaitu Volksschool, selama tiga tahun. Seharusnya, beliau melanjutkan pendidikan formal ke sekolah Benteng.

Namun, ketertarikan beliau pada ilmu agama lebih besar. Beliau memutuskan untuk meninggalkan jalur formal Belanda dan memilih masuk ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Pada saat itu, pesantren tersebut berada di bawah kepemimpinan ulama besar K.H. Kasyful Anwar Al-Banjari.

Khidmat di Pondok Pesantren Darussalam

Setelah menempuh pendidikan sebagai santri selama kurang lebih 10 tahun, Guru Hudari lulus pada tahun 1959. Berkat kecerdasan dan ketekunannya, beliau langsung dipercaya untuk mengabdi sebagai pengajar di almamaternya sendiri pada tingkat Tahdiri.

Selama kurang lebih 18 tahun mengabdi di Darussalam, beliau juga memberikan andil besar dalam dunia dakwah di Martapura dan sekitarnya. Beliau rutin menggelar majelis taklim di kediaman pribadinya serta memimpin majelis di Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Kalampayan).

Sifat Mulia dan Kedekatan dengan Abah Guru Sekumpul

Guru Hudhori dikenal sebagai ulama kharismatik Martapura yang memiliki hubungan sangat erat dengan Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani). Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat tawadu dan murah senyum kepada siapa saja.

Kemanisan wajah dan keramahtamahan beliau meninggalkan kesan mendalam. Saking manisnya, Abah Guru Sekumpul memberikan julukan unik kepada beliau, yakni "Senyuman Seksi". Julukan ini menjadi bukti keakraban dan rasa cinta Guru Sekumpul kepada kepribadian beliau yang selalu menyejukkan hati.

Lebih dari sekadar murid, Guru Hudhori adalah salah satu orang kepercayaan. Beliau mendapatkan izin langsung dari Abah Guru Sekumpul untuk menyusun naskah manaqib Guru Sekumpul—sebuah kehormatan besar yang beliau terima setelah Tuan Guru Irsyad Zein (Abu Daudi).

Wafat

Setelah masa pengabdian yang panjang bagi umat, K.H. Ahmad Hudhori berpulang ke rahmatullah pada 23 Agustus 2014 (27 Syawal 1435 H). Beliau mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Kampung Melayu, Martapura. Beliau dimakamkan di Kubah Syekh Abdullah Khatib Tungkaran, Martapura.

Lokasi Makam

Komentar (0)

Belum ada komentar.