MUALLIM HUSIN NAIK HAJI (KISAH 24 KALI BERHAJI GRATIS)
MUALLIM HUSIN NAIK HAJI (KISAH 24 KALI BERHAJI GRATIS)
“ALLAH tidak memanggil mereka yang mampu, tapi memampukan mereka yang terpanggil”, demikian kata Ibrahim bin Adham.
Seorang ulama dari Martapura menuturkan, seseorang bisa berhaji dan berumrah melalui salah satu dari tiga jalur; yaitu nisab, nasab, dan nasib.
Pertama, jalur nisab, artinya seseorang bekerja, mengumpulkan uang sehingga dapat menyetor ONH dan hal-hal lainnya, cukuplah segala sesuatu yang diperlukan dalam keberangkatannya itu; ini namanya sampai nisab.
Kedua, ada seseorang yang berangkat ke Mekkah, padahal ia tidak mempunyai apa-apa dari segi materi, tetapi ia diberangkatkan oleh salah seorang keluarganya, mungkin mertua, mungkin menantu, atau hubungan kekerabatan lainnya. Orang ini mampu lah berangkat ke Mekkah, jalur ini disebut jalur nasab (lantaran keluarga).
Ketiga, jalur nasib, orang seperti ini ada-ada saja sebab yang membawanya kesana. Barangkali Mufti Kesultanan Banjar Tuan Guru Besar Haji Husin Naparin termasuk orang yang datang ke Mekkah melalui jalur yang ketiga ini, yaitu jalur nasib.
Beliau termasuk orang yang sangat beruntung. Bayangkan, pada tahun 1973-1974, dengan waktu yang relatif singkat hanya beberapa bulan Muallim Husin studi di Al-Azhar, beliau mendapatkan ijazah Lc. Bukan saja beliau yang senang dan gembira, tetapi masyarakat Banjar di Kairo juga senang dan gembira; beliau diberangkan haji oleh H. Bakran, anak angkat dari pengusaha emas di Mekkah yang bernama H. Muhdar.
Pada tahun 1975, penerima Syahadah Fakhriyyah dari Presiden Mesir ini diberangkatkan haji oleh Al-Azhar mewakili mahasiswa Indonesia yang ada di pemukiman mahasiswa yang bernama Madinah al-Bu’uts al-Islamiyyah; ia merupakan perkampungan mahasiswa putera Al-Azhar yang memiliki 45 gedung, setiap gedung memiliki 60 orang yang terdiri dari 3 tingkat pada setiap gedungnya. Haji Husin dianggap sebagai mahasiswa yang berprilaku baik di asrama; beliau tinggal d building no.14 tingkat 1 kamar nomor 8.
Pada tahun 1977 beliau berangkat ke Saudi untuk menjadi pegawai musim haji; tentu naik haji. Pada tahun itu ibu dan adik kandung beliau H. Ahmad Husaini juga naik haji dengan jalan ibadah umrah di bulan Ramadhan yang dilanjutkan dengan haji. Biayanya keduanya ditanggung Kyai Husin, hasil kerja beliau sebagai pegawai musim dan kerja saat musim panas di negeri Belanda selama 6 bulan sebelumnya pada waktu liburan kuliah; ini berarti haji beliau yang ketiga.
Setelah itu beliau menetap di Saudi sebagai pegawai musim dan lokal staf yang pada setiap tahunnya beliau ikut berhaji s.d. 1983, berarti berjumlah 9 kali. Tahun 1993 waktu itu haji akbar. Sesudah itu beliau pulang ke Indonesia. Di dalam hati, beliau berpikir inilah haji yang terakhir dan barangkali tidak akan pernah lagi pergi ke Mekkah.
Setelah beliau berada di tanah air, pada tahun 1992 ditugaskan sebagai salah seorang TPHD (Tim Pembimbing Haji Daerah). Ternyata pada tahun 1996, beliau ditunjuk lagi mengkoordinir para TPHD dari Kalimantan Selatan yang bertugas di Saudi. Ini pada masa pemerintahan Gubernur Ir.H.M.Said. pada tahun 1998, masa Gubernur Hasan Aman beliau ditunjuk lagi menjadi salah seorang TPHD. Dengan demikian, Muallim Husin berhaji dari Indonesia sebanyak 3 kali, maka haji-nya berjumlah 12 kali.
Pada tahun 2002, maraklah haji plus yang diselenggarakan oleh Travel haji. Maka ada satu travel yang menugaskan beliau untuk menjadi pembimbing ibadah haji, yaitu PT. Kaltrabu Indah Tour yang dipimpin oleh Ibu H. Marwiyah Zumri. Sejak itu Pengasuh Ponpes Rakha ini menjadi pembimbing ibadah haji di Travel tersebut, setiap tahunnya beliau berangkat haji bersama jamaah travel ini sampai tahun 2015. Ketua Umum Majelis Ulama ini dua kali absen tidak berangkat, karena beiau bertugas sebagai Ketua Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Jika dihitung dari tahun 2002 sampai 2015, dikurang 2 kali absen, maka dengan travel ini beliau berhaji sebanyak 12 kali; sehingga jika dijumlah maka beliau berhaji sebanyak 24 kali.
Hal ini beliau tuturkan sebagai tahadduts bin ni’mah; semua haji beliau itu melalui jalur nasib, ada-ada saja jalannya. Tahun 2016, Pak Kyai Husin merasa letih tidak mampu lagi membimbing jamaah secara purna maka beliau tidak berangkat haji; pimpinan ibadah haji beliau serahkan kepada sang adik Drs. H. Ahmad Husaini, M.Ag.
Adapun berumrah, beliau tidak pernah menghitungnya. Pada bulan Ramadhan 1437 H (2016) beliau diajak oleh travel Kaltrabu Indah untuk berumrah di Bulan Ramadhan s.d. hari raya. Namun beliau tidak bisa memenuhinya karena tidak sampai hati meninggalkan jamaah mesjid jami pada hari raya idul fitri yang sepertinya setiap tahun menunggu-nunggu khutbah beliau.
Lagi-lagi karena nasib, sesudah hari raya, Guru Husin dibawa oleh anak angkatnya Drs. H. Muhammad Ismail Ibrahim, pemilik travel haji plus yang diberi nama PT. Saidi Putra Tour. Beliau datang ke Mekkah bukan dengan visa haji dan umrah tetapi dengan visa khusus mengurus barcode; yaitu mengurus persiapan jamaah haji yang diatur oleh PT tersebut. Setiap PT mendapat jatah 2 orang, maka salah satunya beliau.
Alangkah beruntungnya nasib beliau, bisa berhaji 24 kali, dan berumroh tak terhitung banyaknya. Apa amaliahnya? Tentu sangat banyak. Beliau rajin berjamaah di masjid, rutin tahajud, dhuha, baca Alquran dan sejumlah amaliyah sunat lainnya.
Jika seseorang tidak mampu ke Makkah karena ongkosnya selalu naik, sehingga dikatakan naik haji, tidak pernah orang berkata turun haji, dia bisa mendapatkan pahala haji dan umrah di setiap hari, dengan syarat : 1) Salat Subuh berjemaah. 2) Duduk berdzikir sampai matahari terbit. 3) Salat dua rakaat.
Nabi SAW bersabda, man shallal-fajra fi jama atin, tsumma qa ada yadzkurullaha ta ala hatta tathlu asy-syamsu, tsumma shalla rak ataini, kanat ka ajri hajjatin wa umratin, tammah tammah tammah.
Artinya, Barang siapa mendirikan salat Subuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir mengingat Allah SWT, kemudian ia salat dua rakaat, ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna. (HR Tarmidzi, hadist hasan).
Semoga kita dipanggil Allah ke rumah suci-Nya. Allahumma yassir lana ziyarata Makkata wal Madinah bi barkati Sayyidina Muhammadin Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Semarang, 5 Januari 2016
Nur Hidayatullah