Jejak Thoriqoh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Bagian 1 : Sebuah Catatan Historis dan Hipotesis Thoriqoh Syathoriyah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Berdasarkan beberapa manuskrip tulisan tangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ditemukan bahwa pada bagian pengenalan diri beliau, setelah beliau menyebutkan nama, kemudian mazhab beliau, kemudian akidah yang beliau anut, kemudian beliau menyebutkan thoriqoh beliau, dan beliau menisbahkan diri kepada as-Syathori (Thoriqoh Syathoriyah). Keterangan ini menjadi indikasi bahwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari memiliki keterkaitan dengan Thoriqoh Syathoriyah, lebih lebih lagi beliau adalah seorang yang berthoriqoh Syatoriyah.
Secara historis, Thoriqoh Syathoriyah merupakan salah satu Thoriqoh tertua yang berkembang di Nusantara. Dalam kajian sejarah Islam Indonesia, Syekh Abdur Rauf as-Singkili adalah seorang tokoh utama yang menyebarkan Thoriqoh ini di Nusantara dan di wilayah Aceh khususnya, sementara penyebarannya di tanah Jawa banyak disebarkan oleh murid beliau, yaitu Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ditemukan data yang secara tegas menjelaskan dari siapa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menerima ijazah atau sanad Thoriqoh Syathoriyah dan penerus Thoriqoh Syathoriyah dari beliau.
Oleh karena itu, beberapa kemungkinan dapat diajukan sebagai hipotesis sejarah yang ini hanya daripada opini penulis yang cocoklogi dengan historis yang ada, meskipun masih memerlukan pembuktian melalui penelitian manuskrip dan sumber-sumber primer yang lebih mendalam.
Hipotesis pertama adalah bahwa Syekh Muhammad Arsyad menerima Thoriqoh Syathoriyah dari Syekh Thohir al-Kurani. Dugaan ini didasarkan pada fakta bahwa sanad Thoriqoh Syathoriyah Syekh Abdussamad al-Palimbani diketahui bahwa beliau mengambil kepada Syekh Thohir al-Kurani ketika menuntut ilmu di Haramain. Mengingat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Abdussamad al-Palimbani merupakan sahabat seperguruan selama masa studi di Makkah, tidak tertutup kemungkinan bahwa keduanya memperoleh Thoriqoh tersebut dari guru yang sama.
Hipotesis kedua adalah bahwa Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menerima Thoriqoh Syathoriyah dari Syekh Abdurrahman al-Bawani, pengarang kitab Tuhfatul Ahbab dan salah seorang murid dari Syekh Abdur Rauf as-Singkili. Dugaan ini berangkat dari sebuah riwayat lisan yang disampaikan oleh salah seorang kerabat Shohibul Haul Syekh Daud al-Fathoni di Thailand, dan riwayat ini ternyata memang diceritakan di manaqibnya Syekh Daud al-Fathoni dan masyhur di daerah Fathoni. Dalam riwayat tersebut diceritakan dalam acara haul Syekh Daud al-Fathoni bahwa ketika Syekh Daud al-Fathoni menuntut ilmu di Pondok Pokpok di Fathoni, beliau bertemu dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Abdussamad al-Palimbani yang sedang dalam perjalanan menuju Makkah. Disebutkan pula bahwa sebelum melanjutkan perjalanan ke Haramain, mereka singgah terlebih dahulu di Aceh. Jika riwayat ini dapat dibuktikan kebenarannya, maka terdapat kemungkinan bahwa pada masa persinggahan tersebut Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari memperoleh ijazah Thoriqoh Syathoriyah dari lingkungan murid-murid Syekh Abdur Rauf as-Singkili, yaitu dari Syekh Abdurrahman al-Bawani.
Namun demikian, kedua kemungkinan tersebut masih bersifat hipotesis dan belum dapat dipastikan validitasnya karena keterbatasan data sejarah yang tersedia. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian lebih lanjut melalui kajian filologis terhadap manuskrip-manuskrip lama serta penelusuran sanad Thoriqoh yang lebih komprehensif.
Terlepas dari perbedaan kemungkinan tersebut, keberadaan nisbah al-Syathori dalam manuskrip Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari memberikan petunjuk kuat bahwa beliau merupakan bagian dari pengamal Thoriqoh Syathoriyah. Dengan kedudukan beliau sebagai seorang ulama besar yang sangat berhati-hati dalam transmisi keilmuan, dapat diasumsikan bahwa beliau menerima Thoriqoh tersebut melalui seorang guru yang memiliki otoritas dan kemursyidan yang sah dalam silsilah Thoriqoh Syathoriyah.
Bagian 2 : Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Thoriqoh Sammaniyah
Di kalangan masyarakat Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lebih dikenal sebagai seorang ulama yang mengamalkan dan mewariskan Thoriqoh Sammaniyah. Hal ini tidak terlepas dari kedudukan beliau sebagai murid langsung dari pendiri Thoriqoh tersebut, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim bin Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad As-Samman bin Abdullah al-Madani.
Dalam perkembangan selanjutnya, Thoriqoh Sammaniyah kembali dipopulerkan melalui dakwah dan pembinaan dari Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau lebih sering dikenal dengan Abah Guru Sekumpul, seorang ulama yang masih memiliki garis keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Beliau dikenal sebagai salah seorang mursyid yang mengembangkan ajaran Thoriqoh Sammaniyah, di mana beliau membaiat dan mengijazahkan Thoriqoh tersebut kepada para murid murid beliau lebih khususnya.
Adapun sanad Thoriqoh Sammaniyah Abah Guru Sekumpul, sepengetahuan saya ada dua jalur, jalur yang pertama yang sanadnya terhubung dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yaitu :
الشيخ الحاج محمد زيني بن عبد الغني البنجري،
عن شيخه العالم الحاج شرواني عبدان البنجري،
عن الشيخ علي بن عبد الله البنجري،
عن الشيخ زين الدين السمباوي،
عن الشيخ محمد نووي بن عمر البنتني،
عن الشيخ شهاب الدين البنجري،
عن والده الشيخ محمد ارشد البنجري،
عن شيخه العارف بالله السيد محمد بن عبد الكريم القادري الحسنى السمان المدني، ت : ١١٨٩ هـ
Jalur yang kedua
الشيخ محمد زينى بن عبد الغني البنجري،
عن السيد محمد أمين الكتبي،
عن السيد حسين عيديد
عن السيد عيدروس بن عمر الحبشي،
عن الوجيه السيد عبد الرحمن الأهدل،
عن شيخه العالم العلامة الجامع بين علم الظاهر والباطن الشيخ عبد الصمد بن عبد الرحمن الفلمباني،
عن الشيخ محمد بن عبد الكريم السمان المدني.
Dan untuk daerah Banjar sekarang yang mungkin mengijazahkan Thoriqoh Sammaniyah adalah Tuan Guru H. Munawwar Ghozali (Guru Kubah).
Adapun Thoriqoh Sammaniyah hingga masa kini masih tetap berkembang dan memiliki basis pengamal yang cukup kuat, terutama di wilayah Banjar dan Palembang. Keberlangsungan serta penyebaran thoriqoh ini tidak dapat dilepaskan dari peranan para murid langsung pendirinya, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani yang berada dari daerah tersebut Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, untuk daerah Banjar dan Syekh Abdussamad al-Palimbani, untuk daerah Palembang.
Selain itu juga Thoriqoh Sammaniyah berkembang di daerah Betawi (Ini juga karena adanya murid beliau Syekh Abdurrahman Misri, teman seperjuangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari waktu studi di Haramain) dan juga ada beberapa di daerah Jawa, ada beberapa ulama ulama pengamal Thoriqoh Sammaniyah dari jawa yang mereka mendapatkan ijazah yg bersambung kependiri Thoriqoh Sammaniyah, di antaranya :
1). Kyai Murthado bin Kyai Hasan Wira'i Kajen yang mengijazahkan kepada Kyai Madyani bin Jana, Tuban Tahun 1832 M.
2). Kyai Asnawi bin Kyai Hasan Wira'i (Saudara dari Kyai Murthado)
3). Syekh Abdul Ghofur al-Manduri (Murid langsung Syekh Semman dari Madura).
Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai sejarah dan persebaran Thoriqoh Sammaniyah di Pulau Jawa, salah satu rujukan yang dapat digunakan adalah buku yang berjudul “ Tarekat Sammaniyah di Tanah Jawa ” yang ditulis oleh Ustadz Amirul Ulum . Karya tersebut menguraikan jaringan transmisi, sanad, serta perkembangan Thoriqoh Sammaniyah di berbagai wilayah Jawa secara lebih mendalam.
Adapun jika ingin mengetahui lebih mendalam tentang Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman al-Madani, Thoriqoh dan hal hal yang berkaitan dengan beliau, bisa baca kitab
الطريقة السمانية المنهج التاريخ والمستقبل
Disusun oleh :
الشيخ الدكتور الجليل عبد الله صالح أبو الحسن
Bagian 3 : Thoriqah Syadziliyah, Thoriqah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Yang Jarang diketahui
Pada sekitar tahun 1980-an, masyarakat Banjar diketahui banyak mendatangi wilayah Bakumpai, yang kini namanya lebih dikenal dengan Marabahan, untuk memperoleh talqin dan ijazah Thoriqah Syadziliyah. Salah seorang ulama yang mengijazahkan Thoriqah Syadziliyah pada masa itu adalah Tuan Guru Qadhi H. Muhammad Basiyuni bin Qadhi H. Abu Thalhah bin Qadhi H. Abdussamad bin Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dan sanad Thariqah Syadziliyah yang beliau miliki bersambung hingga kepada datu beliau Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Selain kepada Qadhi H. Muhammad Basiyuni, sebagian masyarakat juga mengambil talqin dan ijazah Thariqah Syadziliyah kepada Tuan Guru H. Muhammad Salman bin Haji Muhammad Arif Bakumpai. Selain itu bahkan juga Tuan Guru H. Muhammad Salman diketahui ada menyusun sebuah risalah ringkas yang memuat bacaan zikir Thariqah Syadziliyah, panduan adab berzikir, serta silsilah sanad tarekat yang beliau terima dan dinisbahkan yang juga bersambung kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Dalam jalur transmisi keilmuan tersebut, Qadhi H. Muhammad Basiyuni Bakumpai dan Tuan Guru Muhammad Salman bin Haji Muhammad Arif Bakumpai, keduanya sama-sama tercatat sebagai murid dari Tuan Guru Qadhi H. Jafri Bakumpai.
Siapa itu Qadhi H. Jafri? Qadhi H. Jafri merupakan putra ketiga dari Syekh Abdussamad Bakumpai. Pendidikan awal beliau diperoleh langsung dari ayahnya, yang dikenal sebagai salah seorang ulama terkemuka di wilayah Bakumpai. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar tersebut, beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Makkah al-Mukarramah, yang pada masa itu menjadi pusat studi keislaman bagi banyak ulama Nusantara.
Selama menuntut ilmu di Makkah, salah satu guru yang tercatat pernah menjadi tempat beliau belajar adalah Syekh Ali bin Abdullah al-Banjari. Setelah kurang lebih empat tahun menimba ilmu di Tanah Suci, beliau kembali ke daerah asalnya untuk mengabdikan diri dalam bidang dakwah dan pendidikan. Di sana, beliau aktif mengajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman kepada para santri yang datang menuntut ilmu.
Di samping kiprahnya sebagai pendidik dan pendakwah, Qadhi H. Jafri juga dikenal sebagai seorang mursyid yang memperoleh otoritas dalam dua thoriqah besar, yaitu Thoriqah Naqsyabandiyah dan Thoriqah Syadziliyah.
Dalam perkembangan Thoriqah Syadziliyah di wilayah Bakumpai, beliau memiliki peran penting sebagai salah satu mata rantai transmisi (sanad) yang kemudian diteruskan oleh para muridnya. Di antara murid-murid beliau yang dikenal melanjutkan kemursyidan Thoriqah Syadziliyah adalah Tuan Guru Qadhi H. Basiyuni Bakumpai dan Tuan Guru H. Muhammad Salman Bakumpai.
lalu apa hubungan ketiga tokoh ulama tersebut dengan Thoriqah Syadziliyahnya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ? Hubungan ketiganya adalah sama sama penerus dan penyebar transmisi rantai sanad Thoriqah Syadziliyah dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
Dalam tradisi Thoriqah, kesinambungan ajaran dan otoritas spiritual diwujudkan melalui mata rantai sanad yang menghubungkan seorang mursyid dengan para pendahulunya sampai kepada pendiri Thoriqahnya. Adapun sanad Thoriqah Syadziliyah mereka yang bersambung sampai kepada Syekh Muhammad Arsyad adalah
1). Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari
2). Mufti Syekh Jamaluddin al-Banjari
3). Syekh Abdussamad Bakumpai
4). Syekh Abu Thalhah Bakumpai
5). Tuan Guru Qadhi H. Jafri
6). Tuan Guru H. Muhammad Salman dan Qadhi Tuan Guru H. Muhammad Basiyuni.
Dari sini dapat kita ketahui bahwa Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, tidak hanya seorang pengamal dari Thoriqah Syathoriyah dan Sammaniyah, tetapi juga pengamal dari Thoriqah Syadziliyah. Bahkan sebagian dari kita terlebih orang banjar kebanyakan hanya mengetahui bahwa Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari adalah seorang Sammani (Pengamal Tarekat Sammaniyah) namun dari data data yang telah didapatkan, beliau tidak hanya Sammani, tetapi juga Syathori dan Syadzili.
والله أعلم
Martapura, 12 Juni 2026.