Manaqib Ulama
KH. Muhammad Chalid
Manaqib KH. Muhammad Chalid: Sang Pendekar, Pawang Buaya, dan Mubaligh PedalamanProfil dan Nasab Mulia
KH. Muhammad Chalid adalah seorang ulama multidimensi asal Amuntai. Beliau dikenal sebagai guru agama, penghulu, khatib, pedagang, tabib, pengamal tarekat, hingga pendekar yang berhasil mengislamkan banyak masyarakat di pedalaman Kalimantan.
Secara nasab, beliau merupakan keturunan Khatib Dayan, pendakwah asal Demak yang mengislamkan Kerajaan Banjar. Meskipun berdarah mulia, beliau selalu berpesan kepada putra-putrinya—termasuk kepada KH. Dr. Idham Chalid (Ketua Umum PBNU & Pahlawan Nasional)—bahwa kemuliaan sejati terletak pada amal bakti, bukan pada garis keturunan.
Masa Muda dan Pengembaraan di Singapura
Beliau menimba ilmu dasar di Amuntai kepada beberapa ulama, di antaranya:
Syekh Chalid Tangga Ulin (Ilmu Nahwu, Fikih, dan Tauhid).
Tuan Guru H. Abdul Qadir Panangkalaan.
Tuan Guru H. Nanang Taluk Pakacangan.
Selama 11 tahun, beliau merantau ke Singapura dan Johor. Di sana, beliau mengaji kepada seorang Sayyid alim dan menjadi wakil Syekh Said Gusti (Mekkah) untuk mengurus jemaah haji. Di Singapura pula, beliau mendalami Tarekat Rohaniyah dan ilmu bela diri tenaga dalam. Konon, kehebatan bela diri beliau sangat disegani; hanya dengan kibasan kipas, lawan bisa terpelanting.
Dakwah Unik: Berdagang dan Menaklukkan Buaya
Sekembalinya ke Kalimantan, beliau berniaga hasil hutan hingga ke pedalaman menggunakan perahu pinisi. Metode dakwah beliau sangat persuasif; beliau tidak langsung berceramah, melainkan menjalin silaturahmi melalui perdagangan.
Salah satu pintu masuk dakwah beliau yang paling fenomenal adalah kemampuannya menaklukkan buaya di daerah Setui. Saat itu, sungai dipenuhi buaya ganas yang sering memangsa manusia. Berbekal ilmu yang dipelajari saat merantau di Tembilahan (Riau), beliau membantu masyarakat menangkap buaya pemangsa tersebut.
Teknik Spiritual Menaklukkan Buaya: KH. Idham Chalid menceritakan bahwa ayahnya memulai prosesi dengan berwudhu, salat sunnah, dan membaca wirid khusus. Saat menarik pancing, beliau terus membaca ayat:
Kullu nafsin dza'iqatul maut" (Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian)
Keberhasilan beliau yang di luar nalar ini membuat masyarakat pedalaman takjub dan akhirnya memeluk Islam secara sukarela tanpa perlu dibujuk.
Kedalaman Spiritual dan Amaliah harian
Rahasia kekuatan batin beliau terletak pada keistiqamahan ibadahnya:
Bangun pukul 03.30 dini hari untuk Salat Tahajjud.
Membaca Surah An-Nur dan Surah Yasin setiap selesai salat Subuh.
Mengamalkan Ayat Tujuh dan memperbanyak istighfar.
Selalu menjaga salat di awal waktu.
Seorang ulama menjelaskan bahwa amalan Surah An-Nur (Allahu nurus samawati wal ardh) inilah yang mungkin menjadi rahasia di balik fenomena yang terjadi pada makam beliau kelak.
Wafat dan Wasiat Kerendahan Hati
Tuan Guru H. Muhammad Chalid berpulang ke rahmatullah pada malam Jumat, 12 Muharram 1374 H (9 September 1954 M). Sebelum wafat, beliau meninggalkan wasiat yang sangat menyentuh tentang kerendahan hati:
Jika terjadi sesuatu yang ajaib pada makamnya, janganlah diagung-agungkan, karena itu semata-mata rahmat Allah.
Dilarang membangun kubah atau keramat di atas makamnya. Beliau meminta nisan hanya berupa kayu atau batu bekas pijakan orang berwudhu di masjid.
Karamah: Misteri Cahaya di Makam Patarikan
Tepat pada malam Jumat, 15 September 1954 (beberapa hari setelah wafat), sebuah fenomena menggemparkan terjadi di Amuntai. Seberkas cahaya terang keluar dari bagian kepala makam beliau. Cahaya itu berbentuk seperti Bunga Tanjung, naik setinggi 5 meter, lalu membesar.
Peristiwa ini disaksikan oleh ratusan orang yang berkumpul dalam gelap tanpa lampu, sembari meneriakkan takbir dan tasbih. Fenomena cahaya ini terus berulang setiap malam Jumat selama enam bulan berturut-turut dan sempat diliput oleh surat kabar Kalimantan saat itu.
Kini, beliau dimakamkan di Desa Patarikan, Amuntai, berdampingan dengan Tuan Guru H. Zuhri Sulaiman. Makamnya yang sederhana menjadi pengingat akan sosok ulama yang gigih berdakwah dengan ilmu, tenaga, dan cahaya keikhlasan.
Nasihat KH. Muhammad Chalid kepada anaknya KH. Idham Chalid sewaktu kecil
"DALAM belajar atau mengaji itu jangan engkau menghitung berapa tahun engkau belajar, tetapi yang terpenting berapa jam dalam sehari semalam itu kau gunakan untuk belajar
Ada orang mukim di Mekkah atau di Mesir 10 tahun misalnya, tapi ia belajar 2 atau 3 jam dalam sehari atau malah kurang. Ada pula yang bermukim atau mengaji 4-5 tahun, tetapi dalam sehari ia belajar atau mengaji 7 atau 8 jam. Ternyata yang terakhir inilah yang membawa ilmu yang padat dan bermanfaat, sedangkan yang pertama hanya membawa kebanggaan saja dengan mengatakan bahwa ia telah mengaji sekian tahun".